Monday, 10 August 2020


Dengan Strategi Ini, Perbatasan Timor Leste Unggul Bawang Merah

19 May 2020, 19:43 WIBEditor : Gesha

Pertanamam bawang merah di perbatasan Timor Leste | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Malaka --- Wilayah perbatasan kini menjadi wilayah prioritas pengembangan pertanian. Kementerian Pertanian dengan membangun pertanian di wilayah perbatasan, dengan merancang program khusus yaitu Pengembangan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor (PLPBE) di Wilayah Perbatasan (WP). Salah satunya adalah Kabupaten Malaka yang berbatasan dengan negara Timor Leste.

Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu wilayah yang berbatasan dengan Republik Demokrasi Timor Leste. Komoditas pertanian yang diusahakan adalah jagung dan padi dengan teknologi yang terbatas dan hasilnya belum dapat mengungkit kesejahteraan petani.

Kabupaten ini memiliki kondisi agroekosistem yang cukup sesuai untuk pengembangan bawang merah. Namun, pertanaman bawang merah belum diusahakan secara komersil dan merupakan komoditas selingan pada saat musim tanam kedua.

Karenanya, Puslitbang Hortikultura pada tahun 2018 melakukan demplot/percontohan teknologi inovatif bawang merah, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai tanaman alternatif untuk mengungkit kesejahteraan petani.

Adapun Teknologi inovatif yang didemplotkan berupa varietas unggul Bima, Trisula dan Batu Ijo; serta penggunaan biji (TSS) dan umbi sebagai benih bawang merah. Demplot dilakukan di lahan petani dengan melibatkan kelompok tani yang didampingi oleh teknisi yang berpengalaman menangani bawang merah. Luasan demplot seluruhnya sekitar hampir 1 ha.

Semua pekerjaan mulai dari persiapan lahan sampai panen dilakukan oleh kelompok tani. Demplot dilaksanakan oleh kelompok tani Irigasi Baru di desa Laleten, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka (lahan kering dataran rendah) pada waktu tanam on season (Maret sampai Agustus).

Selama pelaksanaan demplot terlihat bahwa pertanaman bawang merah tumbuh kurang seragam antar varietas, tetapi dalam varietas terlihat lebih seragam. Dari hasil demplot juga didapatkan hasil di desa Laleten, kecamatan Malaka Barat ini ternyata cukup sesuai untuk pengembangan bawang merah dalam skala luas.

Hal ini didasarkan dari hasil demplot yang menunjukkan bahwa  beberapa varietas bawang merah yang diuji mampu berproduksi cukup baik (sekitar 8 – 10 ton/ha) walaupun belum optimal.

Strategi lainnya

Selain melakukan demplot pertanaman bawang merah, juga dilakukan kajian sosial ekonominya untuk mendukung keberlanjutan pengembangan bawang merah di Kabupaten Malaka.

Beberapa hasil kajian sosial ekonomi antara lain para petani Kelompok Irigasi baru masih belum berpengalaman dalam budidaya bawang merah, tingkat pendidikan petani umumnya masih rendah, modal petani masih sangat terbatas, permintaan pasar bawang merah cukup tinggi karena masih didatangkan dari  Rote dan Kupang. 

Karena itu, untuk mewujudkan sentra produksi bawang merah di Kabupaten Malaka ini, maka perlu di dukung oleh program pengembangan bawang merah secara berkesinambungan oleh pemerintah (pusat dan daerah).

Program berkelanjutan tersebut antara lain adalah pelatihan budidaya dan pascapanen bawang merah bagi para petani, pemberian subsidi benih dan sarana produksi, serta pembinaan penangkar benih untuk menciptakan swasembada benih bermutu (bersertifikat) untuk kabupaten Malaka dan sekitarnya.

Reporter : M. Jawal, Rima Setiani, Nirmala dan Puspitasa
Sumber : Puslithorti
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018