Friday, 05 June 2020


Begini Rahasia Biar Mangga Gedong Gincu Montok

22 May 2020, 17:09 WIBEditor : Gesha

Buah mangga Gedong Gincu yang berasal dari model perbaikan (kiri) dan dari model petani (kanan) di Indramayu | Sumber Foto:Puslitbang Hortikultura

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Gedong Gincu termasuk salah satu varietas mangga yang sudah sangat dikenal baik untuk pasar ekspor maupun pasar dalam negeri sehingga sangat diandalkan sebagai sumber pendapatan masyarakat. Sayangnya ukuran buah mangga gedong gincu hingga sekarang tidak seragam bahkan cenderung kecil. Bagaimana caranya biar ukurannya seragam. 

Di daerah sentra produksi mangga Gedong Gincu (Majalengka, Cirebon, Kuningan, dan Indramayu), populasi mangga gedong gincu terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan populasi ini karena adanya penanaman baru dan penggantian  tanaman mangga lokal dengan mangga Gedong Gincu.

Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Ditjen Hortikultura bersama ACIAR (Pemerintah Australia) diketahui bahwa masyarakat konsumen mangga di Hongkong menilai bahwa mangga Gedong Gincu memiliki aroma baik, rasa cukup manis dan berserat banyak, namun ukuran buahnya terlalu kecil.

Konsumen disana menginginkan mangga yang rasa, warna dan aromanya seperti Gedong Gincu tetapi berukuran besar seperti Arumanis. Untuk meningkatkan ekspor mangga Gedong Gincu ini perlu dilakukan perbaikan terutama ukurannya menjadi sebesar  Arumanis. 

Peningkatan ukuran buah mangga Gedong Gincu dapat dilakukan antara lain melalui pendekatan  budidaya dengan menerapkan teknologi budidaya agar tanaman dapat memberikan hasil yang optimal. Teknologi budidaya yang diperlukan untuk pembesaran ukuran buah antara lain adalah pemupukan, pengairan dan penjarangan buah. 

Pemberian pupuk merupakan upaya penyediaan hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk mendukung pembentukan dan pertumbuhan buah. Pemberian air terutama setelah pemupukan akan dapat melarutkan unsur-unsur hara yang terkandung di dalam pupuk sehingga mudah diserap oleh tanaman, dengan demikian tanaman tersebut akan dapat menyediakan hara yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan buah hingga mencapai ukuran yang maksimal.

Penjarangan buah pada fase awal setelah pembentukan buah akan dapat mengurangi terjadinya kompetisi hara antar buah yang sedang tumbuh membesar di dalam satu tanaman. Dengan demikian, buah yang disisakan akan dapat memperoleh hara yang cukup untuk mencapai ukuran maksimal. 

Lebih Montok

Ketiga cara tersebut telah dilakukan penelitiannya oleh Puslitbang Hortikultura di sentra produksi mangga gedong gincu, yaitu Majalengka dan Indramayu dengan membandingkan model petani dan model perbaikan (yaitu model petani yang diperbaiki). 

"Perbaikan meliputi pemberian pupuk dan air. Pupuk yang diberikan adalah pupuk NPK (15:15:15) sebesar 2-3 kg/pohon. Pupuk diberikan 2 kali, yaitu sebelum tanaman berbunga dan setelah tanaman membentuk buah. Pupuk kandang diberikan bersamaan dengan pupuk buatan sebelum tanaman berbunga sebanyak 30–40 kg/pohon," ungkap peneliti utama dari Puslitbang Hortikultura, M. Jawal Anwarudin Syah.

Pemberian pupuk dilakukan dengan membuat larikan melingkar seputar tajuk tanaman dan pupuk ditaburkan dalam larikan kemudian ditutup kembali. Setelah  pemupukan, dilakukan penyiraman secukupnya seminggu 2 kali agar pupuk yang diberikan lebih mudah dan lebih banyak yang terserap oleh tanaman. 

