Wednesday, 01 December 2021


Berbahayakah Konsumsi Minyak Jelantah ?

31 Oct 2021, 18:03 WIB

Ketua Pergizi Pangan Aceh Dr. drh Iskandar Mirza MP | Sumber Foto:Abda

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh --- Masyarakat di Aceh sebagian besar masih mengunakan minyak goreng berulang kali. Bahkan ada juga kebiasaan warga Aceh di kampung-kampung yang mengkonsumsi nasi dengan minyak jelantah. Berbahayakah?

Kebutuhan minyak goreng tak bisa dipisahkan dengan kegiatan rumah tangga. Sebagian besar kaum ibu dalam memasak tak luput dengan minyak goreng. Begitu juga sebagian besar pedagang gorengan setiap hari menggunakan minyak goreng. "Kita tak sadar akan bahaya terhadap kesehatan," ungkap Dr Iskandar Mirza ketua Pergizi Pangan Aceh kepada tabloidsinartani.com saat wawancara. 

Minyak yang sudah dipakai berkali-kali akan jadi sarang untuk perkembangbiakan berbagai jenis bakteri. Salah satunya yaitu Clostridium botulinum. Selain bakteri, minyak jelantah juga jadi sumber radikal bebas. Radikal bebas akan ikut terserap ke dalam makanan yang digoreng, masuk ke dalam tubuh Anda, dan menyerang sel-sel dalam tubuh. Zat tersebut akan menjadi karsinogen, penyebab kanker.

Pergizi Pangan Aceh kata dia, sudah sepatutnya memberikan edukasi kepada masyarakat. Penggunaan minyak goreng berulang kali (minyak jelantah) bisa berakibat buruk terhadap kesehatan. Karena dalam minyak jelantah banyak mengandung radikal bebas. Radikal bebas ini bisa memicu terjadinya aterosklerosis, kerusakan jantung dan fungsi hati. "Kita tengah gencar memberikan penyadaran bagi masyarakat terhadap resiko mengkonsumsi minyak jelantah," tambah Mirza yang juga mantan peneliti BPTP Aceh. 

Lantas apakah lebih baik dibuang?Pembuangan minyak jelantah juga bisa menyebabkan pencemaran lingkungan khususnya tanah dan air. Minyak jelantah ini bisa menyebabkan bau kurang sedap dan berasal dari terurainya minyak jelantah menjadi senyawa kimia lain yang menjadi penyebab bau dan yang membuat perubahan warna. Biasanya limbah yang berubah ini menjadi warna kuning kecoklatan, bahkan hitam.

Pergizi Pangan Aceh menghimbau agar masyarakat lebih peduli terhadap bahaya pencemaran lingkungan dan kesehatan. Mulai sekarang mari mengubah untuk pola yang hidup lebih sehat dari keluarga. Walaupun pencemaran lingkungannya relatif kecil, tapi paling tidak kita sudah memberikan kontribusi untuk Aceh yang lebih hebat kedepan.

Olahan Lanjut

Kata Mirza, minyak jelantah sebenarnya masih bisa diproses kembali untuk biodisel dan bahan pembuatan sabun. Apalagi potensi minyak jelantah ini cukup banyak dihasilkan baik dari hotel, rumah sakit, restoran bahkan dari pedagang kaki lima. Karena kita tidak tahu manfaatnya, akhirnya minyak jelantah banyak terbuang.

"Padahal jika ini dikumpulkan bisa diproses untuk produk rumah tangga dan industri, seperti lilin, sabun dan juga untuk biodisel," bebernya. 

Di luar negeri umumnya masyarakatnya sangat peduli terhadap lingkungan. Walaupun harganya mahal dibandingkan dengan jenis bahan bakar lainnya, tapi mereka cenderung menggunakan biodisel karena emisi karbonnya rendah.

Untuk prosesing awal bisa saja dilakukan di dalam negeri karena tidak perlu menggunakan teknologi canggih (hightech). "Sementara intermediate productnya baru kita ekspor untuk prosesing akhir," ungkitnya.

Teknologi ini sudah umum di Indonesia juga sudah mampu untuk melakukannya, namun kita belum familiar menggunakan biodisel. Hal ini karena harganya lebih tinggi, sedangkan konsumen mencari harga murah bukan yang paling aman.

Ia mengharapkan dengan adanya sosialisasi di Gampong Kota Baru kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh dapat menjadi model untuk pengembangan bagi daerah lainnya. Hendaknya gampong bisa melakukan aksi nyata untuk setiap keluarga dan masyarakatnya. "Pihaknya akan membeli dari masyarakat Rp 5.000 karena dikelola oleh desa, fee untuk gampong Rp 1.000 per kilogram," sebutnya. 

Hitung-hitungannya, jika setiap RT menggunakan minyak goreng 2 kg/bulan minimal akan menghasilkan 1/4 kg jelantah. Fokus kita bukan untuk kesehatan saja, tapi ada nilai bisnis juga. "Jika program ini mampu dikelola seluruh gampong di Aceh, dapat menumbuhkan sektor ekonomi yang dimulai dari keluarga," timpalnya.

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018