Saturday, 07 February 2026


Bedanya Ayam Pejantan dan Broiler, Ini Trik Mengolahnya

11 Nov 2025, 16:22 WIBEditor : Yulianto

Ayam broiler menjadi pilihan banyak ibu rumah tangga saat memasak. Tapi ada pilihan lain yakni ayam pejantan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Saat ingin memasak daging ayam, bagi kalangan ibu rumah tangga kerap dihadapkan pada pilihan membeli ayam pejantan atau broiler. Untuk itu, kita perlu mengenali lebih detail kedua jenis ayam ini.

Dr Tuti Suryati, dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University menguak perbedaanya. Daging ayam pejantan dianggap lebih alot dibanding ayam broiler.  Faktor utama penyebabnya ternyata adanya perbedaan genetik.

Daging ayam pejantan menurutnya, berasal dari bangsa ayam petelur yang genetiknya dimurnikan untuk menghasilkan galur ayam dengan produktivitas telur sangat tinggi. Sedangkan ayam broiler berasal dari bangsa ayam tipe pedaging.

Ayam broiler dikembangkan melalui proses pemuliaan dalam waktu yang panjang untuk menghasilkan bibit ayam pedaging dengan pertumbuhan yang cepat dan efisien. Karena itu, ayam tersebut mampu mencapai bobot potong dalam waktu yang singkat (30–42 hari atau 5–6 minggu) dengan daging yang sangat empuk.

Karena teksturnya yang lembut, daging ayam broiler sangat cocok untuk berbagai jenis masakan, mulai dari ayam goreng, sup, hingga tumisan. Harga ayam broiler juga relatif murah membuatnya menjadi pilihan favorit bagi ibu rumah tangga yang ingin menyajikan hidangan tanpa mengeluarkan biaya yang besar. Karena itu, jenis ayam ini yang paling umum ditemui di pasar.

Sementara ayam pejantan yang berasal dari ayam tipe petelur pertumbuhannya tidak seefisien broiler. “Karena dipelihara lebih lama, tekstur daging ayam pejantan menjadi lebih alot, tetapi lemaknya relatif lebih rendah dibandingkan ayam broiler,” ujarnya seperti dikutip dari laman IPB University.

Dari sisi biologis, ungkap Tuti, perbedaan kadar kolagen sangat berpengaruh. Kolagen merupakan komponen penyusun jaringan ikat yang jumlahnya meningkat seiring pertambahan usia ternak. “Semakin tua umur potong ayam, jaringan ikatnya semakin banyak. Hal ini menyebabkan tingkat kealotan daging meningkat,” katanya.

Selain faktor usia, aktivitas fisik ayam juga berpengaruh terhadap tekstur daging. Ayam yang lebih aktif memiliki otot yang sering berkontraksi, sehingga teksturnya lebih keras. Karena aktivitas ayam pejantan lebih tinggi, sehingga membuat otot ayam lebih kuat. “Jadi otomatis dagingnya lebih alot,” tambahnya.

Olah dengan Tepat

Meski demikian, kualitas daging ayam pejantan masih bisa ditingkatkan dengan teknik pengolahan yang tepat. Dr Tuti merekomendasikan pemasakan dengan teknik perebusan atau dengan menambahkan air, seperti gulai, sop, atau opor. 

Untuk olahan goreng atau bakar, sebaiknya melakukan perebusan pendahuluan dengan bumbu atau teknik ungkep.“Bisa juga menggunakan panci presto, atau bahan alami seperti buah nanas dan daun pepaya untuk mengempukkan daging.

Ia mengingatkan, proses penggorengan atau pemanggangan sebaiknya tidak terlalu lama atau hingga daging kering. Pasalnya, cara tersebut justru membuat tekstur semakin keras.

Meski dikenal lebih alot, daging ayam pejantan tetap diminati sebagian konsumen. “Ada yang lebih menyukai tekstur ayam pejantan karena mirip ayam kampung, teksturnya lebih berserat, lemaknya lebih sedikit, dan tidak terlalu lembut,” kata Dr Tuti.

Dari segi harga, ayam pejantan biasanya harganya juga murah dibandingkan ayam kampung. Inilah yang membuatnya sering menjadi pilihan pengganti ketika harga ayam kampung sedang tinggi di pasaran. Meski lebih terjangkau, ayam pejantan tetap menawarkan rasa dan tekstur yang cukup mirip, terutama jika diolah dengan cara yang tepat.

Ayam kampung memang dikenal sebagai salah satu jenis ayam yang paling diminati banyak orang karena cita rasanya yang khas. Tekstur daging ayam kampung memang cenderung lebih alot dan keras dibandingkan dengan jenis ayam lainnya. Meski begitu, daging ayam kampung memiliki rasa yang manis dan gurih, sehingga harganya sering kali lebih mahal di pasaran. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018