Fenomena jajanan viral dengan warna mencolok dan rasa manis berlebihan juga dinilai ikut menyumbang persoalan gizi anak. Tren ini, kata dr. Yusuf, mendorong pola konsumsi tinggi gula, lemak, dan kalori, tetapi miskin serat serta zat gizi penting. Jika kebiasaan ini terbentuk sejak dini, risikonya tidak main-main.
“Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini meningkatkan risiko obesitas anak yang dapat berlanjut menjadi diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia yang lebih muda,” jelasnya.
Lebih jauh, kebiasaan mengonsumsi jajanan manis sejak kecil turut membentuk preferensi rasa anak. Ketergantungan terhadap rasa manis dan tampilan mencolok membuat anak cenderung menolak makanan sehat yang rasanya lebih netral dan tampilannya sederhana.
“Preferensi rasa terbentuk sejak kecil. Kalau anak sudah terbiasa dengan rasa manis, mereka akan kesulitan menerima makanan sehat di kemudian hari,” ungkap dr. Yusuf.
Dari sisi pengawasan, ia menilai regulasi sebenarnya sudah tersedia. Namun, penerapannya di lapangan masih menghadapi banyak tantangan. Produk jajanan rumahan, jajanan viral musiman, hingga penjualan daring kerap luput dari pengawasan rutin terkait takaran gula, jenis pewarna, dan bahan tambahan pangan.
“Pengawasan terhadap jajanan anak masih memiliki banyak celah, terutama pada produk yang tidak diproduksi secara massal,” katanya.
Karena itu, dr. Yusuf menekankan perlunya langkah konkret dari pemerintah, mulai dari memperkuat pengawasan jajanan anak, memperjelas label kandungan gula dan bahan tambahan, hingga melakukan edukasi masif kepada orang tua dan sekolah. Ia juga mendorong kebijakan yang menciptakan lingkungan pangan sehat agar anak memiliki akses mudah terhadap makanan bergizi, aman, dan tetap menarik.
“Anak-anak perlu dilindungi dari risiko jangka panjang. Lingkungan pangan yang sehat adalah kunci,” tutupnya.

