Wednesday, 21 October 2026


Manisnya Pasar Nenas Madu Pemalang di Timur Tengah

17 Jun 2020, 16:09 WIBEditor : Yulianto

Nenas madu Pemalang tembus pasar Arab Saudi

TABLOIDSINARTANI.COM, Pemalang----Pandemi Covid-19 memang menyebabkan lesunya berbagai sektor. Tidak hanya di Indonesia, melainkan dunia internasional mengalami guncangan.

Namun, di tengah kelesuan ini, petani nenas Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang membawa kabar baik. Petani berhasil memasarkan produknya hingga ke Jeddah, Arab Saudi sebanyak 12 ton nenas segar senilai Rp176 juta.

Saat dikonfirmasi melalui sambungan telefon, Selasa (16/6), Siti Rokhamah, staf Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang mengatakan, saat ini di Kabupaten Pemalang terdapat sekitar 1.500 hektar (ha) lahan nenas. Lokasinya di kaki Gunung Slamet tepatnya Desa Belik dan Desa Beluk, Kecamatan Belik.

“Kesesuaian wilayah dengan kondisi lahan dan agroklimat menjadikan nenas Madu Belik ini dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik,” kata Siti.

Petani nenas di wilayah ini tergabung dalam Kelompok Tani Bulu Arja yang diketuai Rain Mustofa dengan luasan lahan sekitar 40 ha. Sementara Kelompok Tani Sumber Rejeki II diketuai Tarsono seluas 10 ha.

Siti menjelaskan, harga nanas madu di Kabupaten Pemalang berada dikisaran Rp 4.000 – 4.500/buah untuk kelas A. Sedang kelas B kisaran Rp 3.000-3.500/buah dan Rp 2.500/buah untuk kelas C.

Tidak hanya memproduksi nanas segar, petani nanas di Kabupaten Pemalang juga telah memproduksi nanas olahan berupa dodol nanas, kripik, stick nanas dan koktail nanas. Produk pangan olahan nanas tersebut kedepannya diharapkan dapat pula menembus pasar mancanegara.

Penerapan GAP

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengapresiasi petani nenas madu Pemalang yang produknya dapat menembus pasar Timur Tengah. Pria yang akrab di panggil Anton mengatakan, bila budidaya nenas dilakukan dengan mengacu pada standar yang ada, maka akan diperoleh hasil yang signifikan. “Sehingga nenas yang dipanen dapat memenuhi kriteria pasar terutama pasar global,” katanya.

Anton mengharapkan dengan adanya ekspor nanas di Kabupaten Pemalang dapat menjaga keberlangsungan pendapatan petani di tengah pandemi. Bahkan menjadi contoh bagi petani nenas daerah lain. “Terutama untuk lebih meningkatkan produksi dan kualitasnya menjadi lebih baik,” tambahnya.

Direktur Buah dan Florikultura, Ditjen Hortikultura, Liferdi Lukman mengatakan, pihaknya terus mendorong dan mengingatkan petani agar tetap melaksanakan budidaya yang sesuai Good Agricultural Practices (GAP) dan Standar Operasional Prosedur (SOP). Dengan demikian, hasilnya sesuai tuntutan pasar, terutama pasar ekspor baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Sesuai arahan Menteri Petanian Syahrul Yasin Limpo, untuk selalu berkomitmen dalam menggenjot ekspor produk pertanian termasuk komoditas pertanian hortikultura terutama buah-buahan, Liferdi mengaku saat ini fokus dan berkomitmen dalam meningkatkan produksi dan kualitas/mutu buah-buahan tropis unggulan.

“Utamanya yang berpotensi ekspor seperti manggis, mangga, pisang, nenas, salak, buah naga dan durian dengan berbagai program dan melibatkan seluruh stakeholders terkait,” lanjut dia.

Selama ini, menurut Liferdi, nenas Indonesia yang diekspor adalah jenis Smooth Cayenne dari Lampung dan Subang. Namun, jika nenas madu jenis Queen asal Pemalang ini bisa diekspor, maka merupakan suatu terobosan baru.

“Kami berharap keberhasilan petani nenas Kabupaten Pemalang yang telah menembus pasar Timur Tengah ini dapat diikuti petani nenas di daerah lainnya. Bahkan jangan hanya puas untuk masuk pasar Timur Tengah, kami berharap nenas segar Indonesia juga mampu menembus pasar internasional lainnya seperti China dan Eropa,” tutup Liferdi optimis.

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018