Sabtu, 14 Desember 2019


Sempat Ditolak Mentah-Mentah, Bawang Putih Tegal Jadi Contoh

25 Nov 2019, 09:28 WIBEditor : Gesha

Bawang putih di Tegal, dulu sempat ditolak sekarang menjadi primadona | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

TABLOIDSINARTANI.COM, Tegal --- Bawang putih di tanah Tegal memang mempunyai sejarah yang panjang. Namun karena impor, petani trauma untuk bertanam. Tapi kini, bawang putih Tegal menjadi contoh sukses pengembangan yang direplikasi ke daerah lainnya. 

"Petani bawang putih Tegal terkenal maju dan memiliki success story yang menggembirakan. Kami dorong Tegal bisa menyelenggarakan Festival Bawang Putih. Harapannya bisa memperkuat posisi Tegal sebagai show window dan percontohan budidaya bawang putih maju di tingkat nasional," ungkap Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto ketika membawa 20 petugas verifikasi lapang bawang putih dari Ditjen Hortikultura ke Desa Tuwel, Kecamatan Guci, Kab. Tegal.

Para petugas tersebut  digembleng pengetahuan teknis budidaya dan pascapanen di Desa Tuwel, Kecamatan Guci, Kabupaten Tegal. Materinya meliputi penyiapan lahan, penanaman, pemupukan, pengairan hingga teknik pemanenan. Petugas juga dibekali ilmu teknologi penyimpanan instore dryer untuk mempercepat pengeringan calon benih bawang putih.

Prihasto mengatakan peningkatan kapabilitas petugas verifikasi menjadi salah satu perhatian Kementan, terutama untuk mendukung kebijakan pengembangan bawang putih yang melibatkan importir. "Kami ingin petugas verifikasi selain berintegritas tinggi, juga cakap secara teknis dan profesional dalam menjalankan tugasnya di lapangan", tandas pria yang disapa Anton tersebut.

Bupati Tegal, Umi Azizah, mengaku sempat menolak mentah-mentah program bawang putih saat dulu masih menjadi Wakil Bupati tahun 2015. "Saya yang juga petani bawang putih tahu betul gimana terpuruknya petani bawang putih tegal saat itu. Sehingga saya tidak mau lihat petani kembali berduka dan bangkrut," ujar Umi yang turut serta dalam acara tersebut.

Namun pada tahun 2018, saat panen bersama BI dan Balitsa rasa pesimis berubah menjadi optimis karena ternyata bawang putih Tegal bisa berproduksi optimal kembali. Bahkan generasi petani mudanya sekarang banyak bermunculan," kenang Bupati berprestasi ini dengan nada haru. Bahkan Umi mengaku sangat antusias dan mengapresiasi kegiatan yang digagas Dirjen Hortikultura tersebut.

Menurut Bupati yang akrab dengan petani ini,  dirinya sangat mendukung dengan upaya pemerintah pusat membangkitkan kembali kejayaan bawang putih nasional yang telah lama tenggelam. 

"Potensi pertanian Tegal sangat besar, sehingga jika ada program dapat dibawa ke Tegal bisa membuat petani semakin bergairah. Kami siap jadi tuan rumah rencana Festival Bawang Putih Nasional. Saya titip pesan agar petani bawang putih Tegal untuk tetap semangat," katanya.

Umi menambahkan, berkat kerja keras Pemkab dan masyarakat Tegal, daerahnya mendapat anugerah penghargaan atas pencapaian perencanaan dan pembangunan terbaik tingkat nasional di tahun 2018. "Ini tahun ke 5 kami mendapatkan penghargaan tersebut," ujar Umi bangga. 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tegal, Khofifah, tak kuasa menyembunyikan rasa sukacita atas atensi Kementan terhadap petani bawang putih Tegal. "Program pemerintah untuk membangkitkan kembali bawang putih sangat dirasakan petani kami. Bulan ini saja sudah 9 pasutri yang mendaftar haji, semua dari bawang putih. Tentu hal ini sangat mengharukan bagi ibu bupati kami. Petani menerima berkah yang luar biasa," ungkap Opip panggilan akrab Khofifah.

Dirinya juga menuturkan di tahun 2019 ini setidaknya sudah 7 importir yang bermitra dengan petani kami. Salah satunya adalah Food Station, BUMD Jakarta mau investasi di sini.

Di lokasi yang sama, Manajer Bank Indonesia Tegal, Bursya, mengapresiasi program pengembangan kawasan bawang putih yang digagas Kementan. "Kebijakan melibatkan swadaya petani, swasta dan APBN dalam pengembangan bawang putih kami nilai mampu memberikan dampak positif kepada petani Tegal. Kebijakan ini sangat pro petani", tandas Bursya.

Menurutnya, Bank Indonesia sejak 2015 telah menginisiasi cluster bawang putih di Tegal. "Tidak hanya cluster bawang putih, BI juga membuat cluster bawang merah dan cabai untuk pengendalian inflasi. Bawang putih ini kami nilai penting karena 99% impor dan mempengaruhi ekonomi nasional," terang Bursya yang diamini Bandu Wedyanto, mantan Kepala BI Tegal Periode 2013-2015.

Harapan

Petani bawang putih Tegal, Riswanto mengaku senang bawang putih Tuwel kini telah bangkit kembali, bahkan hasilnya mencapai rata-rata 22 ton per hektar panen basah. Hasil ubinan varietas Tawangmangu bahkan mencapai 37 ton per hektar kondisi cabut basah.

Sementara untuk varietas Sangga Sembalun bisa mencapai 26 ton per ha. Khusus varietas GBL asal Taiwan juga mampu tumbuh dengan baik meski tidak sebesar lokal.

Ditanya mengenai harapan petani bawang putih, Riswanto menceritakan pengalaman petani tua di daerahnya. "Kalau dulu hanya dengan jual hasil panen di lahan 1.700 m2 bisa untuk petani naik haji. Nah, mudah-mudahan saat sekarang ini dan masa-masa mendatang juga bisa terulang kembali. Harga bawang putih bagus dan stabil, biar bisa jadi modal petani naik haji," ujar Riswanto berharap

Melihat banyaknya harapan, Anton mengajak semua pihak mendorong harga bawang putih lokal bisa kompetitif dengan bawang putih impor. "Kurun 2 tahun terakhir, sudah banyak kemajuan dalam pengembangan bawang putih lokal. Contohnya ukuran umbi, sekarang sudah mampu menyamai ukuran bawang impor. Kandungan alisin bawang putih lokal juga lebih tinggi, sehingga membuat aroma bawang putih lokal jauh lebih kuat dan nikmat," kata Anton.

Karenanya, PR selanjutnya adalah soal harga. "Bayangkan, biaya pokok produksi di Tiongkok hanya Rp. 5 ribu per kilogram, sementara bawang putih lokal mencapai Rp.13 ribu per kilo. Mahalnya biaya produksi kita salah satunya disebabkan harga benih yang tinggi. Kalau harga benih bisa ditekan, maka ongkos produksi bisa di harga Rp.7-8 ribu. Bisalah kompetitif di pasar kalau harganya segitu. Namun, apapun petani harus tetap mendapat keuntungan yang wajar," tukas Anton.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018