Sabtu, 07 Desember 2019


Setiap Hari, Ratusan Ton Pisang Masuk Bali

23 Okt 2019, 03:12 WIBEditor : Gesha

Pasar Anyar Sari menjadi salah satu sentra grosir buah pisang di Bali | Sumber Foto:NATTASYA

TABLOIDSINARTANI.COM, Denpasar --- Hiruk pikuk pasar grosir buah-buahan setiap hari terasa di Pasar Anyar Sari, Jalan Kargo di Padangsambian Kaja, Denpasar Barat. Khususnya bongkar muat dan penjualan pisang disaat menjelang Hari Raya Galungan.

"Disini pusatnya grosir buah-buahan, terbesarnya adalah pisang. Bisa ratusan ton pisang masuk ke Bali setiap harinya," ungkap tour guide dari Denpasar, Ketut kepada tabloidsinartani.com.

Diakuinya, kebutuhan pisang untuk kebutuhan ritual sangat besar sehingga selalu ada peluang untuk memasok pisang ke Pulau Dewata ini. "Pisang dari grosir sini, baru masuk ke pasar-pasar maupun supermarket dan hotel di Denpasar," tambahnya.

Sebagian besar pisang tersebut datang dari Jawa, NTB, hinggga NTT. "Sebagian besar datang dari Flores. Dulu bahkan pisang kepok asal Kalimantan bisa masuk sini. Sedangkan pisang dari produksi lokal Bali, tidak memadai karenanya tidak dapat memenuhi kebutuhan pisang  yang tinggi," ungkap salah satu pedagang besar pisang di Pasar Anyar Sari, Gofur.

Meski pasang surut, namun bisnis jual beli pisang menurut Gofur cukup stabil. “Selain untuk bahan banten (ibadah), hotel dan resto, kami juga melayani untuk bisnis gorengan,” tambahnya.

Di balik bisnisnya yang ‘menggiurkan’ tersebut, pasokan pisang juga kadang seret. Salah satu sebabnya, serangan virus  sejak beberapa waktu belakangan. “Kita di Bali menyebutnya dengan istilah AIDS pisang,” tukasnya.

Gejalanya, batang dan akarnya diserang borok-borok, batang dan daun layu, hingga buahnya mengerut dan daging buahnya bercak-bercak hitam dan mengeras mengering. Tanaman pisang di Bali sudah sering kena, karenanya pedagang besar lebih baik mengurangi produksi pisang Bali yang memang  tidak banyak. “Sedangkan dari daerah lain seperti Flores masih aman,”  ungkap Gofur.

Pisang Nasional 

Budidaya pisang di Indonesia menunjukkan kinerja yang membanggakan dalam memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara. Volume dan nilai ekspor pisang 2018 dibanding 2017 meningkat tajam.

Melansir data BPS, volume pisang 2018 sebanyak 30.373 ton, naik 67 persen dari 2017 yang hanya 18.192 ton. Dari volume ini, nilai ekspornya mencapai Rp 204,54 miliar, naik 70,65% dibanding 2017 sebesar Rp 119,86 miliar.

Dalam usaha budidaya pisang, investasi awal yang dibutuhkan senilai 32 juta per hektar. Sentra pengembangan pisang Indonesia sudah menjamur di banyak daerah. Bahkan budidaya pisang banyak dikembangkan perusahaan besar yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga diekspor.

Di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat memang salah satu sentra pisang andalan Indonesia.  Sentra pisang di Jawa Timur meliputi Kabupaten Lumajang, Malang. Sedangkan di Jawa Barat ada Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya hingga Ciamis.

Untuk Provinsi Lampung, ada di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Barat, dan Pesawaran. Sentra pisang lainnya yakni Purbalingga, Kutai Timur, Deli Serdang, Majene dan Kabupaten Pidie.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018