Minggu, 20 Oktober 2019


Mengubah Wajah Metropolitan dengan Urban Farming

16 Jul 2019, 19:41 WIBEditor : Gesha

Urban Farming menjadi gaya metropolitan penuhi pangan | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Ibukota Negara, DKI Jakarta terkenal dengan hiruk pikuk dan kesibukan yang cukup padat. Sebagai Kota Metropolitan, kadang tak pernah terbayangkan bagaimana pengembangan pertanian. Apalagi laju konversi lahan pertanian ke non pertanian terbilang cukup tinggi.

Namun dengan berkembangan inovasi budidaya pertanian, Pemerintah Daerah DKI Jakarta kini mendorong pertanian perkotaan atau urban farming. Program tersebut menjadi salah satu upaya menghidupkan kembali pertanian di Ibukota negara.

Karena itu dalam Pekan Daerah KTNA (Peda KTNA) Jakarta yang akan berlangsung 17-18 Juli 2019, bakal diangkat tema urban farming. “Mengingat Jakarta lahan pertanian semakin tergerus dan yang kita agar tidak hilang dengn urban farming. Makanya di PeDa KTNA Jakarta, kita angkat isu tersebut dan nanti akan kami bawa ke Penas KTNA yang akan dilaksanakan di Sumatera Barat tahun depan,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Darjamuni.

Urban farming memang menjadi andalan Jakarta untuk menghidupkan kembali pertanian di Ibukota negara. Karena itu kini Pemda DKI tengah mengubah wajah Ibukota Negara menjadi lebih sejuk dengan menyulap gang-gang di Jakarta menjadi hijau dengan ragam tanaman. “Ini kita laksanakan dari tahun 2016 sampai saat ini. Dengan awal mulanya 150 gang, sekarang sudah hampir 600 gang kita hijaukan,” terang Darjamuni.

Ada berbagai tanaman yang dibudidayakan masyarakat kota. Diantaranya, Tanaman Obat Keluarga (Toga) dan hortikultura, terutama sayuran dan buah-buah dalam pot. Bibitnya didapat dari 14 kebun bibit yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Bahkan di Kamal, Jakarta Utara, mempunyai kebun untuk buah naga.

“Kebun bibit ini ada di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Di Kepulauan Seribu kita punya, tepatnya di Pulai Tidung Kecil, tetapi masih sebatas kebun percobaan, belum menjadi kebun bibit,” katanya.

Sejak Pemda DKI mendorong program urban farming, ternyata minat masyarakat kota Jakarta cukup besar. Tidak heran permintaan bibit tanaman di 14 kebun bibit pun sangat banyak, sehingga permintaan bibit tidak dapat dipenuhi semua.

Beberapa bibit yang cukup banyak diminati di Jakarta adalah alpukat cipedak, jambu bol, sawo kecik, belimbing si manis, duku condet, jahe, kaca beling, lengkuas, sambiloto, sereh, sirih, tapak dara, brotowali, binahong, gandarusa, sambang darah lokal dan cabai.

Dalam program urban farming, selain mengajak masyarakat menanam buah dalam pot, Pemda DKI juga akan menghijaukan gang-gang di Jakarta dengan tanaman hidroponik. Untuk program itu menurut Darjamuni, akan diberikan bantuan berupa paket lengkap budidaya hidroponik untuk satu kali masa tanam hingga panen.

Program KRPL

Pengembangan urban farming, tidak lepas dari program Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian yang terus mendorong optimalisasi lahan pekarangan melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Untuk mempercepat penganekaragaman pangan dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat, Badan Ketahanan Pangan (BKP) telah melaksanakan KRPL sejak tahun 2015.

Kepala BKP, Agung Hendriadi mengatakan, kegiatan KRPL merupakan model pemanfaatan setiap jengkal lahan termasuk lahan tidur, lahan kosong yang tidak produktif pada pekarangan, sebagai penghasil pangan serta memenuhi pangan dan gizi keluarga, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

Kegiatan KRPL juga dilaksanakan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk penanganan daerah stunting,  Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja), penanganan wilayah rentan rawan pangan dan pengembangan daerah perbatasan. “Untuk program KRPL di daerah Bekerja, akan diberikan bantuan ternak unggas dan sarananya untuk peningkatan produksi ternak unggas melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan peningkatan konsumsi pangan dan gizi,” katanya.

Pemerintah telah menetapkan sasaran kegiatan KRPL Tahun 2015 – 2019. Untuk tahun 2015  sebanyak 4.410 Kelompok Wanita Tani (KWT), tahun 2016 (2.894 KWT), tahun 2017 (1.305 KWT), tahun 2018  (2.300 KWT) dan tahun 2019 sebanyak 2.300 KWT. **

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018