Jumat, 13 Desember 2019


Musim Tanam Tiba, Waspadai Benih Bawang Putih Oplosan !

16 Okt 2019, 15:23 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto menunjukkan benih bawang putih oplosan | Sumber Foto:kontributor

Benih bawang putih yang belum siap tanam atau belum patah dormansi, kalau dipaksa ditanam di lahan, akibatnya bisa fatal

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Memasuki musim penghujan Oktober-November tahun ini, Kementerian Pertanian mengingatkan semua pihak, terutama dinas pertanian, petani dan pelaku usaha yang akan menanam bawang putih agar lebih waspada dan hati-hati dalam membeli benih bawang putih. Sebab disinyalir ada pelaku mengambil kesempatan dengan mengoplos benih yang siap tanam dan belum siap tanam.

Jangan sampai benih yang dibeli tidak seragam alias dioplos antara yang sudah siap tanam dengan benih yang belum siap tanam. Dikhawatirkan, jika benih oplosan tersebut ditanam akan merugikan petani karena pertumbuhannya tidak optimal, bahkan bisa tidak tumbuh sama sekali,” tegas Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto di Jakarta, Rabu (16/10).

Prihasto mengingatkan agar jangan ada pihak yang mengambil keuntungan sesaat dengan modus pengoplosan benih bawang putih. Sebab, tindakan mengoplos benih, antara yang sudah patah dorman dengan calon benih yang belum patah  dormansi sangat merugikan petani. Ini sungguh perbuatan yang tidak layak karena sama saja menzholimi petani," ujar Prihasto yang lebih akrab dipanggil Anton tersebut.

Benih Belum Siap Tanam

Menurutnya, benih bawang putih yang belum siap tanam atau belum patah dormansi, kalau dipaksa ditanam di lahan, akibatnya bisa fatal. Petani bisa merugi karena benih yang ditanam tidak tumbuh. Yang tumbuh hanya yang sudah patah dormansi alias siap tanam," kata Anton.

Anton menganggap, hal ini sangat penting diingatkan, terutama kepada dinas-dinas yang sedang pengadaan benih bawang putih tahun ini. Mengapa? Baru-baru ini Anton mengaku menemukan sendiri secara langsung bukti adanya benih yang terindikasi oplosan di sebuah daerah. Bukan tidak mungkin indikasi serupa terjadi di daerah-daerah lain," kata Anton tanpa menyebut lokasi yang dimaksud.

Karena itu ia meminta petugas jangan sampai lengah untuk lebih jeli dan teliti sebelum menerima benih dari penyedia atau dari penangkar. Libatkan petugas pengawas benih tanaman (PBT) di masing-masing daerah. “Petugas dari level pusat hingga daerah harus paham betul bagaimana membedakan benih yang sudah patah dormansi dengan yang belum," tambahnya.

Anton menduga, margin harga yang lumayan tinggi antara calon benih yang belum patah dorman dengan yang sudah patah dorman, membuat oknum-oknum tidak bertanggungjawab untuk mengoplos benih bawang putih.

Bakal benih yang belum patah dorman atau belum tumbuh bakal tunas, harganya tentu jauh lebih murah. “Jika selisihnya Rp 10 ribu, maka keuntungan yang akan diraup oknum tersebut jika pengadaannya mencapai puluhan bahkan ratusan ton?" ungkapnya.

Bahkan paling dirugikan tentu petani dan program pemerintah selanjutnya karena bisa terganggu. Kami tak segan-segan menindak tegas siapapun yang main-main dengan benih bawang putih.Kalau jelas terbukti akan kami laporkan ke aparat penegak hukum," tegas Anton serius.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018