Senin, 19 Agustus 2019


IKBI PTPN 8, Pemberdayaan Perempuan di Tengah Perkebunan

06 Mei 2019, 16:21 WIBEditor : Yulianto

Produk hasil kerajinan IKBI PTPN 8 | Sumber Foto:Pipiet

IKBI mencoba membuat kerajinan tas, kerajinan tas tersebut bernama Decoupage, yaitu seni menempel yang biasanya dari kertas. Namun IKBI menggunakan tisu hias

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Di zaman seperti sekarang, agar kesejahteraan dan kehidupan masyarakat bisa lebih maju, salah satu yang harus dimiliki adalah keterampilan di berbagai bidang pekerjaan. Begitu pula yang sedang diusahakan IKBI (Ikatan Keluarga Besar Ibu-ibu) Dharma Wanita PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) 8.

Salah satu unit kebun PTPN 8 berada Gunung Mas, Jawa Barat yang mengelola perkebunan teh.  Pekerjaanya bukan hanya laki-laki, tapi banyak pemetik the adalah kaum hawa. Karena itu IKBI dituntut kreativitasnya mengembangkan keterampilan di berbagai bidang pekerjaan guna membantu kehidupan keluarga pekerja perkebunan.

“Di Gunung Mas, dalam menciptakan keterampilan semua dilakukan dengan otodidak, apa ya yang kira-kira bisa dilakukan ibu-ibu sini dan berbeda dari lainnya,” ucap Hikmat Agustian, Kepala Administratur Kebun Gunung Mas yang istrinya adalah Ketua IKBI sendiri.

Mendapat sumber dari internet, IKBI mencoba membuat kerajinan tas, kerajinan tas tersebut bernama Decoupage, yaitu seni menempel yang biasanya dari kertas. Namun IKBI menggunakan tisu hias. Dalam memproduksi tas tersebut, proses yang dilakukan memang tidak dimulai dari nol, beberapa bahan sudah pesan jadi seperti rotan dan tisu.

“Anggota IKBI tinggal membuat desain sesuai pesanan yang diinginkan. Selain tas, kerajinan yang dilakukan juga membuat hiasan dinding, topi, bantalan kursi, sarung bantal dan lainnya,” kata Hikmat.

Namun, dari 286 yang terdaftar sebagai anggota IKBI, sampai saat ini yang terlihat aktif baru sekitar 30 orang. Hal ini menyebabkan masih perlunya ajakan yang menarik kepada anggota untuk ikut serta aktif dalam kegiatan yang dilakukan.

“Rata-rata penjualan tas perbulan sekitar 30an tas, namun tetap tergantung pemesanan dari konsumen. Harga tas ini masih cukup terjangkau dibandingkan yang dijual di tempat lain. Harga mulai dari 40-150 ribu,” ucap Hikmat.

Keuntungan yang didapatkan kurang lebih sekitar 1,5 juta. Uang tersebut masuk sebagai kas atau aliran dana IKBI sendiri, yang nantinya untuk dibagikan kepada anggota di hari-hari besar, seperti Hari Raya Idul Fitri.

Untuk pembuatan, ungkap Hikmat, sementara ini masih berjalan dengan sistem by request. Jadi jika ingin membeli secara langsung, nantinya tergantung persediaan dan desain yang ada saja.

Kegiatan IKBI lainnya seperti memberikan edukasi tentang pendidikan perempuan, termasuk kesehatan dan parenting mengenai psikologi anak maupun ibu. IKBI juga pernah membuka TPA (Tempat Penitipan Anak) dan sekolah PAUD, tujuannya supaya karyawan perkebunan yang masih memiliki anak kecil tetap dapat bekerja leluasa di kebun dan anaknya pun sekaligus dapat belajar.

Selain itu juga ada kegiatan memasak, seni menggunakan hijab, bahkan yang baru adalah dengan peduli lingkungan seperti membersihkan sungai, mengelola sampah, dan pengembangan bunga.

Ada beberapa bunga lokal yang ternyata banyak tumbuh di sekitar dan memiliki nilai ekonomi yang bagus. Bunga tersebut yaitu bunga berondong atau bunga hortensia, masyarakat sekitar Gunung Mas menyebutnya dengan bunga seribu.

Hikmat berharap, dengan program dan pelatihan kepada perempuan perkebunan,  jika pekerja perempuan nanti pensiun dapat tetap menghasilkan uang dengan keterampilan lain yang didapatnya. Untuk yang masih muda bisa menjadi bekal ke depannya agar bisa berwirausaha.

 

Reporter : Pipiet Endwiyatni
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018