Friday, 16 October 2026


Kenduri Sawah di Aceh Barat, Tradisi Satukan Petani Jelang Musim Tanam

16 Oct 2026, 06:35 WIBEditor : Herman Pratikno

Petani di Aceh Barat lakukan Kenduri Sawah sebelum Tanam

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Barat --- Masyarakat petani di Aceh Barat memiliki tradisi kenduri sawah sebagai wujud rasa syukur sekaligus momentum mempererat kebersamaan sebelum memulai musim tanam.

Tradisi ini bukan sekadar makan bersama dan berdoa, tetapi juga menjadi sarana memperkuat silaturahmi, gotong royong, serta kepedulian antarpetani.

Penyuluh pertanian Aceh Barat, Teuku Aidi Satria, S.TP, mengungkapkan, kenduri sawah merupakan bagian dari kearifan lokal yang memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat tani. Sawah tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dan membangun semangat kebersamaan.

“Kenduri sawah bukan sekadar makan bersama atau berdoa sebelum turun ke sawah. Di dalamnya ada rasa syukur, silaturahmi, gotong royong, dan semangat menghadapi musim tanam secara bersama-sama,” ungkap Teuku Aidi.

Menurutnya, tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat. Setiap orang dapat berkontribusi sesuai kemampuan, mulai dari menyiapkan makanan hingga membantu pelaksanaan kenduri.

Selain mempererat hubungan sosial, kenduri sawah juga menjadi ruang bagi petani untuk bertukar informasi mengenai kesiapan lahan, pengairan, jadwal tanam, hingga potensi serangan hama dan penyakit. Komunikasi tersebut penting untuk membangun koordinasi dalam menghadapi berbagai tantangan pertanian.

“Pertanian bukan hanya soal benih, pupuk, dan teknologi. Kebersamaan serta kemauan untuk saling membantu juga menjadi kekuatan penting bagi petani dalam menghadapi persoalan di lapangan,” jelasnya.

Namun, perubahan gaya hidup dan perkembangan zaman menjadi tantangan bagi keberlanjutan tradisi lokal, termasuk kenduri sawah. Karena itu, Teuku Aidi menilai generasi muda perlu dikenalkan pada tradisi tersebut agar nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu tidak hilang.

Pelestarian kenduri sawah, lanjutnya, tidak harus mempertahankan seluruh bentuk kegiatan secara kaku. Tradisi dapat menyesuaikan perkembangan zaman selama nilai utama berupa rasa syukur, kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian tetap terjaga.

Kenduri sawah juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga alam. Kehidupan petani bergantung pada tanah, air, dan kondisi lingkungan yang harus dirawat agar tetap mendukung produksi pangan bagi generasi mendatang.

“Yang perlu kita wariskan bukan hanya tata cara kenduri sawah, tetapi juga semangat kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai inilah yang membuat tradisi tersebut tetap bermakna,” tuturnya.

Bagi masyarakat Aceh Barat, kenduri sawah menjadi pengingat bahwa pertanian tidak semata-mata berkaitan dengan produksi, tetapi juga hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, tradisi ini menyampaikan pesan sederhana: sebelum menanam padi di sawah, masyarakat terlebih dahulu menanam kebersamaan di antara mereka.

 

Reporter : Teuku Aidi Satria
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018