Friday, 05 June 2020


Pakai Campuran Pestisida Nabati ini, Cabai Terhindar dari Patek

21 May 2020, 20:27 WIBEditor : Gesha

Patek cabai | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta - Antraknosa atau patek merupakan salah satu Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) utama yang menyerang cabai di Indonesia. Tapi petani di Sleman, Yogyakarta punya ramuan jitu berupa pestisida nabati agar cabainya terhindar dari penyakit ini.

Penyakit antraknose disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici. Pertumbuhan cendawan tersebut dipicu oleh kondisi lembab serta suhu relatif tinggi. Selain mengakibatkan penurunan hasil, penyakit ini juga dapat merusak estetika cabai. 

Janu Riyanto, petani di Kabupaten Sleman, Yogyakarta berbagi tips untuk mengatasi OPT ini. Dia menggunakan pestisida nabati sebagai solusinya mengendalikan Antraknosa. "Bahan pestisida nabati yang digunakan adalah bawang putih 5 siung, air kelapa 1 buah, putih telor 2 butir dan tetes tebu 50 ml," ujar dia.

Cara membuatnya pun sederhana, bawang putih hanya perlu ditumbuk halus, kemudian dicampurkan dengan bahan lain, dan setelah itu disaring sebelum diaplikasikan. Hasil saringan tadi dicampurkan ke dalam air sebanyak 1 tangki (16 lter) dengan dosis 200 ml, kemudian semprotkan pada tanaman cabai pada pagi hari. 

"Penggunaan pestisida nabati di ulangi setiap 10 hari sekali, untuk lebih efektif dapat disemprotkan pada saat cabai berumur 50 hari sampai selesai panen," beber dia. 

Sebagai informasi, penyakit antraknosa ini menyerang buah cabai yang masih muda, antara lain melalui luka akibat lalat buah. Gejala serangannya berupa noda lekukan berwarna hitam kelam pada buah cabai, dan dapat pula pada batang serta ranting - rantingnya. 

Pada serangan yang berat dapat merusak tanaman cabai dan buahnya sehingga tidak dapat panen. Penyakit ini dapat ditularkan melalui benih (biji) yang ditanam (seed borne). Biji cabai yang terserang penyakit ini biasanya berkerut dan berwarna kehitaman-hitaman.

Direktur Perlindungan Hortikultura Kementan, Sri Wijayanti Yusuf mengatakan, pestisida nabati merupakan salah satu bahan pengendali OPT ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk mengendalikan Antraknosa. 

Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan oleh Istifadah, et al. pada tahun 2017, diantara ekstrak air bahan yang diuji, ekstrak bawang putih menghasilkan zona penghambatan yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak lengkuas, ekstrak sirih, dan campurannya.

"Diduga karena senyawa yang terkandung dalam umbi bawang putih lebih toksik terhadap Colletotrichum spp. Selain itu, senyawa dalam ekstrak air bawang putih tersebut dapat terdifusi dalam medium lebih baik daripada bahan yang lain sehingga jangkauan untuk menghambat pertumbuhan miselium patogen juga lebih besar," ungkap Sri. 

Dia menyatakan bahwa dalam budidaya ramah lingkungan petani harus sudah mengurangi pemakaian pestisida kimia sintentik, dan mulai menggunakan bahan pengendali ramah lingkungan. 

Hal ini sejalan dengan program Direktorat Jenderal Hortikultura yaitu Gerakan Mendorong Peningkatan Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan yang dikenal dengan tagline Gedor Horti. 

 

"Tentunya kita harapkan produksi yang dihasilkan aman konsumsi dan bebas dari residu pestisida. Ini sebagaimana arahan Bapak Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo,Red)," pungkasnya.

Reporter : Kontributor
Sumber : Ditjen Horti
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018