Monday, 10 August 2020


Kenikir Vs Artemisia, Serupa Tapi Tak Sama

19 May 2020, 13:03 WIBEditor : Gesha

Kenikir (kanan) dan Artemisia (kiri) | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Seminggu terakhir, Negara Madagaskar mengklaim menemukan obat mujarab COVID 19 dengan menggunakan bahan herbal Artemisia. Bagi masyarakat awam, sepintas tanaman ini mirip dengan Kenikir di Indonesia. Namun ada perbedaan yang mendasar diantara keduanya lho.

Tanaman Kenikir (Cosmos caudatus) dan Artemisia (Artemisia annua) jika dilihat dari daunnya selintas terlihat kedua tanaman ini nampak sama dengan bentuk daun yang majemuk menyirip. Namun jika kita lihat lebih dekat dan seksama akan terlihat perbedaan terutama ukuran daun.

Daun Kenikir agak lebih besar tetapi daun Artemisi lebih halus. Daun inilah merupakan bagian tanaman yang digunakan dan mengandung senyawa bioaktif dan berpotensi sebagai bahan baku obat alam.

Berdasarkan klasifikasi tanaman memang kedua tanaman ini dari rumpun yang sama yaitu dari Ordo Asterales dan Famili Asteraceae. Pada klasifikasi tanaman pada tingkat Genus yang membedakan kedua tanaman ini, kenikir dari genus Cosmos sedangkan Artemisia dari genus Artemisia.

Namun jika dilihat dari manfaat sebagian besar mempunyai khasiat yang juga hampir sama, tetapi ternyata terdapat khasiat spesifik yang dikandung masing-masing tanaman. Kenikir dan Artemisia mempunya khasiat yang sama dalam mengatasi berbagai penyakit yaitu mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antifungi, antidiabet, antikanker, antitumor, antiviral, dan minyak atsiri.

Sekilas Kenikir dan Artemisia

Kenikir : tanaman ini banyak dikenal dan dimanfaatkan oleh masyakarat di Indonesia sebagai sayuran (lalapan). Pada masyarakat melayu dikenal dengan nama ulam raja, sedangkan nama kenikir sendiri berasal dari daerah Jawa Tengah, sedangkan di daerah Sumatera dikenal dengan nama suring.

Kenikir merupakan tanaman asli Amerika Latin dan Tengah yang tumbuh liar dan berbentuk perdu, namun demikian tanaman ini bisa mencapai tinggi 1-2 m. Khasiat spesifik Kenikir yang berbeda dengan artemisia yaitu melindungi dari keropos tulang (Osteoporosis) atau menguatkan tulang.

Senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun Kenikir antara lain saponin, flavonoid dan polifenol. Akarnya mengandung hidroksieugenol dan koniferil alcohol. Senyawa bioaktif utama pada daun ada Cuercetin dan kaempferol, turunan dari flavonoid. Senyawa inilah yang banyak mengandung khasiat dalam mengatasi berbagai penyakit. Selain itu mengandung Kalsium, Fosfat, Besi, Magnesium dan Kalium.

Kenikir maupun Artemisia sebagian besar mempunyai khasiat yang sama, dan mempunyai kelebihan masing-masing, dan dapat diperbanyak melallui setek dan biji. Namun Kenikir lebih mudah diperoleh dan dikembangkan di Indonesia, serta masyarakat sudah kenal dengan tanaman kenikir ini.

Rasanya pun lebih enak dan aromanya lebih soft dibandingkan dengan Artemisia. Masyarakat kita lebih senang memanfaatkan kenikir di dalam penganan pecal, urap direbus atau mentahan saja untuk lalapan. Sebagai antiviral ada baiknya Kenikir dikonsumsi karena merupakan salah satu cara untuk mengatasi masuknya virus ke dalam tubuh.

Artemisia : masyarakat Indonesia tidak banyak mengenal tanaman ini karena tanaman Artemisia merupakan tanaman introduksi dari daerah sub tropis. Meski berasal dari daerah sub tropis namun dapat tumbuh dengan baik di Indonesia bahkan bisa mencapai tingga 2-3 m di dataran tinggi yang suhunya rendah.

Artemisia ini banyak jenisnya, ada sekitar 500 species. Salah satu jenis yang dikembangkan adalah Artemisia annua. Indonesia mempunyai Artemisia jenis lain yaitu Artemisia vulgaris yang dikenal dengan Artemisia papua tetapi kandungan artemisininnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan Artemisia annua.

Senyawa bioaktif pada tanaman Artemisia yang utama dan berkhasiat mengatasi berbagai penyakit adalah Artemisinin dengan turunannya yaitu Artesunat Artemether dan Artemisone.

Senyawa fitokimia lain yang terkandung dalam Artemisia antara lain: Flavonoid, Alkaloid, Minyak atsiri, Saponin, Sterol dan triterpene, Tanin dan Kumarin. Saat ini Artemisia difokuskan untuk mengatasi penyakit malaria.

Pemanfaatan Artemisia dibatasi jika masyarakat mengkonsumsi dengan jumlah atau dosis yang tidak benar maka dikhawatirkan akan resisten terhadap Plasmodium (penyebab penyakit malaria).

Sehubungan hal tersebut BPOM melarang penggunaan Artemisia secara bebas. Jika terjadi resistensi maka belum ada alternatif lain sebagai penggantinya.

Reporter : Gusmaini
Sumber : Balittro
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018