Monday, 10 August 2020


Jurus agar Cabai Tak Terserang OPT saat Kemarau

10 Jun 2020, 13:40 WIBEditor : Yulianto

Tanaman cabai rawan terserang hama penyakit saat musim kemarau | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Cabai merupakan salah satu komoditas strategis hortikultura. Berbagai jenis cabai dapat dijumpai hampir di seluruh Indonesia. Namun, bukan perkara mudah untuk membudidayakan, terutama antiispasi terhadap serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

OPT merupakan salah satu kendala terhadap kersediaan cabai, terutama pada masa sulit air atau kemarau. Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyampaikan, salah satu kunci keberhasilan produksi cabai yaitu monitoring serangan OPT agar dapat dikendalikan. Selain itu, petani bisa menerapkan budidaya cabai ramah lingkungan yang biaya produksinya lebih rendah.

“Petani tidak harus membeli pestisida dan pupuk kimia yang mahal harganya. Produk cabai yang dihasilkan juga lebih sehat, lebih lama daya simpannya, dan aman dikonsumsi,” ujar Prihasto di Jakarta, Rabu (10/6).

Prihasto memaparkan, Kementerian Pertanian dibawah komando Syahrul Yasin Limpo (SYL) tetap mendorong dan memacu jajaran di Kementan untuk lebih giat  dalam  penerapan teknologi pertanian. Ini dilakukan sebagai upaya pengelolaan OPT. “Tujuannya tak lain untuk memastikan ketersediaan cabai untuk tetap aman dan terjaga,” kata Anton-sapaannya-.

Informasi dari BMKG, pada Mei dan Juni sebagian besar wilayah Indonesia (wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan bagian Timur dan Papua bagian Utara) akan memasuki musim kemarau. Puncaknya akan terjadi pada Agustus.

Keadaan kemarau ini menurut Anton, tentunya akan sangat berpengaruh terhadap berkurangnya ketersedian air untuk kebutuhan tanaman. Biasanya terjadi kekeringan dan berpengaruh terhadap peningkatan serangan hama. “Maka dari itu penting untuk memperhatikan betul penanaman cabainya,” ujarnya.

Gejala Terserang Hama

Kepala BPTPH Jawa Barat, Ajat Sudrajat menyatakan, berdasarkan Angka Tetap (ATAP) 2019 produksi cabai besar di Jawa Barat mencapai  2.639.492 kwintal. Atau berkontribusi sebesar 22 persenterhadap produk cabai besar nasional.  “Maka dari itu menjadi keniscayaan bagi kami harus amankan pertanaman di lapangan dan memastikan bisa berproduksi secara optimal,” kata dia. 

Adapun upaya yang dilakukan yaitu dengan melakukan pemantauan lapangan terkait intensitas serangan OPT. OPT yang menyerang cabai di Jawa Barat pada musim kemarau antara lain trips, kutudaun dan virus kuning. “Kami saat ini terus melakukan monitoring intensif,” tegas dia.

Kepala Laboratorium Pengamat Hama dan Penyakit (LPHP) Cianjur, Budi mengatakan, sebaiknya petani atau pelaku usaha mengenal OPT cabai di musim kemarau bisa dilihat dari gejala serangannya. Gejala serangan trips ditandai dengan permukaan bawah daun berwarna keperak-perakan mengkilat.

Pada serangan lanjut daun akan berwarna coklat, menjadi keriting dan keriput. Pada serangan berat daun, pucuk serta tunas menggulung keatas, daun mengecil timbul benjolan seperti tumor, kerdil bahkan pucuk mati. “Serangan pada buah menyebabkan permukaan buah kasar berwarna kecoklatan,” jelas dia.

Sementara gejala serangan tungau ditandai dengan perubahan bentuk daun menjadi abnormal seperti daun menebal dan warna menjadi tembaga/kecoklatan, terpelintir, menyusut serta keriting, tunas dan bunga gugur. Gejala serangan virus kuning ditandai dengan warna kuning terang pada daun tanaman yang terinfeksi, tulang daun mengalami pemucatan dimulai dari daun-daun pucuk.

Selanjutnya tulang daun akan menebal dan menyebabkan daun menggulung ke atas, daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah. Penyebab virus adalah serangga vektor kutu kebul. Karena itu yang perlu dikendalikannya adalah vektornya.

Budi menambahkan, pengendalian OPT trips dan kutu kebul sebagai vektor virus kuning dapat dilakukan secara ramah lingkungan. Diantaranya, penggunaan perangkap likat sebanyak 40 buah/ha.

Selain itu bisa dengan penanaman tanaman penghalang (barrier) seperti jagung di sekeliling pertanaman cabai (5-6 baris) dengan jarak tanam yang rapat 15-20 cm. tanaman jagung ditanam 2-3 minggu sebelum tanam cabai dan penanaman cabai dengan kubis atau tomat secara tumpang sari.

“Di wilayah Jawa Barat  dalam pengendalian OPT, sebagian petani sudah menerapkan pengendalian OPT yang ramah lingkungan, namun penggunaan pestisida kimia juga masih dilakukan,” ungkap dia.

Menyikapi merebaknya OPT cabai di musim kemarau, Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf,  mengajak dan menghimbau petani untuk terus menggunakan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan dalam mengendalikan OPT.

Harapannya produksi yang dihasilkan aman konsumsi dan jika menggunakan pestisida kimia perlu memperhatikan prinsip enam tepat yaitu tepat sasaran, mutu, jenis pestisida, waktu, dosis dan konsentrasi, serta cara penggunaan,” tuturnya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018