Thursday, 06 August 2020


Teknologi Soyblok Sider, Bantu Petani Tanam Bawang Merah TSS

28 Jun 2020, 08:11 WIBEditor : Yulianto

Teknologi Soyblok Sider bantu petani tanam bawang merah TSS | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta----Kementerian Pertanian mendorong petani bawang merah untuk beralih menggunakan biji (True Shallot Seed/TSS) dibanding umbi sebagai benih. Budidaya TSS dinilai lebih efisien dan menguntungkan bagi petani. Untuk memudahkan persemaian, petani bisa menggunakan teknologi Soyblok sider.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan, selain faktor harga yang terjangkau, produktivitasnya juga lebih bagus ketimbang umbi.  “Memang butuh upaya ekstra dibanding menggunakan benih umbi. Waktunya relatif lebih panjang kurang lebih 1,5-2 bulan dibandingkan menggunakan umbi,” ujarnya.

Keunggulan lainnya penggunaan benih TSS adalah produksinya lebih tinggi dibanding menggunakan umbi. Misalnya, budidaya bawang merah benih TSS di Kabupaten Malaka. Sebelumnya belum pernah ada petani yang menanam bawang merah. Mereka kemudian mencoba mengimplementasikan benih TSS. Cara penanamannya masih sangat sederhana sekali, jadi benihnya hanya ditabur tanpa disemaikan dulu.

“Karena tanahnya subur, hanya menggunakan pupuk kandang sekitar 7-10  ton itu bisa menghasilkan sekitar 20 ton per hektar dan hasilnya besar-besar. Sampai saya bawa sampelnya ke kantor,” ungkap Anton seraya mengungkapkan, tiap kg kurang lebih berisi 18-20 umbi.

Dari kisah sukses tersebut, lanjut Anton, petani bisa mengambil pelajaran bahwa sekalipun waktunya lebih lama, tapi produksinya cukup tinggi. Dari segi biaya, jauh lebih rendah, memang semua ada plus minusnya.

Anton menyadari bahwa salah satu tantangan dari pengembangan TSS adalah mendorong petani untuk membuat penangkaran. Menurutnya, tak sedikit petani memilih acar instans dengan menggunakan umbi.

“Solusinya, ketika petani memang tak mau membuat penangkaran (bibit), ya harus memperbanyak penangkar-penangkar di tiap daerah. Mereka nantinya yang meng-cover kebutuhan petani,” katanya.

Terkait ini, Anton mengungkapkan ihwal teknologi soyblok sider semasa dirinya bertugas sebagai Kepala BPTP Provinsi Jawa Tengah. Teknologi ini dinilai mampu memberikan solusi.  “Menurut saya itu teknologi yang sangat sederhana, cepat. Apalagi yang kita inginkan dari inovasi itu lebih mudah, lebih cepat, dan lebih baik,” katanya.

Menurutnya, dengan soyblok sider atau semacam alat cetak media tanam, setiap hari persemaian bisa menghasilkan antara 26-30 ribu persemaian setiap hari. Tenaga kerja cukup 3 orang. Ada yang mencetak, ada yang memasukkan benih, ada yang menyiapkan olahannya.

“Untuk bawang merah, satu hektarnya kurang lebih membutuhkan 18 ribu umbi per hektar. Itu tenaga kerja hanya dengan 3 orang dalam waktu satu hari,” jelasnya seraya berharap adanya teknologi yang tepat guna bisa dengan mudah diaplikasikan. “Kita hitung tingkat kegagalannya juga lebih rendah, di bawah dua persen,” ujarnya.

Senada, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha menyebut pihaknya terus memacu produksi bawang merah, terutama di bulan-bulan yang diprediksi mengalami neraca defisit. Salah satu caranya budidaya bawang merah dengan TSS.

Berdasarkan Early Warning System, secara kumulatif produksi nasional bawang merah mencukupi kebutuhan selama setahun. Hanya di bulan-bulan tertentu, pasokannya perlu diantisipasi sejak dini, terutama di Bulan Oktober hingga Desember 2020.

"Kalau sudah begini, perlu intervensi teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas. Salah satu caranya,  kita alihkan petani menggunakan benih (bawang merah) biji,” jelas Tommy.

Sebagai realisasinya, Kementan bakal fokus untuk seluruh kawasan bawang merah yang difasilitasi APBN tahun ini seluas lebih dari 1.000 ha untuk menggunakan benih biji.  Terlebih saat ini harga benih umbi, khususnya jenis Bima Brebes dinilai sangat tinggi hingga mencapai lebih dari Rp 70 ribu/kg."Jika (harga) benih segitu maka akan berimbas ketingginya biaya produksi dan tentu berdampak ke harga jualnya nanti,“ kata Tommy.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018