Thursday, 02 April 2020


Efek EWS, Stok Bawang Merah Terjaga

20 Feb 2020, 11:06 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang panen bawang | Sumber Foto:Dok. sinta

Sistem EWS tersebut merujuk pada data aktual pola tanam dan pola pasokan bawang, sehingga kondisi pasokan bawang 3 bulan ke depan sudah dapat diprediksi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Keberadaan Early Warning System (EWS) mulai nampak hasilnya. Terbukti sinergi yang dibangun melalui EWS membikin pasokan dan distribusi bawang lancar.

Kementerian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Hortikultura, bisa dengan optimal mengkoordinaskan sekaligus memantau sentra-sentra komoditas strategis hortikultura. Sistem EWS tersebut merujuk pada data aktual pola tanam dan pola pasokan bawang, sehingga kondisi pasokan bawang 3 bulan ke depan sudah dapat diprediksi.

Hal tersebut sebagaimana arahan dan instruksi Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu meminta untuk menggunakan data yang akurat dalam setiap analisis pengambilan kebijakan penyediaan pangan nasional.

Data harus akurat, mengambil kebijakan harus berdasarkan data. Cara mengolah dan menyajikannya pun harus semakin maju dan modern. Cepat namun akurat. Termasuk dalam menghitung perkiraan kebutuhan dan skenario pasokan,” ungkap SYL. Bahkan sejak awal kepemimpinannya, SYL langsung melakukan gebrakan Satu Data Pangan dengan menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) dan instansi terkait.

Di Demak, Jawa Tengah misalnya, terdapat 2.800 hektar (ha) pertanaman bawang merah. Kabupaten yang dikenal juga sebagai Kota Wali menyumbang sekitar 3 persen dari total produksi bawang merah nasional. Sebagai penyangga dan pemasok Jabodetabek harian, total neraca dari kabupaten ini mencapai kurang lebih 4 ribu ton di Januari.

“Dengan kebutuhan Jabodetabek yang mencapai 13 ribu ton per bulan, Demak mampu memenuhi 30 persennya. Begitupun dengan neraca positif pada Februari sebesar 5 ribu ha dan 2 ribu ha di Maret,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak, Wibowo, sekaligus anggota Satgas Pangan Daerah.

Wibowo menambahkan, Demak terdapat 2.800 ha pertanaman bawang merah. Sementara panen pada Januari mencapai 2.130 ha di Kecamatan Mijen, Dempet dan Karanganyar. “Harga juga terpantau normal yaitu Rp 13-15 ribu per kg sedangkan BEP petani Rp 9 ribu. Jadi petani masih mendapat keuntungan," ujarnya.

Hal serupa juga terjadi di Kabupati Pati, Jawa Tengah. Produksi bawang merah surplus hingga 40 ribu ton lebih. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Efendi, menyebut kebutuhan pasar lokal Pati hanya 8 ribuan ton/tahun. Sedangkan produksi mencapai 48 ribu ton atau terdapat surplus 30 ribu ton/tahun.

"Dengan produksi yang cukup besar, Pati mampu menopang kebutuhan pasar Jabodetabek melalui pasokan rutin ke Pasar Induk Kramat Jati dan Cibitung tiap harinya," ujarnya.

Petani di Pulau Garam

Adapun di Pamekasan, petani di Pulau Garam tersebut tengah menanam bawang merah pada puncak musim penghujan. Mereka menerapkan sistem budidaya di luar musim (off season). Data Januari-Februari tahun lalu,  tidak kurang dari 2.000 ha bawang merah ditanam petani di Pamekasan.

Diperkirakan pada panen 2-3 bulan lagi, atau Maret-April nanti akan memasuki panen raya. Sehingga pasokan menjelang hari raya Idul Fitri yang jatuh pada Mei mendatang, diprediksi aman,” kata  Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan, Nolo Garjito.

Menurutnya, , data yang sudah dihimpun petugas di lapangan sampai dengan minggu ke-3 Januari, luas bawang merah sudah mencapai 800 ha dengan umur tanam 0-25 hari setelah tanam (HST).

Penanaman bawang merah di Pamekasan banyak dilakukan pada lahan tegalan, bisa sampai 3 kali setahun untuk lahan yang cukup tersedia air. Pada Januari-Februari menjadi waktu puncak para petani menanam bawang merah.Paling luas penanaman di Kecamatan Batumarmar. Sekarang ini banyak petani yang sudah olah lahan dan siap tanam,” katanya.

Nolo memprediksi, sampai akhir bulan ini penanaman sudah mencapai 1.500 ha. Dari luasan tanam tersebut, diperkirakan produksi Maret-April mencapai 16 ribu ton. Prediksi kami harga akan stabil pada bulan itu karena sudah banyak panen,” ujarnya.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018