Tuesday, 10 March 2026


Tren Makanan Kukusan, Nafas Baru Diversifikasi Pangan

03 Feb 2026, 09:56 WIBEditor : Yulianto

Makanan rebusan kini hadi tren baru di ibukota

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah sejak lama mendorong diversifikasi pangan dengan mengonsumsi pangan lokal. Namun upaya tersebut seperti kehilangan nafas terbentur dengan maraknya produk pangan berbahan baku impor (terigu). Kini diversiifkasi pangan mendapat nafas baru dengan tren makanan kukusan yang banyak masyarakat jajakan.

Fenomena makanan kukusan dan rebusan yang kian digemari masyarakat dinilai membawa dampak positif dari sudut pandang gizi. Tren kuliner ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi real food sebagai bagian dari pola hidup sehat. Konsumsi pangan pun makin beragam dan bergizi.

Sarapan kukusan adalah potret sederhana dari kekayaan pangan nusantara. Teknik mengukus yang dikenal dalam dunia kuliner sebagai metode steaming sebenarnya sudah digunakan sejak ratusan tahun lalu. Alasannya, karena lebih sehat, minim minyak, dan menjaga keutuhan rasa asli bahan pangan tersebut.

Tren mengonsumi pangan kukusan yang kian banyak masyarakat jajakan di pinggir jalan menjadi fenomena menarik. Bahkan, di era kuliner yang kian beragam, mengonsumsi pangan lokal kukusan tidak lagi dianggap ketinggalan zaman.

Justru sebaliknya, panganan kukusan tersebut tampil sebagai simbol gaya hidup sehat yang semakin digemari. Di tengah tren healthy lifestyle, sarapan kukusan menjadi pilihan logis. Bahkan, beberapa komunitas kebugaran kini secara terbuka merekomendasikan sarapan berbasis kukusan sebagai menu sebelum olahraga ringan di pagi hari.

Menariknya, sarapan kukusan juga hadir di dunia digital. Banyak penjual memanfaatkan platform online, dari media sosial sampai aplikasi pesan antar. Foto-foto jagung kukus beruap, ubi mengkilap, dan singkong kelapa kini berseliweran di layar ponsel. Beberapa penjual bahkan membangun branding yang kuat, menampilkan konsep heritage food, menggabungkan cerita tradisi dengan visual kekinian.

Sarapan kukusan bukan hanya soal makan, tapi juga peluang ekonomi. Tidak heran jika banyak pelaku UMKM memilih jalur ini. Dengan inovasi rasa, kemasan menarik, dan konsistensi kualitas, sarapan kukusan bisa menjadi bisnis berkelanjutan. Dari gerobak kecil di pasar hingga pop-up booth di pusat perbelanjaan, semua terbuka lebar.

Baik untuk Kesehatan

Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah menjelaskan, berbagai jenis pangan yang disajikan dalam bentuk kukusan memiliki kandungan gizi yang baik bagi kesehatan. 

“Pangan kukusan seperti jagung, pisang, ubi jalar, singkong, dan labu merupakan sumber karbohidrat kompleks, serat pangan, serta berbagai vitamin yang berperan dalam mendukung pemenuhan gizi tubuh,” ujar Ai Imas seperti dikutip dari laman IPB University.

Dari sudut pandang gizi, ia berpandangan bahwa mengonsumsi makanan kukusan merupakan tren yang positif. Hal ini selaras dengan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan alami dan minim proses. Apalagi metode pengolahan dengan cara dikukus atau direbus cenderung lebih sehat dibandingkan metode menggoreng. “Pengukusan meminimalkan penggunaan minyak, sehingga pangan menjadi lebih rendah lemak jenuh dan kalori,” ucapnya. 

Selain itu, suhu pengukusan yang relatif lebih rendah membantu mempertahankan kandungan nutrisi, terutama vitamin dan mineral. “Bahan pangan yang dikukus tidak kontak langsung dengan air, sehingga kehilangan vitamin dan mineral menjadi lebih kecil,” katanya.

Lebih lanjut, Ai Imas memaparkan bahwa sejumlah bahan pangan sangat diuntungkan jika diolah dengan teknik kukus. Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, talas, dan kentang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Sementara itu, sayuran hijau dan berwarna cerah seperti brokoli, wortel, dan labu kuning kaya akan vitamin dan antioksidan.

Kacang-kacangan, seperti kacang tanah dan edamame, menjadi sumber protein nabati dan mineral, sedangkan jagung manis mengandung karbohidrat, vitamin, dan mineral. Telur juga termasuk bahan pangan yang cocok dikukus sebagai sumber protein hewani.

Misalnya, pisang kukus seperti pisang kepok mengandung 50 kalori dan 10 gram karbohidrat.   Kandungan gizi kacang-kacangan seperti kacang tanah kupas (2 sendok makan) mengandung 80 kalori, 6 gram protein, 3 gram lemak, dan 8 gram karbohidrat.

Sebagian besar bahan tersebut merupakan pangan lokal Indonesia. Selain mendukung pemenuhan gizi, pengolahannya juga berkontribusi pada penguatan konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.

Terkait frekuensi konsumsi, Ai Imas menegaskan, makanan kukusan aman, bahkan dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari sebagai bagian dari pola makan harian. Namun demikian, prinsip variasi dan keseimbangan zat gizi tetap perlu diperhatikan.

“Makanan kukusan sebaiknya dikombinasikan dengan sumber protein hewani agar tidak hanya memberikan rasa kenyang dan mengikuti tren, tetapi juga mendukung pemeliharaan kesehatan tubuh secara optimal,” ucapnya. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018