Sunday, 24 October 2021


Ie Bu Peudah, Bubur Pedas Khas Aceh yang Kian Langka

11 Oct 2021, 14:39 WIBEditor : Gesha

Ie Bu Peudah, bubur pedas khas Aceh | Sumber Foto:Wego Travel

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh --- Milenial sekarang mungkin jarang yang mengetahui makanan tradisional daerahnya. Salah satunya adalah Ie Bu Peudah atau bubur pedas nikmat khas Bumi Serambi Mekah. 

"Ie Bu Peudah merupakan makanan khas tradisional Aceh. Selain rasanya yang penuh sensasi, juga bisa dijadikan sebagai menu pilihan bagi tamu yang berkunjung ke Aceh, " ungkap pegiat/pemerhati sosial dan lingkungan, TM Zulfikar. 

Umumnya semua penganan khas Aceh enak dan sangat digemari. Pasalnya semua bahan dan bumbu yang diracik sesuai dan terasa cocok di lidah masyarakat Aceh. 

Saat ini sudah banyak yang menggemari Ie Bu Peudah, tapi makanan tersebut semakin sulit kita temui. "Ie Bu Peudah ini biasanya cuma ada saat bulan puasa Ramadan saja sebagai penganan berbuka puasa. Atau pada acara khusus yang digelar oleh masyarakat, " tuturnya. 

Untuk itu, dia mengharapkan makanan tradisional Aceh perlu dilestarikan, baik melalui edukasi dan pembelajaran khusus kepada milenial Aceh penerus masa depan. "Ini penting sambungnya sehingga bisa tetap lestari dan yang pasti kita bisa menikmatinya hingga akhir masa kelak," cetusnya. 

TM Zulfikar yang juga mantan Direktur Walhi Aceh mengatakan dalam upaya melestarikannya perlu keterlibatan peran pengelola resto untuk menyajikan sebagai menu opsional. Walaupun memang ada salah satu resto yang menyajikan Ie Bu Peudah di Cafe Aceh Tamiang, Stui. "Namun sebaiknya ada juga yang khusus menyediakan makanan tradisional Aceh yang lebih lengkap," ungkap kandidat Doktor di USK Banda Aceh.   

Sehingga lanjut dia, kerinduan kita terhadap makanan tersebut akan terobati. Hal ini juga butuh dukungan dari Dinas dan instansi terkait yang berhubungan dengan sektor budaya, wisata, industri dan perdagangan.

Penuh Gizi

Sementara itu, Ketua Pergizi Pangan Aceh, Dr Iskandar Mirza menyebutkan, Ie Bu Peudah banyak mengandung gizi dan sensasi, masakan khas ini sering ada saat Ramadhan. Eksistensinya, saat ini hanya sebahagian warga di beberapa kecamatan saja yang handal dan tau cara memasaknya. "Namun mirisnya di gampong lain justru sudah jarang yang bisa mewarisinya," ujarnya. 

Ie Bu Peudah (bubur pedas) racikan menunya menggunakan rerempahan Awëuh 44 yang kaya herbal dan menjadi alternatif obat - obatan di Aceh seperti Peundang, Langkwueuh, Manjakani, Ôn Saga, Haliya, Jeura Manéh dan lain sebagainya.

Menurut Mirza yang juga ahli gizi masyarakat menyebutkan orangtua dahulu tidak tahu bahwa khasiat Ie bu peudah memiliki nilai fungsional yang mampu menambah stamina, anti tumor, anti septic, anti lepra dan baik untuk jantung, asma, dan lambung. Tetapi mereka dahulu tahu bagaimana makanan mampu menjadi obat sekaligus hemat biaya. "Makanya, dulu orang Aceh memiliki fisik yang kuat dan pikiran yang sehat," tandasnya.

Berbeda dengan sekarang, kita dijajal dengan sederet makanan impor nan "aneh" lainnya dengan zat kimia tinggi. "Tugas kita sekarang bagaimana cara mengkampanyekan agar bangga dengan produk sendiri," ujarnya bersemangat. 

Target kita kedepan Ie Bu Peudah tidak hanya untuk masyarakat lokal tapi juga disajikan kepada setiap tamu yang datang ke Aceh. menjadi pengingat agar makanan Aceh. Bila perlu kata dia kita melakukan evaluasi dan prevalensi agar makanan Aceh menjadi makanan nasional. 

Untuk itu kita perlu menyesuaikan formulasi agar makanan tradisonal Aceh menjadi lebih menarik. Termasuk juga menyiapkan bumbu siap saji, dari formulasi ini nantinya bisa saja dimodifikasi melalui Pergizi Pangan Aceh dengan berbagai varian rasa. "Bila perlu bahan dasarnya bisa digunakan dari beras Inpari Nutri Zinc, sehingga nilai fungsionalnya itu tidak hilang," pungkasnya.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018