Senin, 18 November 2019


Budidaya Tomat, Untungnya Berlipat

21 Okt 2019, 13:43 WIBEditor : Yulianto

Gianto, petani tomat | Sumber Foto:Dodik

Dengan hanya mengolah lahan seluas 342 meter atau 0,03 hektar (ha) saja, bisa melampaui hasil panen tanaman pangan, seperti padi

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Tomat menjadi tanaman yang mudah sekali dijumpai di Desa Tulungrejo, Kecamatan Kandangan, Malang. Salah satunya di pekarangan milik Gianto. Bagi petani, penghasilan dari budidaya tomat cukup menggiurkan.

Dengan hanya mengolah lahan seluas 342 meter atau 0,03 hektar (ha) saja, bisa melampaui hasil panen tanaman pangan, seperti padi. Bila merujuk dari harga terendah, hasil panen yang didapat Gianto mencapai Rp 320.000-480.000. Tetapi, bila mengacu harga tertinggi, panen yang dihasilkan bisa menembus nominal Rp 4,8 juta hingga 7,2 juta.

Gianto menjelaskan, tanaman tomat yang dibudidayakan saat ini bisa dipanen 4 kali dalam setahun atau tiap 3 bulan sekali. Hal itu mengacu masa atau usia panen 90 hari. Dalam budidaya tomat, Gianto mengatur jarak tanaman sekitar 0,5 meter dari belakang hingga kedepan, dan jarak 1 meter dari samping.

Pengaturan jarak dilakukan agar buah tonat bisa mencapai besar maksimal ketika masa panen,” kata Gianto beralasan. Setiap batang tanaman tomat, menurutnya, ditancapkan batang bambu sebagai pondasi pertumbuhan dari batang tanaman, sehingga tanaman bisa berdiri tegak.

Gianto menjelaskan, secara keseluruhan ada 420 tanaman tomat yang dibudidayakan. Setiap tanaman bisa menghasilkan 2-3 kg sekali panen. Bila mengacu hitungan matematika, dalam sekali panen, bisa dihasilkan 0,84-1,26 ton.

Namun demikian Gianto mengakui, harga tomat di daerah tidak stabli naik-turun sehingga menyebabkan keuntungan petani tidak stabil. “Kadang petani bisa meraup rupiah dengan cukup besar, tetapi sewaktu-waktu bisa mengalami kerugian besar, saat anjloknya harga dipasaran,” tuturnya.

Harga jual tomat terendah berada pada nominal Rp 400/kg, sedangkan harga tertinggi mencapai Rp 6.000/kg. Ketika mengalami hasil minimal alias harga anjlok, petani harus memutar otak untuk mengembalikan modal pengolahan yang sudah dikeluarkan. Karena itu ia berharap pemerintah bisa membantu mengatasi fluktuasi harga yang menyebabkan petani merugi.

Di Desa Tulungrejo, Kecamatan Kandangan, Malang, tanaman tomat tumbuh tumbuh subur di atas lahan seluas 342 meter persegi. Banyak petani menanam tomat dengan bantuan green house dengan kelebaran 9 meter, panjang 38 meter, dan tinggi 3 meter. Dari pengukuran lewat aplikasi berbasis android, dataran di desa tersebut tercatat berada pada ketinggian 623 mdpl (meter diatas permukaan laut). Artinya cocok untuk budidaya tomat.

 

Reporter : Dodik
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018