Minggu, 20 Oktober 2019


Produktivitas Bawang Putih Lokal 24 ton/ha, Bisa !

08 Okt 2019, 16:18 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto menunjukkan bawang putih dengan umbi cukup besar | Sumber Foto:Julian

“Dengan varietas Tawangmangu Baru, petani bisa menghasilkan produktivitas sebesar 24 ton/ha, padahal normalnya hanya 8 ton/ha,” kata Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian terus menggenjot produksi bawang putih, bahkan targetnya bisa mengembalikan kejayaan seperti tahun 1996-1998 yang mampu mencukupi kebutuhan dari dalam negeri sendiri. Apalagi saat ini produktivitas bawang putih di dalam negeri sudah ada yang menembus angka 24 ton/hektar (ha).

Dibuktikan oleh petani di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang telah mampu menghasilkan  produktivitas sebanyak itu. “Dengan varietas Tawangmangu Baru, petani bisa menghasilkan produktivitas sebesar 24 ton/ha, padahal normalnya hanya 8 ton/ha,” kata Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto di Jakarta, Selasa (8/10).

Dengan produktivitas sebanyak itu, menurut Prihasto, petani bisa untung cukup besar. Harga benih saat ini sekitar Rp 50 ribu/kg, sedangkan harga bawang putih cabut basah Rp 15-18 ribu/kg. “Harga tersebut sudah cukup menguntungkan petani, karena BEP (Break Even Point) budidaya bawang putih hanya Rp 10-11 ribu/kg,” katanya.

Artinya menurut Prihasto, potensi peningkatan produksi bawang putih di dalam negeri cukup besar. Apalagi didukung dengan potensi areal pengembangan bawang putih lebih dari 600 ribu ha. “Kita bisa tingkatkan produksi baik dari upaya diversifikasi lahan maupun ekstensifikasi,” katanya.

Potensi lahan untuk diversifikasi bisa dilakukan dengan pergiliran tanaman dengan komoditas sayuran dataran tinggi lainnya. Seperti diketahui, budidaya bawang putih bisa tumbuh di daerah dataran tinggi dengan suhu dingin.

Selain itu pengembangan areal tanam bawang putih dengan ekstensifikasi atau perluasan areal tanam. Banyak daerah pengembangan, khususnya dataran tinggi yang bisa digarap untuk penanaman bawang putih. “Kunci penanaman bawang putih adalah daerah bersuhu dingin yakni, saat proses pengumbian suhunya dingin,” ujarnya.

Syarat lainnya ungkap Prihasto adalah daerahnya cukup air. Artinya, lokasi budidaya bawang putih bukan hanya bersuhu dingin, tapi juga cukup air. Jika daerahnya suhunya dingin, tapi tidak ada air, maka akan sulit bawang putih akan tumbuh. “Dua hal itu (suhu dingin dan cukup air,red), yang dibutuhkan dalam budidaya bawang putih, sehingga umbi bawang putih bisa besar,” paparnya.

Selain faktor suhu dingin dan air, menurut Prihasto, faktor lain yang membuat umbi bawang putih menjadi besar adalah perlakuan benih. Jika petani menanam benih yang ukurannya besar, maka bisa menghasilkan bawang putih yang besar juga seperti petani Karanganyar.

Petani Bergairah

Bejo Supriyanto, petani bawang putih di Desa Pancot, Kel. Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar,  Jawa Tengah mengatakan, bawang putih yang ditanam petani di lereng Gunung Lawu tersebut produktivitasnya antara 15-18 ton/ha. Sedangkan harga jual di tingkat petani Rp 20 ribu-Rp 25 ribu/kg (basah).  Kalau dikeringkan (sudah dijemur) harganya antara Rp 32 ribu-Rp 35 ribu/kg.

“Kami tanam bawang putih setahun sekali, bibitnya Tawangmangu Baru. Bawang putih yang kami tanam pada Mei bisa dipanen pada akhir September dan awal Oktober. Produktivitasnya rata-rata 15-18 ton/ha,” kata Bejo Supriyanto.

Bejo Supriyanto yang juga dipercaya sebagai Ketua Ketua Gapoktan Mugi Rejeki, Kecamatan Tawangmangu, mengaku sangat beruntung bisa tanam bawang putih varietas Tawangmangu Baru karena produktivitasnya cukup tinggi. Lantaran menguntungkan, luas lahan bawang putih terus bertambah, dari semula hanya 12 ha pada tahun 2018, kini sudah mencapai 20-25 ha.

Bahkan tingginya harga benih bawang putih ini mencapai Rp 65 ribu-Rp 70 ribu/kg  tidak menyurutkan niat petani untuk tanam bawang putih. Hitungan Bejo, petani yang tanam bawang putih di lahan 1 ha hanya perlu benih 600 kg. Jika harga benih Rp 70 ribu/kg, petani perlu modal Rp 42 juta untuk tanam bawang putih.

Dengan  produktivitas 18 ton/ha dan harga bawang putih (di tingkat petani,red) Rp 20 ribu/kg, petani bawang putih masih mendapatkan margin keuntungan sekitar Rp 360 juta/musim panen.  “Kalau keuntungan kotor tersebut sudah dikurangi dengan biaya benih dan sarana produksi (seperti pupuk) sekitar 50%-nya, petani bawang putih masih mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 159 juta/musim tanam,” tuturnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018