Penanaman perdana pisang cavendish di Kabupaten Bener Meriah, Februari lalu
TABLOIDSINARTANI.COM, Bener Meriah---Pisang cavendish menjadi salah satu komoditas yang mempunyai peluang pasar cukup besar di pasar ekspor. Daerah yang kini mulai mengembangkan pisang tersebut adalah Kabupaten Bener Meriah.
Kabupaten di dataran tinggi Gayo itu, selama ini dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi pertanian sangat beragam. Bukan hanya mengandalkan komoditas utama berupa kopi arabika, daerah ini juga mampu menghasilkan komoditi perkebunan lainnya seperti lada, kemiri, pinang, nilam dan serai wangi.
Selain itu, daerah yang memiliki elevasi bertingkat dari 600 mdpl sampai 1.800 mdpl ini juga merupakan penghasil hortikultura berupa sayuran seperti kentang, kol, wortel, tomat dan cabai, serta buah-buahan seperti jeruk, markisah, pisang, nanas dan alpukat.
Potensi inilah yang kemudian dilirik investor agribisnis PT Great Giant Food untuk lokasi pengembangan komoditi hortikultura yang berorientasi ekspor. Difasilitasi Kementerian Koordiantor Perekonomian, akhir tahun lalu Pemerintah Kabupaten Bener Meriah resmi menjalin kerjasama dengan investor untuk mengembangkan pisang Cavendish.
Tindak lanjut kerjasama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dengan PT Great Giant Food melalui anak perushaan PT Great Giant Pineaple (GGP) yang berpusat di Lampung akhirnya terwujud. Kerjasama yang difasilitasi Kementerian Koordinasi Perekonomian ini meliputi pengembangan komoditi hortikultura berorientasi ekspor, khususnya komoditi pisang Cavendish.
Jenis pisang ini merupakan tanaman tropis yang mempunyai daya adaptasi sampai ketinggian di bawah 1.600 mdpl, dapat ditanam pada kondisi suhu udara rata-rata 27 sampai 36 derajat Celcius. Memiliki performance yang menarik dengan aroma dan rasa yang khas, membuat pisang Cavendis menjadi komoditi buah lokal yang sangat diminati pasar ekpor.
Sebuah keberuntungan tentunya bagi kabupaten yang berada di Dataran Tinggi Gayo, Aceh ini. Pasalnya, pada tahun 2019/2020 ini hanya 4 daerah yang terpilih sebagai lokasi pilot project kerjasama dengan PT GGP melalui program Creating Share Value ini. Selain Bener Meriah di Aceh, tiga daerah lain yang juga mendapat kesempatan sama yaitu kabupaten Jembrana (Bali), Kabupaten Blitar dan Bondowoso di provinsi Jawa Timur.
Creating Share Value ini melibatkan kelompok tani di wilayah tersebut atas dasar pemberdayaan dan saling menguntungkan. Program pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor ini merupakan wujut nyata upaya mendorong pengembangan produk lokal berdaya saing global. Kabupaten Bener meriah dinilai layak dan memenuhi syarat serta memiliki potensi untuk melaksakan program ini.
Tanam Perdana
Program kerjasama pemerintah kabupaten Bener Meriah dengan PT GGP ini sejatinya sudah berjalan sejak akhir tahun 2019. Dimulai dengan inventarisasi lahan, identifikasi calon petani dan pembuatan bibit pisang cavendish yang berasal dari kultur jaringan. Sesuai hasil inventarisasi dan identifikasi, kemudian disepakati wilayah Kecamatan Pintu Rime Gayo sebagai lokasi pengembangan komoditi hortikultura berorientasi ekspor. Sebab, dari segi agroklimat dan ketersediaan lahan sangat memadai.
Sebagai tanda dimulainya program ini, Februari lalu dilakukan tanam perdana pisang Cavendish yang dipusatkan di Balai Benih Utama (BBU) Tanaman Pangan dan Hortikultura, di Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Selain Bupati Bener Meriah, Tgk H Sarkawi dan Ketua DPRK, Muhammad Saleh .
Sarkawi menyatakan, daerahnya memilki potensi luar biasa untuk pengembangan hortikultura, termasuk komoditi yang memiliki prospek ekspor seperti pisang Cavendish ini. Karena itu pihaknya kemudian berupaya maksimal agar program pengembangan komoditi pisang Cavendish ini dialokasikan di Kabupaten Bener Meriah. “Hasil inventarisir lahan penanaman pisang Cavendish ini seluas 300 hektar. Bisa saja bertambah menjadi 500 ha mengingat potensi lahan masih tersedia,” katanya.
Mengenai pemasaran hasil pisang cavendis, Bupati menyatakan tidak perlu khawatir, karena pihak PT GGP yang akan menampung hasilnya untuk diekspor, termasuk ke Timur Tengah. “Ke depan pisang yang dikonsumsi di Tanah Suci bukan lagi pisang dari Lampung, tetapi pisang Cavendish dari Gayo. Kalau selama ini mereka sudah mengenal kopi Gayo, Insya Allah nanti merka juga akan bisa menikmati pisang yang kita tanam hari ini di Bener Meriah,” ungkap Sarkawi optimis.
Sementara itu, Direktur PT Great Giant Food (GGF), Drh Welly Soegiono menyampaikan, buah lokal Indonesia memiliki prospek ekspor yang sangat baik, karena memang meiliki kualitas dan sepesifikasi baik. Diharapkan, dalam setahun atau dua tahun ke depan Kabupaten Bener Meriah sudah bisa mengekspor pisang Cavendish.
“Kita belajar dari agribisnis nanas yang sudah kita tangani bertahun-tahun di Lampungs, kita mengekspor nenas pada tahun 1984 dalam bentuk kemasan kaleng, sekarang Indonesia tercatat sebagai pemasok nenas terbesar dunia” ungkap Welly.
Mengepa harus dilakukan pengembangan lahan? Welly menjelaskan, pasar ekspor buah berkembang demikian besar, tapi lahan yang dimiliki oleh GGF tidak cukup. Di Lampung luas lahan 33.000 ha, panen perhari 2.500 ton, diproses dalam bentuk makanan kaleng di ekspor pada tahun 2019 sebanyak 17.500 kontainer dan ternyata masih kurang karena permintaan pasar sangat besar.
“Saya dia melihat potensi pengembangan juga ada di Bener Meriah, khususnya untuk pisang Cavendish. Saya yakin kepemilikan lahan di Bener Meriah oleh masyarakat jauh lebih luas, kalau pisang dari Bondowoso sudah dikirim ke Surabaya dan Banyuwangi. Kenapa sekarang di Bener Meriah, kita harapkan akan berkembang lebih luas dan menjadi sentra produksi pisang Cavendish,” tutur Welly.
Welly menambahkan, jika ini bisa dikembangkan, maka ekspor ke Timur Tengah tidak perlu lagi dari Lampung, tapi dari Krueng Geukuh Lhokseumawe. “Hari ini kita mulai dengan skala kecil, tapi mudah-mudahan ini menjadi suatu show untuk melihat suatu contoh peluang usaha baru dan tujuannya adalah adanya pertumbuhan ekonomi di pedesaan,” ujarnya.