Tuesday, 10 March 2026


Anak Ketagihan Jajanan Manis? Dokter IPB Sebut Risikonya Bisa Sampai Diabetes

27 Jan 2026, 11:29 WIBEditor : Gesha

Anak gemar jajanan manis berwarna-warni? Dokter IPB mengingatkan, kebiasaan ini bukan sekadar soal gigi berlubang. Konsumsi gula berlebih sejak dini bisa memicu obesitas hingga risiko diabetes di usia muda.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Anak gemar jajanan manis berwarna-warni? Dokter IPB mengingatkan, kebiasaan ini bukan sekadar soal gigi berlubang. Konsumsi gula berlebih sejak dini bisa memicu obesitas hingga risiko diabetes di usia muda.

Di balik tampilan jajanan manis yang berwarna-warni dan bertabur gula, tersimpan ancaman yang kerap luput dari perhatian. Bagi anak-anak, jajanan dengan visual menggoda itu bukan sekadar camilan, tapi bisa berubah jadi kebiasaan yang diam-diam menumpuk risiko kesehatan.

Dokter Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran IPB University, dr. Yusuf Ryadi, SKed, MKM, mengingatkan konsumsi makanan tinggi gula dan pewarna buatan secara rutin berpotensi menimbulkan dampak serius pada kesehatan dan tumbuh kembang anak. Menurutnya, bahaya tersebut tidak muncul seketika, namun bekerja perlahan seiring waktu.

“Dampaknya cukup serius, terutama jika dikonsumsi rutin. Asupan gula berlebih terbukti meningkatkan risiko obesitas, gigi berlubang, gangguan metabolik, dan pada beberapa anak dapat memicu gangguan perilaku serta gangguan konsentrasi,” ujar dr. Yusuf, Senin (26/1/2026).

 

Ia menjelaskan, pewarna dan perisa buatan yang digunakan pada jajanan memang umumnya berstatus food grade dan diperbolehkan secara regulasi. Namun, jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, bahan-bahan tersebut dapat mengganggu metabolisme anak yang masih berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan.

 

Fenomena jajanan viral dengan warna mencolok dan rasa manis berlebihan juga dinilai ikut menyumbang persoalan gizi anak. Tren ini, kata dr. Yusuf, mendorong pola konsumsi tinggi gula, lemak, dan kalori, tetapi miskin serat serta zat gizi penting. Jika kebiasaan ini terbentuk sejak dini, risikonya tidak main-main.

“Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini meningkatkan risiko obesitas anak yang dapat berlanjut menjadi diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia yang lebih muda,” jelasnya.

Lebih jauh, kebiasaan mengonsumsi jajanan manis sejak kecil turut membentuk preferensi rasa anak. Ketergantungan terhadap rasa manis dan tampilan mencolok membuat anak cenderung menolak makanan sehat yang rasanya lebih netral dan tampilannya sederhana.

“Preferensi rasa terbentuk sejak kecil. Kalau anak sudah terbiasa dengan rasa manis, mereka akan kesulitan menerima makanan sehat di kemudian hari,” ungkap dr. Yusuf.

Dari sisi pengawasan, ia menilai regulasi sebenarnya sudah tersedia. Namun, penerapannya di lapangan masih menghadapi banyak tantangan. Produk jajanan rumahan, jajanan viral musiman, hingga penjualan daring kerap luput dari pengawasan rutin terkait takaran gula, jenis pewarna, dan bahan tambahan pangan.

“Pengawasan terhadap jajanan anak masih memiliki banyak celah, terutama pada produk yang tidak diproduksi secara massal,” katanya.

Karena itu, dr. Yusuf menekankan perlunya langkah konkret dari pemerintah, mulai dari memperkuat pengawasan jajanan anak, memperjelas label kandungan gula dan bahan tambahan, hingga melakukan edukasi masif kepada orang tua dan sekolah. Ia juga mendorong kebijakan yang menciptakan lingkungan pangan sehat agar anak memiliki akses mudah terhadap makanan bergizi, aman, dan tetap menarik.

“Anak-anak perlu dilindungi dari risiko jangka panjang. Lingkungan pangan yang sehat adalah kunci,” tutupnya.

 
 
Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018