Thursday, 16 July 2026


Waspada Virus Nipah! WHO Beberkan 7 Fakta Mengejutkan dari India

04 Feb 2026, 10:32 WIBEditor : Gesha

WHO ungkap 7 fakta mengejutkan dari India, termasuk korban perawat, gejala berat, dan sumber penularan yang masih misterius.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- WHO ungkap 7 fakta mengejutkan dari India, termasuk korban perawat, gejala berat, dan sumber penularan yang masih misterius.

 

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap tujuh fakta penting terkait virus Nipah melalui publikasi Disease Outbreak News (DONs) setelah munculnya kasus di Bengala Barat, India. Temuan ini menjadi sorotan dunia karena virus Nipah termasuk dalam daftar patogen prioritas WHO, patogen yang berpotensi menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan masyarakat dan bisa menimbulkan wabah jika tidak ditangani dengan cepat.

Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, Adjunct Profesor Universitas Griffith Australia dan mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, laporan WHO yang diterbitkan pada 30 Januari 2026 itu memaparkan kasus infeksi virus Nipah yang menimpa dua perawat di Barasat, Bengala Barat. Kedua pasien, satu pria dan satu wanita berusia antara 20 hingga 30 tahun, bekerja di sebuah rumah sakit swasta, yang kemudian menjadi pusat perhatian setelah gejala berat mulai muncul pada akhir Desember 2025.

“Dua kasus ini penting untuk dicermati karena menyoroti bagaimana virus Nipah bisa menyerang tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit,” ujar Prof. Tjandra saat ditemui di Jakarta, Senin (2/2). Menurutnya, kondisi kedua perawat ini menunjukkan betapa cepat dan beratnya gejala virus Nipah muncul pada orang yang terinfeksi.

Setelah gejala mulai terlihat, kedua perawat dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2026. Pemeriksaan lanjutan menggunakan RT-PCR dan ELISA di India National Institute of Virology di Pune baru memastikan pada 13 Januari 2026 bahwa keduanya positif terinfeksi virus Nipah. Pasien wanita mengalami kondisi kritis sehingga harus dirawat di ICU dengan ventilator, sedangkan pasien pria menderita gangguan neurologis berat. Meski begitu, laporan terbaru menyebut kondisi perawat pria mulai menunjukkan perbaikan, sementara pasien wanita masih berada dalam pengawasan intensif.

Yang membuat kasus ini semakin menarik perhatian adalah fakta bahwa hingga saat ini belum diketahui sumber awal penularan virus Nipah pada kedua perawat. Prof. Tjandra menjelaskan bahwa ketidakjelasan ini menunjukkan bahwa penanganan epidemi belum sepenuhnya tuntas dan masih diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan jalur penularan. “Dengan belum ditemukannya bagaimana dua orang perawat di India ini tertular, maka sumber penular awalnya masih misterius. Hal ini menegaskan perlunya kewaspadaan ekstra dan protokol keamanan di lingkungan rumah sakit,” kata Prof. Tjandra.

Meskipun sumber penularan awal belum ditemukan, pemerintah India melalui Indian National Centre for Disease Control menyatakan pada 27 Januari 2026 bahwa tidak ada kasus lanjutan yang muncul di Basarat, Bengala Barat. WHO menilai risiko kesehatan masyarakat di sub nasional India masih masuk kategori moderat, sedangkan risiko di tingkat regional maupun global dinilai rendah. Namun, WHO tetap menekankan bahwa virus Nipah masuk kategori patogen prioritas untuk mempercepat pengembangan alat penanganan medis, atau medical countermeasures, sebagai bagian dari kesiapan menghadapi epidemi atau pandemi di masa depan.

Prof. Tjandra menambahkan, keberadaan institusi penelitian penyakit menular seperti India National Institute of Virology menjadi kunci dalam memastikan diagnosis cepat, penanganan tepat, dan pencegahan meluasnya infeksi. Ia menekankan pentingnya Indonesia memiliki fasilitas serupa agar dapat meningkatkan kesiapan menghadapi patogen prioritas. “Reputasi India National Institute of Virology sudah sangat diakui. Jika kita bisa membangun institusi setara di Indonesia, kita akan lebih siap menghadapi virus-virus berisiko tinggi seperti Nipah,” katanya.

Virus Nipah sendiri dikenal memiliki tingkat fatalitas yang tinggi dan dapat menimbulkan gejala mulai dari demam, sakit kepala, hingga gangguan neurologis berat dan gagal pernapasan. Virus ini ditularkan terutama melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar dan babi, serta kontak langsung dengan pasien yang sudah terinfeksi. Kasus di India ini menjadi peringatan penting, terutama bagi tenaga medis, untuk menerapkan protokol keamanan yang ketat dalam menangani pasien dengan gejala mirip infeksi virus Nipah.

Selain itu, kasus ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap waspada, terutama dalam menjaga kebersihan dan menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi menularkan virus. Prof. Tjandra menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. “Kesadaran masyarakat dalam menjaga jarak aman, higienitas, dan mengikuti protokol kesehatan adalah langkah penting dalam mencegah penularan virus Nipah,” ujar dia.

Menyikapi temuan WHO, beberapa negara di kawasan Asia Tenggara mulai meningkatkan pengawasan di bandara dan pelabuhan internasional. Di Bali, misalnya, pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai memasang sejumlah alat thermal scanner di area kedatangan internasional maupun domestik untuk mencegah penyebaran virus Nipah dari penumpang yang datang dari luar negeri. Langkah serupa juga dilakukan di beberapa titik karantina kesehatan di Jakarta dan kota besar lainnya.

Kasus virus Nipah di Bengala Barat, meski terdeteksi pada awal Januari 2026, menjadi sorotan internasional karena menunjukkan bagaimana virus bisa menyerang tenaga kesehatan yang sehari-hari menangani pasien. WHO mencatat hal ini sebagai salah satu temuan penting, mengingat perlunya kesiapan tenaga medis dan fasilitas kesehatan dalam menghadapi potensi infeksi. Laporan WHO juga menekankan perlunya pengembangan vaksin dan obat-obatan khusus untuk virus Nipah, yang sampai saat ini masih terbatas dan menjadi fokus penelitian global.

Prof. Tjandra mengingatkan, meskipun risiko global masih rendah, penanganan cepat dan protokol keamanan yang ketat sangat penting. “Virus Nipah bisa cepat menular dan memiliki dampak berat, sehingga langkah pencegahan di level rumah sakit maupun masyarakat harus dilakukan secepat mungkin,” tegasnya.

Dengan temuan WHO ini, masyarakat diharapkan lebih waspada, tenaga kesehatan lebih berhati-hati, dan pemerintah memperkuat sistem pengawasan serta kesiapsiagaan terhadap patogen prioritas. Kasus di India menjadi pelajaran penting bahwa virus Nipah, meski tidak selalu menyebar luas, tetap berpotensi menimbulkan krisis kesehatan lokal dan menuntut respons cepat dan tepat dari seluruh pihak.

 
Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018