Hasil penelitian di Majalengka dan Indramayu menunjukkan bahwa model pengelolaan kebun mangga yang diperbaiki melalui pemberian pupuk (pupuk kandang dan pupuk NPK) serta penyiraman rutin yang dilakukan setiap minggu 2 kali dapat meningkatkan ukuran dan bobot buah mangga secara nyata dibandingkan dengan buah mangga Gedong Gincu yang dikelola oleh petani.

"Ukuran buah mangga Gedong Gincu di Majalengka pada model perbaikan dapat mencapai panjang rata-rata 9,24 cm dengan diameter 7,87 cm dibandingkan dengan ukuran buah mangga pada model petani yang hanya mencapai panjang rata-rata 8,14 cm dengan diameter 7,28 cm (panjang buah meningkat sebesar 13,51 persen, diameter buah meningkat sebesar 8,25 persen)," bebernya.

Sedangkan bobot buah mangga Gedong Gincu pada model perbaikan mencapai berat 315,74 gram sedangkan pada model petani hanya 248,67 gram atau meningkat sekitar 26,97 persen. Sedangkan di Indramayu juga menujukkan pola yang relatif sama, yaitu model perbaikan dapat menghasilkan buah mangga yang ukuran dan bobotnya lebih tinggi daripada buah mangga yang dihasilkan dari model petani. 

Ukuran buah meningkat dari panjang 7,61 cm dengan diameter 6,93 cm menjadi 8,04 cm dengan diameter 7,17 (panjang buah meningkat sebesar  5,62 persen dan diameter buah meningkat sebesar 3,50 persen), sedangkan bobot buahnya meningkat dari 184,44 gram menjadi 213,25 gram atau meningkat sebesar 15,62 persen.

Peningkatan yang terjadi pada model perbaikan di Indramayu ini tidak sebesar peningkatan yang terjadi di Majalengka. Hal ini mungkin disebabkan karena selain lokasi yang berbeda juga pemberian pupuk yang dilakukan agak terlambat, yaitu pada saat tanaman sudah masuk fase bunga mekar, sedangkan di Majalengka diberikan pada tanaman menjelang berbunga. 

Karena itu, secara umum ukuran dan bobot buah mangga Gedong Gincu yang ada di Majalengka lebih besar daripada mangga Gedong Gincu dari Indramayu. Hal ini mungkin karena adanya perbedaan kondisi lingkungan dari kedua kabupaten tersebut.

Sebenarnya hasil penelitian ini tidak hanya mampu memperbesar ukuran dan bobot buah mangga Gedong Gincu, tetapi juga perlakuan pemupukan dan penyiraman yang rutin ini mampu mengurangi kerontokan buah. 

Pada model petani jumlah buah yang rontok cukup banyak  sedangkan pada model perbaikan tidak terlalu banyak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk menjelang berbunga dan setelah berbunga yang disertai dengan penyiraman yang rutin 2 kali seminggu mampu meningkatkan bobot buah mangga Gedong Gincu sebesar 15 – 27 persen Selain itu juga bisa mengurangi kerontokan buah sehingga hasil panen bisa lebih tinggi.

Terkait dengan program pemerintah untuk meningkatkan ekspor komoditas buah melalui progran GRATIEKS (Gerakan tiga kali ekspor), maka pemerintah perlu memberikan insentif atau subsidi kepada para kelompok tani untuk menerapkan inovasi pemupukan dan pengairan secara rutin agar ukuran buah mangga bisa lebih besar dan tingkat kerontokan buah berkurang.

Insentif tersebut sebaiknya berupa penyediaan air melalui pompanisasi / saluran irigasi lengkap dengan sistim irigasi sampai ke lahan / tanaman. Apabila hal ini bisa direalisasikan maka peningkatan ekspor buah termasuk mangga dan manggis akan dapat meningkat dan target Gratieks dapat tercapai. 

Reporter : M.Jawal, Joko M, Adhitya, dan Aprilaila
Sumber : Puslitbang Hortikultura
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018