Sabtu, 25 Mei 2024


Ayam dan Telur, Sumber Protein Terjangkau Cegah Stunting

06 Apr 2024, 07:55 WIBEditor : Gesha

Konsumsi ayam dan Telur menghindarkan Balita dari stunting | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Dibalik kemajuan ilmiah dan teknologi, kunci untuk mencegah masalah gizi kronis ini bisa jadi terletak dalam dua bahan makanan yang sederhana namun kuat: ayam dan telur. Selain menyediakan protein yang terjangkau, kombinasi ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan anak-anak.

Pemerintah Indonesia telah bersungguh-sungguh dalam upaya menurunkan angka stunting di negara ini, seperti melalui penerbitan Perpres no. 72 Tahun 2021 yang menggarisbawahi pentingnya peningkatan ketahanan pangan dan gizi. Hal ini terbukti dengan penurunan angka stunting dari 24,4 persen pada tahun 2021 menjadi 21,6 persen pada tahun 2022 menurut Survei Status Gizi Indonesia.

Salah satu poin kunci dalam mengatasi stunting adalah memperbaiki asupan gizi, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak.

Telur menjadi pilihan yang sangat baik karena harganya terjangkau, mudah didapat, dan kaya akan nutrisi yang diperlukan untuk mencegah stunting pada balita.

Singgih Januratmoko, Ketua Umum Pinsar Indonesia, menekankan urgensi penanganan stunting sebagai isu nasional.

Data menunjukkan bahwa masih ada 22 juta anak di Indonesia yang berisiko mengalami stunting, sebuah situasi yang memprihatinkan bagi pengusaha ternak dan telur.

Meskipun begitu, tingkat konsumsi telur di Indonesia masih jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Rata-rata konsumsi telur per kapita di Indonesia hanya sekitar 300 butir per tahun, sementara di negara tetangga mencapai 500-600 butir per tahun. Hal ini menggambarkan perlunya peningkatan kesadaran akan manfaat gizi dari telur.

"Telur bukan hanya lezat, tetapi juga kaya akan protein, lemak sehat, mineral, dan vitamin yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Dengan kandungan nutrisinya yang lengkap, telur merupakan salah satu solusi yang dapat membantu mengatasi masalah stunting di Indonesia," sebutnya.

Singgih menambahkan, dalam 2 (dua) butir telur ayam ras seberat 100 gram mengandung zat gizi antara lain; kalori (154 kkal), protein (12,4 gram), lemak (108 gram), karbohidrat (0,7 gram), kalsium (86 mg), fosfor (258 mg), zat besi (3 gram), kalium (118,5 gram), natrium (142 gram), Vitamin A (104 mcg), Tiamin (Vit.B1) (0,12 mg) dan Riboflavin (Vit. B2) (0,38 mg).

Peningkatan konsumsi daging ayam di Indonesia menjadi sorotan penting, terutama karena daging ayam merupakan sumber protein yang sangat baik dan sering diolah dalam berbagai hidangan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2021, rata-rata konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia mencapai 0,14 kilogram per minggu, mencatatkan angka tertinggi sejak 2011.

Direktorat Gizi, Kementerian Kesehatan tahun 2010, menjelaskan bahwa dalam 100 gram daging ayam mengandung protein sebesar 18,20 gram, lemak sebesar 25 gram, dan energi sebesar 404 kkal.

Berbagai bagian dari ayam seperti dada, paha, dan sayap juga kaya akan protein, memberikan variasi dalam asupan nutrisi bagi konsumen.

Selain itu, tulang ayam yang seringkali digunakan untuk membuat kaldu juga memiliki manfaat tersendiri. Kaldu dari tulang ayam kaya akan zat besi dan kolagen, yang baik untuk kesehatan tulang dan kulit.

Dengan begitu, konsumsi daging ayam tidak hanya memberikan protein yang penting untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, tetapi juga memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan secara keseluruhan.

Anjuran Konsumsi

Singgih menekankan pentingnya memperhatikan asupan protein hewani, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan.

Untuk ibu hamil dan menyusui, disarankan untuk mengonsumsi 4 porsi protein hewani per hari, di mana 1 potong daging ayam seberat 50 gram bisa dihitung sebagai satu porsi.

Sementara untuk bayi usia 6 hingga 23 bulan, rekomendasi penambahan daging ayam pada makanan pendamping ASI (MPASI) memberikan kontribusi penting dalam mencegah stunting.

Perlu diingat bahwa variasi dalam penyajian daging ayam penting untuk menjaga minat makan balita dan menghindari kebosanan, seperti memasaknya dalam bentuk omlet, mencampurnya dengan jagung atau tahu, atau bahkan membuatnya menjadi kue atau nugget.

Pemberian telur juga menjadi strategi efektif dalam pencegahan stunting pada balita, dengan disarankan konsumsi 2 butir telur per hari. Kombinasi nutrisi yang terkandung dalam telur menjadikannya makanan yang sangat berharga dalam upaya mencegah stunting.

Kreativitas dalam mengolah sajian telur juga penting, agar balita tidak bosan dan tetap tertarik untuk mengonsumsinya. Ide-ide seperti mencampur telur dalam sup, membuatnya menjadi bakso ikan, atau bahkan membuatnya menjadi kue dapat membantu memperkaya variasi makanan bagi balita.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018