Sabtu, 25 Mei 2019


Bubur Syuro Indramayu, Sajian Spesial saat Bulan Muharram

19 Okt 2018, 07:46 WIBEditor : Gesha

Masyarakat Indramayu saling membantu untuk membuat bubur Syuro | Sumber Foto:Tarminah

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu --- Memasuki bulan Muharram atau yang lebih dikenal dengan sebutan bulan Syuro, masyarakat Indramayu punya sajian spesial bernama bubur Syuro. Sajian ini jadi bentuk syukur untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

Seperti yang dilakukan masyarakat Desa Malangsari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (Jabar) rutin melakukan acara syuraan dengan membuat dan membagikan bubur di masjid/mushola guna menjaga kearifan lokal budaya di wilayah ini.

Tokoh masyarakat setempat, Kamta selalu membuat dan membagikan bubur syura untuk sanak saudaranya, kerabatnya, anak yatim, fakir miskin serta tetangga  sekitarnya.

Dengan kegiatan ini sanak saudara tetangga bergotong-royong membuat dan berpartisifasi berdasarkan  kemampuannya ada yang menyumbang bahan bubur, ada yang membantu tenaga dan lain-lain, terasa sekali kehidupan gotong-royong saling bantu- membantu dengan harmonis.

Cara membuat bubur syura ini lain dari bubur biasa atau menggunakan bahan lokal seperti ketela pohon, ubi jalar, ganyong, talas, uwi legi, uwi katak, kembili, sagu, jagung, kelungsu (biji asam yang kering) yang disangrai lalu direndam agar tidak keras/liat, kacang tanah, kacang kedele, kacang merah dan kacang tunggak atau buah-buahan (nenas, jeruk, delima, dan lain-lain).

Sebagai bahan lauk-pauknya biasa ditaburkan di atas bubur telor dadar, ikan ayam disuir-suir, tempe goreng , bawang goreng , masak mi dan serundeng kelapa.

Untuk memenuhi bahan kearifan lokalnya umbi-umbian, Kamta selalu menanam sendiri di pekarangan sekitar rumahnya. Bumbu rempah yang digunakan yakni kemiri, ketumbar, sahang, bawang merah, bawang putih, jahe , laos serta bumbu lain yang digunakan untuk membuat empal/gule) sesuai resep yang ada di masyarakat Bangodua , Indramayu.

Kegiatan pembuatan bubur ini dilaksanakan dan dimulai persiapan sampai matang sehari suntuk,  bubur  matang dimasak selama  ± 3 jam.

“Semoga kedepan semakin banyak dan berkelanjutan mengamalkan amalan shodaqoh ini, berbagi dengan sesama, gerakan terus budaya kearifan lokal dengan menanam sendiri kebutuhan bahan bakunya, semangatkan bahan dasar karbohidrat , merupakan untuk penyediaan pangan lokal sehari-hari,” ujarnya.   TIA/Tarminah-Bangodua

 

 

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018