
Cinta pangan lokal, kenyang ngga harus nasi
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pola makan generasi Z dan kaum milenial membuat prihatin ahli gizi. Terlihat dari generasi muda yang terkena serangan penyakit seperti tekanan darah tingg dan diabeter diusia muda.
Keprihatinan tersebut diungkapkan Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes nutrisionis atau ahli gizi saat talkshow “Lokal Rasa Global” saat Penganugerahan Lomba Kreasi Pangan Lokal Nusantara (KPLN) 2021, beberapa waktu lalu.
“Menarik bicara nasi. Saya lihat teman-teman milenial adalah orang orang multitasking. Mereka jauh lebih pintar dari saya dulu, tetapi sesuatu yang mengganggu saya sebagai nutrisionis adalah bahwa masalah gizi pada generasi Z dan milenial itu cukup memprihatinkan,” tuturnya.

Rita mengungkapkan satu fakta bahwa hasil riset kesehatan dasar Indonesia menyatakan generasi muda usia 15 tahun sudah banyak yang mengalami peningkatan tekanan darah dan peningkatan kadar glukosa darah.
Jika dirunut apa hubungannya dengan adanya peningkatan penyakit tersebut di usia 15 tahun. Padahal penyakit tersebut dahulu banyak diderita orang tua kita yang hadir ketika masuk usia 60 tahun dengan adanya daya penurunan fungsi tubuh.
“Hari ini tidak demikian, ternyata Litbangkes menyatakan penyebab utamanya adalah perubahan pola makan. Nah itu dia, lalu kita lihat pola makanan apa yang ada pada makanan kekinian? Kita temukan faktanya semuanya adalah tinggi gula, tinggi garam, tinggi lemak, rendah serat, rendah mikronutrien cukup memprihatinkan,” ujarnya.
Rita mempertanyakan, mengapa pangan lokal kita yang sesungguhnya kaya mikronutrien, tapi anak-anak milenial dan Z justru mengonsumsi makanan yang mikronutriennya rendah. Jika dibandingkan, maka nasi putih dengan kentang, jagung, ubi merah, singkong sama-sama mengandung karbohidrat yang bisa memenuhi kebutuhan manusia.
Menurutnya, jika kita mengonsumsi karbohidrat dari ubi, jagung dan singkong, maka insulin tidak merespon berlebihan dan meresponsnya biasa. Namun jika mengonsumsi nasi putih atau gandum (mie), maka insulin meresponsnya jauh lebih tinggi, sehingga menyebabkan penyakit diabetes melitus dan tekanan darah tinggi.
“Kalau yang masuk itu kentang, ubi merah, singkong, respon insulinnya rendah dan kadar kaliumnya tinggi,” katanya. Kalium tinggi itu lanjut Rita dapat melakukan natriosis atau pengeluaran natrium dari tubuh kita.
Jadi menurut Rita bagi pencinta makanan gurih dan asin, kandungan natirum di tubuh akan tinggi, sehingga membuat pembuluh darah menjadi tidak fleksibel, sehingga terjadi peninkatan tekanan darah. Karena itu, kalium dalam ubi, singkong dan kentang akan membantu mengeluarkan natrium melalui urine, sehingga terjadi keseimbangan.
“Kalau tidak mendapatkan kalium pasti tekanan darahnya tinggi,” ujaranya. Jadi Rita menilai, pola konsumsi masyarakat Indonesia ada yang salah. Hal itu bisa diminimalkan, paling tidak dengan makanan lokal yang ada.
Rita juga mengingatkan, sangat penting membaca informasi kandungan gizi untuk bisa memastikan apakah pangan olahan tersebut telah mengandung zat gizi yang dibutuhkan. Selain itu, tidak mengandung gula, garam dan lemak berlebih yaitu tiga zat yang saat ini telah berlebihan dikonsumsi masyarakat Indonesia.
“Asupan gula, garam dan lemak berlebih merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit tidak menular yang angkanya terus meningkat pada masyarakat Indonesia,” paparnya.