Minggu, 14 April 2024


Mohibadaa, Ritual Kecantikan Wanita Gorontalo di Bulan Suci Ramadhan

08 Mar 2024, 10:35 WIBEditor : Gesha

Tradisi Mohibadaa di Gorontalo | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Gorontalo -- Wanita di Gorontalo memiliki pendekatan yang khas terhadap bulan suci Ramadhan. Di samping melaksanakan ibadah, mereka juga menjalankan tradisi istimewa untuk merawat diri dan menjaga penampilan.

Bernama Mohibadaa, warisan budaya ini tetap dijaga oleh para wanita di Gorontalo, terutama menjelang bulan Ramadhan. Tradisi unik ini dilakukan oleh perempuan Gorontalo untuk merawat dan mempercantik kulit mereka selama bulan puasa.

Menurut laman Budaya Indonesia, Mohibadaa melibatkan penggunaan masker yang terbuat dari berbagai rempah-rempah.

Ramuan masker tersebut termasuk tepung beras, humopoto (kencur), bungale (bangle), dan alawahu (kunyit). Untuk hasil terbaik, disarankan mencampurkan tepung beras ketan agar konsistensi masker menjadi lebih halus.

Perawatan kecantikan kulit wajah secara tradisional, seperti Mohibadaa, sebenarnya dapat dilakukan kapan saja, tetapi di Gorontalo, tradisi ini menjadi lebih populer selama bulan puasa atau Ramadhan.

Hal ini disebabkan, kulit cenderung menjadi lebih kering dan kusam selama berpuasa, dan menggunakan masker Mohibadaa dapat menyegarkan, menghidrasi, dan memberikan kilau alami pada kulit. Selain itu, perawatan ini juga dapat mengencangkan kulit dan mengurangi kerutan.

Rahima Jafar, seorang Hulango dan penduduk Desa Kayubulan menjelaskan, Mohibadaa memiliki banyak manfaat, termasuk sebagai pengobatan untuk penyakit kulit sarampah, yang disertai dengan doa-doa Islami. 

Rahima menjelaskan, penggunaan Mohibadaa harus dilakukan secara menyeluruh di wajah dan kulit badan, dan tidak boleh dicuci hingga sore hari, tetapi harus dipertahankan digunakan sepanjang hari.

Proses pembuatan ramuan Mohibadaa cukup sederhana. Pertama, beras ketan direndam. Kedua, beras yang sudah direndam ditumbuk bersama dengan berbagai rempah hingga mencapai konsistensi tepung halus. Ketiga, ramuan Mohibadaa siap dioleskan ke wajah.

Untuk yang tidak ingin repot, paket rempah tradisional ini tersedia di pasar tradisional dengan harga sekitar Rp 15 ribu per paketnya.

Rahima lantas mempraktikkan cara membuat Mohibadaa dalam bentuk padatan bulat. Terdapat tiga jenis Mohibadaa yang dibuat dari bahan-bahan mato lo umonu tersebut, yaitu bulatan padat berwarna hitam, serta padatan berbentuk segitiga dengan warna putih dan kuning.

Bedak yang dihasilkan membuat wajah lebih segar, tidak kering, bahkan mencegah kerutan pada kulit. Selain tidak memiliki efek samping karena bahannya yang alami. Tepung yang merupakan campuran rempah juga memberi aroma yang harum.

Rahima mengakui, penggunaan Mohibadaa telah menjadi jarang dilakukan karena minat anak dan cucunya terhadap tradisi tersebut juga sudah menurun, kecuali saat ada kebutuhan untuk upacara pernikahan.

"Dalam zaman yang semakin modern ini, penggunaan Mohibadaa tergeser oleh produk-produk yang cepat dan instan untuk merawat kulit, dengan hasil yang terlihat lebih cepat," ungkap Rahima.

Ritual Pernikahan

Selain bulan Ramadhan, tradisi Mohibadaa juga menjadi ritual pada pernikahan adat Gorontalo. Menurut Karmin Baruadi dan Sunarty Eraku dalam buku "Lenggota Lo Pohutu, Upacara Adat Perkawinan Gorontalo" (2018), calon pengantin perempuan, ibu-ibu, dan gadis-gadis diizinkan untuk melakukan Mohibadaa sebagai bagian dari persiapan pernikahan.

“Bagi ibu-ibu dan gadis-gadis diperkenankan untuk mendandani seluruh badan dengan lulur (mohibada’a), kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan momuhuto (siraman),” tulisnya.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa tradisi Mohibadaa pada acara pernikahan adat dilakukan sebagai bagian dari rangkaian mandi sauna atau molungudu.

Molungudu adalah proses pembersihan diri secara tradisional yang dilakukan oleh wanita sebelum acara pernikahannya. Setelah molungudu, kegiatan ini berlanjut dengan siraman atau momohuto.

Calon pengantin perempuan hanya bisa didampingi oleh perempuan yang merupakan kerabat terdekat saja karena pada saat itu, sang putri (calon pengantin perempuan) sangat sensitif terhadap kehadiran orang-orang di luar lingkungan keluarga terdekatnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018