Thursday, 23 September 2021


Konsumsi Jagung Turunkan Risiko Penyakit Kronis

13 Sep 2021, 10:06 WIBEditor : Gesha

Makan jagung menyehatkan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Sebagai sumber penting  makronutrien,  jagung tak hanya cocok dijadikan sebagai pangan pokok,  tetapi juga dapat menurunkan risiko terserang berbagai penyakit kronis jika secara rutin dikonsumsi.

Pakar Gizi dari IPB University, Prof. Ahmad Sulaeman, dalam acara Webinar  bertema “jagung Pangan Sumber Karbohidrat Kaya Manfaat”  yang diselenggarakan  Badan Ketahanan pangan Kementan bekerja sama dengan Tabloid Sinar Tani, mengemukakan bahwa jagung merupakan salah satu bahan pangan utama dunia dan menjadi bahan pangan pokok di beberapa kawasan.

Sejarah mencatat, di era Presiden Soekarno jagung pernah dikampanyekan sebagai pengganti beras. Saat ini pun di beberapa daerah di Indonesia jagung masih dijadikan masyarakat  setempat sebagai salah satu bahan pangan pokok.  “hal itu disebabkan kandungan gizi jagung sangat komparabel dengan bahan pangan pokok lain seperti  beras dan gandum,” jelas  Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia tersebut.

Ia menilai tren konsumen saat ini telah berubah dalam hal filosofi makan dimana  mulai dikenal paradigma “ food as medicine “ serta memilih jenis pangan nabati.  Hal ini akan menjadikan komoditas jagung sebagai pangan pilihan karena sebagai pangan sehat, jagung  dapat dikombinasikan dengan bahan pangan lain sehingga  tercipta menu beragam dan bergizi seimbang untuk dikonsumsi sehari-hari.

Prof. Ahmad Sulaeman menekankan bahwa jagung mempunyai sejumlah keunggulan dibandingkan dengan nasi.  Sebagai bahan pangan,  jagung mempunyai  indeks glikemik (IG) yang rendah  yakni sebesar 46, jauh lebih rendah dibanding  nasi yang IG nya mencapai  73.” Artinya jagung itu  sangat bersahabat dengan penderita diabetes,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, susunan asam amino jagung cukup lengkap, namun umumnya jagung biasa sangat kekurangan asam amino Lysin dan tryptophan sehingga kualitas gizinya lebih rendah dibanding nasi. Namun jagung jenis baru yang dikenal “Quality Protein Maize (QPM) kandungan lysin dan tryptofannya lebih tinggi . Dengan demikian mutu gizi protein jagung QPM lebih tinggi (82persen) dari mutu gizi protein nasi (79 persen).  

Jagung mempunyai profil gizi dan fitokimia yang unik bila dibandingkan dengan jenis biji-bijian lainnya. Zat gizi dan fitokemikal jagung meliputi  :  Vitamin (A,B,E dan K), Mineral (Mg,P dan K), asam-asam fenolat , karotenoid   (termasuk beta-caroeten) dan flavonoid juga  kandungan serat .

Jagung juga mengandung asam lemak esensial  yakni  omega 3 dan omega 6 dalam bentuk asam linoleate dan linolenat. Semakin banyak  bukti ilmiah yang menurut Prof Ahmad Sulaeman , menunjukkan bahwa konsumsi jagung utuh  secara teratur dapat menurunkan risiko berkembangnya penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular , diabetes tipe 2 dan obesitas serta dapat pula memperbaiki kesehatan pencernaan.

Karena bebas gluten maka jagung sangat baik untuk menjaga kesehatan organ pencernaan . “Mengandung serat tinggi serta  kandungan lemak yang rendah maka jagung sangat baik dikonsumsi kalangan lanjut usia,” tuturnya. Kian tingginya prevalensi  diabetes, obesitas , penyakit kardiovaskular dan sindrom  metaboloic lainnya di masyarakat  dipandang Prof Ahmad Sulaeman semakin  meningkatkan kegiatan riset untuk mengembangkan varietas jagung baru serta keinginan menciptakan bahan baku berbasis jagung dengan nilai gizi dan sifat-sifat fungsional yang diperbaiki.

Suatu hal yang cukup menggembirakan karena belakangan semakin tinggi minat masyarakat untuk mengkonsumsi bahan pangan berbasis jagung. “Yang menjadi tantangan kita bersama adalah bagaimana agar semakin banyak dihasilkan produk pangan berbahan baku jagung yang dapat diterima masyarakat banyak,” tandasnya.    

Reporter : Ika Rahayu
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018