
Nasi Jinggo Bu Utik depan Puskesmas Kebagusan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Nasi Jinggo merupakan salah satu makanan khas Bali yang dibungkus dengan daun pisang dan dalam porsi kecil. Sekilas bila dilihat mirip dengan nasi kucing (angkringan) khas Yogjakarta.
Namun, ketika bungkusnya dibuka, pemandangan semacam suwiran ayam, serundeng, tumis buncis dan mie goreng serta cita rasa sambal khas akan menggelitik nafsu makan penikmatnya. Selain itu, nasi Jinggo dibungkus berbentuk kerucut lancip.
Berbeda dengan nasi kucing dengan sambel terinya, nasi Jinggo populer dengan sambal Bali yang super pedas menggoyang lidah. Adalah Utik Suryani Ningsih yang menekuni bisnis nasi Jinggo.
Menjadi tulang punggung keluarga, pasca sang suami dipanggil Illahi, wanita yang beralamat di Jalan Jatipadang Gang Shalihan RT 05/04 Jatipadang, Pasar Minggu ini menjajakan nasi Jinggo. Utik berjualan di Jalan Mursid Jagakarsa.
“Alhamdullillah dagangan saya selalu habis diburu pembeli. Mungkin karena hanya ada satu penjual Nasi Jinggo di jalan Kebagusan-Jagakarsa Jakarta Selatan ini,” katanya kepada tabloidsinartani.com.
Utik bercerita, ide menjual nasi Jinggo ini muncul dari temannya yang kebetulan berasal dari Bali. “Mulai dari situ saya konsisten jual nasi Jinggo, dengan harga dari Rp 10 ribu dan Rp 15 ribu ditambahkan dengan telur bulat,” ujarnya. Selain menerima pesanan, Utik mengaku menjual 35-45 bungkus/hari
“Alhamdulillah keluarga sangat sangat mendukung. Karena dari hasil jualan ini saya bisa menghidupi kedua anak saya lebih baik lagi,” katanya. Menurutnya, seberat apapun cobaan, memang harus dihadapi dengan sabar dan sholat. “Alhamdulillaah penghasilan kotor saya per minggu kurang lebih Rp 2,5 juta usaha nasi Jinggo,” ujar ibu dari dua anak ini.
Mau icip nasi Jinggo bisa ke Jalan Mursid Jagakarsa tepatnya didepan Puskesmas Kebagusan atau bisa Pesan via Wa ke ibu Utik di nomor 085881989261.
Mengenal Nasi Jinggo
Jika melihat sejarahnya, memang tidak ada catatan atau pun dokumentasi lainnya terkait asal mula nasi Jinggo. Seperti halnya kebudayaan khas Indonesia yang lain, asal usul nasi Jinggo diketahui dan diwariskan dari mulut ke mulut. Beberapa versi juga bermunculan, menambah daftar referensi asal usul Nasi Jinggo yang legendaris ini.
Versi pertama turut menyumbang nama bagi panganan ini. Dalam bahasa Hokkien, jeng go berarti ‘seribu lima ratus’. Nah, sebelum krismon di penghujung tahun 1997, nasi Jinggo dijual per porsi hanya Rp.1.500. Tak heran apabila makanan ini dinamakan nasi jenggo atau jinggo.
Masyarakat Bali meyakini bahwa nasi Jinggo pertama kali hadir di tahun 1980-an, tepatnya di Jalan Gadjah Mada, Denpasar. Nasi Jinggo ini dijual oleh Pak Jinggo dan istrinya, yang berjualan dari sore hingga malam.
Versi ketiga menerangkan bahwa asal mula kata jinggo berawal dari kepopuleran sebuah film berjudul “Djanggo” pada masa itu. Namun, tidak banyak yang mengiyakan versi ketiga ini. Penasaran?