Monday, 08 August 2022


Memetri Tradisi Tani, Cara Petani Bergas Lor Kembalikan Keseimbangan Alam

08 Jul 2022, 10:00 WIBEditor : Herman

Memetri Tradisi Tani Desa Bergas Lor Semarang | Sumber Foto:Djoko W

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Mengembalikan harmoni alam dalam budidaya pertanian sedang diupayakan dan digerakkan di Desa Bergas Lor, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Memetri (menjaga) tradisi bertani warisan leluhur yang diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan alam.

Dampak pertanian modern yang kurang bijaksana telah lama dirasakan petani. Mulai dari hasil panen yang tak meningkat bahkan semakin berkurang, hama dan penyakit tanaman merajalela, hingga kebutuhan pupuk dan pestisida kimia semakin banyak. 

Muara dari permasalahan yang muncul tersebut adalah nilai penghasilan dari sektor pertanian dirasa kecil, sehingga kurang menarik bagi angkatan muda untuk menggeluti bidang pertanian. Jika tidak ada regenerasi maka sistem pertanian akan hancur, ketahanan pangan rakyat akan menjadi persoalan besar dan mendasar, karena ini berkaitan dengan kebutuhan pokok untuk hidup warga masyarakat.

Tiga tokoh lokal dibelakang layar gerakan budaya Memetri Tradisi Tani adalah Sidik Gunawan, seorang seniman alam, pegiat budaya dan wisata, dan pelukis Pari Corek,  Ihwanudin, ketua Pokdarwis desa Bergas Lor dan Subroto seorang pegiat budaya Jawa. Ketiganya bersepakat untuk mendongkrak hasil pendapatan dari sektor pertanian, melalui perbaikan budaya bercocok tanam dan wisata alam pesawahan serta pedesaan.

 

Dalam hal bertani padi, mereka berpendapat bahwa dewasa ini sebagian besar petani hanya melakukan secara teknis tatalahir saja. Tradisi leluhur berupa ritual-ritual yang menyertai sejak butir-butir benih padi disebar, tanam, fase primordia panen sampai menyimpan padi dilumbung telah ditinggalkan.

Sedangkan ritual-ritual tersebut justru merupakan upaya mengharmonisasi alam dengan budidaya petani. “ Sesaji-sesaji itu bukan untuk memberimakan setan, tapi merupakan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, diwujudkan dalam bentuk-bentuk makanan atau bahan-bahan, yang merupakan bahasa perlambang”. Kata Subroto.

Mereka sangat terinspirasi dengan pola bercocok tanam masyarakat Baduy di Banten dan  Sedulur Sikep di Blora yang masih sangat tradisional dan memegang adat leluhur, tetapi berhasil memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Bahkan kabarnya masyarakat Baduy mempunyai setidaknya 4000 leuit (lumbung padi) dengan rata-rata menyimpan  4 ton per leuit, jika diakumulasikan menjadi 160 ribu ton.Jumlah penduduk Baduy sebanyak 11.000 jiwa. Jadi padi yang disimpan 30 tahun lalu masih ada.

Demikian juga yang terjadi pada masyarakat Sedulur Sikep di Blora. Nilai-nila ipandangan hidup yang jauh tertanam dalam paguyuban Sedulur Sikep ini membuat hasil pertanian jadi bagus karena antara yang kasar dan halus telah berdamai. Hidup harmoni dengan alam seperti menrespon semua hal tersebut.  

Gerakan mengembalikan tradisi telah dilaksanakan dalam even budaya pada tanggal 28 Juni.2022. Kegiatan budaya yang berupa pameran lukisan “Pari Corek”, pentas seni, tradisi ritual bercocok tanam padi, lomba-lomba mengenang Bung Karno itu diberitema “MELALUI SENI KITA (H)E(A)LING PENDIRI NEGERI “. Kegiatan ini juga dalam rangka menyambut bulan Pancasila.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berkenan hadir dan terlibat dalam acara memetri budaya bercocok tanam padi tersebut. Dalam sambutannya, Ganjar mengapresiasi kegiatan yang dilakukan masyarakat, pegiat seni budaya, pegiat wisat adala menyambut bulan Pancasila. .

“Amalkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari, tetap menjadi masyarakat yang toleran, masyarakat gotong royong, suka membantu tetangga kiri kanan, selalu berbuat adil dan selalu bersatu” pesannya.

Untuk mengembangkan desa Bergas Lor sebagai desa wisata, telah direncanakan dalam waktu dekat mereka berencana akan memperbaiki tampilan gubug-gubug reyot petani. Gubug itu biasanya hanya berupa bangunan seadanya dari bamboo dan jerami, dan digunakan untuk menunggu tanaman, menghalau burung

Kedepan direncanakan gubug-gubug tersebut akan direnovasi menjadi gubug yang representative dan bersih, sehingga laku disewakan untuk duduk-duduk menikmati udara segar

Ihwanudin, ketua Pokdarwis “Dewi Sri” bersama Subroto, pegiat budaya Jawa dan Sri Gunawan, ketika ditemui mengatakan bahwa desa Bergas Lor mempunyai pemandangan alam yang cukup memikat, udara yang masih segar, sebagai potensi alam. Disamping itu di desa ini juga banyak mempunyai grup-grup kesenian tradisional yang pelaku seninya terbilang masih muda-muda.

Sehingga potensi alam dan budaya didesa tersebut memang masih terbuka lebar. Ikon istimewa yang telah dimiliki adalah seni kreatif “Pari Corek” ciptaan Sidik Gunawan. Belakangan dia telah merekrut anak-anak muda untuk bergabung dalam sanggar seninya.

Dengan adanya embung, nantinya potensi pertanian dapat dikembangkan untuk menanam buah-buahan dan sayuran bernilai ekonomi tinggi, sekaligus sebagai ikon baru desa wisata.

Disamping itu mereka juga konsisten untuk mengangkat event-event budaya lokal, kesenian rakyat dan juga budaya local khususnys yang berkaitan dengan ritual bercocok tanam padi. Upacara ritual tersebut dapat dikemas sebagai tontonan dan hiburan masyarakat.

Reporter : Djoko W
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018