Wednesday, 26 February 2020


Jangan Khawatir Bertanaman Bawang Merah Musim Hujan, Ini Tipsnya

21 Jan 2020, 14:18 WIBEditor : Yulianto

Petani bawang sedang panen | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Musim kemarau menjadi berkah bagi petani bawang merah, tetapi di kala musim penghujan justru menjadi saat yang mengkhawatirkan. Sebab budidaya bawang merah saat musim hujan membuat kualitas menjadi kurang baik.

Berdasarkan keterangan dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), untuk mendapatkan hasil dan kualitas yang baik di musim penghujan, ada kunci suksesnya. Apa itu? pemilihan varietas, pengolahan tanah, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit.

Varietas, yang disarankan untuk musim penghujan adalah pikatan, pancasona, trisula, dan mentes. Semua varietas ini umur panennya di bawah 58 hari dengan potensi hasilnya dapat mencapai 6,2-27,6 ton/ha.

Varietas ini dapat ditanam berbagai jenis lahan, yakni: tadah hujan, lahan kering, atau tegalan. Tidak hanya itu, dapat ditanah jenis apapun, tetapi untuk tanah yang masam (pH kurang dari 6) harus diberikan kapur (dolomit) sebanyak 1,5 ton/ha pada saat pengolahan tanah atau minimal 2 minggu sebelum benih ditanam.

Pengolahan tanah, diolah dengan menggunakan cangkul atau traktor. Lalu dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 meter yang panjangnya disesuaikan kondisi lahan. Jarak antar bedengan 20-30 cm dan dibuat sedalam 20-30 cm (menyerupai parit).

Tanah galian parit ini diletakan di atas bedengan, sehingga tingginya dapat mencapai 20-30 cm. kemudian dioalah kembali serta diratakan dan dirapikan. Istirahatkan beberapa hari sambil menunggu pemupukan dasar. 

Pemupukan. Terdapat dua pemberian pupuk yakni, pupuk dasar dan pupuk susulan. Pupuk dasar diberikan pada saat pengolahan tanah kedua atau 1-3 hari sebelum bibit ditanam, sedangkan pupuk susulan diberikan sebanyak dua kali, setelah tanaman berumur 10-15 hari dan pada umur 30 hari.

Komposisi pemberian pupuk dasar adalah pupuk kandang sapi 10-15 ton/ha atau kotoran ayam 5-6 ton/ha atau kompos 2,5-5 ton/ha ditambah pupuk SP 36 150-200 kg per hektar. Pupuk susulan pertama adalah urea 75-100 kg/ha, ZA 150-250 kg/ha dan KCl 75-100 ton/ha.

Begitupula pupuk susulan kedua diberikan dengan dosis yang sama. Untuk memperbaiki pertumbuhan, dapat diberikan pupuk majemuk NPK Mutiara 100 kg/ha pada umur 3 minggu setelah tanam.

Pengendalian OPT

Untuk pengendalian hama dan penyakit, dilakukan berdasarkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (HPT). Hama yang biasa menyerang adalah ulat pemakan daun dan thrips.

Untuk pengendalian hama ulat bawang yakni daun yang terserang dengan ditandai telur ulat mengumpul  di salahsatu daun, dipetik, dikumpulkan dan dimusnahkan. Tetapi kalau serangannya sudah cukup gawat, dapat disemprot dengan insektisida profenofos 2 ml/liter, betasiflutrin 2 ml/liter, atau spinosad 0,5 ml/liter.

Sebaiknya dilakukan penyemprotan sore hari dengan menggunakan spuyer kipas. Begitu juga dengan mengendalikan hama trips, sama dengan pengendalian ulat daun. Jika sudah gawat dapat menggunakan insektisida abamektin 0,5 ml/liter, spinosad 0,5 ml/liter, imidakloprid 0,5 ml/liter, diafentiuron 1-2 ml/liter atau karbosulfan 1-2 ml/liter.

Untuk penyakit, yang biasa menyerang adalah penyakit bercak ungu, layu fusarium dan antraknose. Penyakit bercak ungu kalau sudah menyerang secara berlebihan, dapat dikendalikan dengan menggunakan fungisida difenokonazol 2 ml/liter, klorotalonil 2 gram/liter, propineb 2 gram/liter, atau mankozeb 2 gram/liter.

Sebaiknya sebelum terserang, dapat dilakukan tindakan preventif. Yakni saat siang hari turun musim hujan, setelah reda  tanaman disemprot dengan air dari sisa air hujan dan percikan tanah yang menempel pada daun. Penyakit layufusarium, tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan.

Begitu juga dengan tanaman yang terserang antraknose. Tapi kalau sudah parah dapat disemprot dengan fungisida difenokonazol 2 ml/liter atau klorotalonil 2 gram/liter.

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018