Sunday, 07 June 2026


Jadi Magnet Wisata, Panjalu Festival Padukan Religi dan Budaya Tatar Galuh

06 May 2026, 12:03 WIBEditor : Herman

Panjalu Festival Event Desa Panjalu

TABLOIDSINARTANI.COM, Ciamis --- Ribuan warga memadati kawasan Panjalu, Kabupaten Ciamis, saat malam penutupan Panjalu Festival 2026 digelar dengan semarak.

Perpaduan seni, budaya, dan nuansa religius menciptakan suasana khas yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menguatkan identitas desa sebagai pusat tradisi dan spiritualitas di wilayah Tatar Galuh.

Festival yang kini memasuki tahun keempat ini menjadi bukti keseriusan Pemerintah Desa Panjalu dalam menggali dan mengembangkan potensi lokal. Kepala Desa Panjalu, H. Yuyus Surya Adinegara, menuturkan bahwa festival ini lahir dari keinginan untuk mengangkat kekayaan desa yang selama ini tersembunyi.

“Sejak saya menjabat pada 2021, saya melihat Panjalu memiliki potensi luar biasa, baik dari segi alam maupun sumber daya manusianya. Masyarakat sebenarnya sudah kreatif, tetapi belum memiliki wadah yang tepat. Festival ini menjadi ruang untuk menampilkan itu semua,” ujarnya.

Desa Panjalu sendiri dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata religi unggulan di Kabupaten Ciamis. Ikon utamanya adalah Situ Lengkong, sebuah danau alami yang dikelilingi pemandangan asri dengan sebuah pulau kecil di tengahnya. Pulau tersebut menjadi lokasi makam leluhur Panjalu, termasuk tokoh penting dalam sejarah Tatar Galuh, Prabu Borosngora.

Setiap tahun, kawasan ini tidak pernah sepi dari peziarah. Data mencatat sekitar 400 ribu pengunjung terdaftar datang setiap tahunnya, dan jumlah tersebut diyakini bisa mencapai hingga satu juta orang jika termasuk yang tidak tercatat. Para pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk berziarah sekaligus menikmati keindahan alam yang menenangkan.

Potensi inilah yang menjadi fondasi kuat dalam penyelenggaraan Panjalu Festival. Tidak hanya menampilkan seni dan budaya, festival ini juga dirancang untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat. Puluhan pelaku UMKM turut ambil bagian melalui bazar yang menghadirkan beragam produk khas, seperti colenak, peuyeum, kerajinan anyaman bambu, hingga batik khas Panjalu.

Selain itu, panggung festival diramaikan dengan berbagai pertunjukan seni tradisional, seperti tari jaipong, pencak silat, musik angklung, serta ragam kesenian khas lainnya. Parade budaya menjadi salah satu daya tarik utama, dengan penampilan Wayang Landung, Bebegig, Naga Laksana, hingga Maung Getra Sewu yang memukau penonton.

Tidak ketinggalan, peragaan busana kreatif berbahan limbah dengan sentuhan kearifan lokal turut mencuri perhatian. Inovasi ini menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat Panjalu mampu berkembang seiring dengan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan.

Mengusung tema “Syukur Waktu”, Panjalu Festival 2026 mengajak masyarakat untuk merefleksikan pentingnya menghargai setiap momen kehidupan. Tema ini berakar dari filosofi lokal yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Festival ini juga terintegrasi dengan Upacara Adat Nyangku, sebuah ritual tahunan pembersihan pusaka peninggalan leluhur yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Prosesi kirab pusaka yang menjadi bagian dari rangkaian acara selalu menarik perhatian ribuan warga dan wisatawan.

Mewakili Bupati Ciamis, Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Ciamis, Dr. Aef Saefullah, M.Si, mengatakan pemerintah daerah menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Panjalu dalam melestarikan budaya.

“Festival budaya seperti ini memiliki nilai strategis, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Situ Lengkong merupakan aset berharga yang harus terus dijaga dan dikembangkan sebagai identitas daerah.

Sementara itu, Yuyus mengakui bahwa pelaksanaan festival masih belum sempurna. Namun, ia optimistis dengan dukungan berbagai pihak, festival ini dapat berkembang lebih besar, bahkan meniru kesuksesan event nasional seperti Jember Fashion Carnaval.

“Kami ingin Panjalu Festival menjadi kebanggaan bersama. Dengan kolaborasi antara pemerintah desa, daerah, hingga pusat, kami yakin festival ini bisa naik kelas dan memiliki daya tarik yang lebih luas,” katanya.

Lebih dari sekadar perayaan, festival ini juga menjadi strategi sosial untuk memperkuat kebersamaan masyarakat, khususnya generasi muda. Penyelenggaraan di akhir tahun dimaksudkan agar warga dapat merayakan momen pergantian tahun di desa sendiri dengan kegiatan positif.

“Ini adalah wujud kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Kami ingin membangun ruang kreativitas, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga tradisi,” tambahnya.

Dengan semangat gotong royong dan visi “Panjalu Emas 2029”, Panjalu Festival diharapkan terus berkembang sebagai ikon budaya dan wisata yang tidak hanya mengangkat nama desa, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakatnya.

 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018