Thursday, 01 October 2020


Sempat Gigit Jari, Petani Cabai Kota Kretek Kembali Tersenyum. Ini Penyebabnya.

28 Jun 2020, 15:17 WIBEditor : Yulianto

Cabai petani di beli Pemda dan Organisasi Mahasiswa Daerah, harga cabai kembali naik | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Kudus---Sempat gigit jari, karena harga cabai di tingkat petani terjun bebas. Petani di Kota Kretek, Kudus, kini kembali tersenyum.  Apa yang membuat petani tersenyum dan kembali bersemangat menanam cabai?

Di tengah pandemi Covid-19 dan transisi era new normal, petani di  Kecamatan Kaliwungu, khususnya Desa Blimbing Kidul, Gamong dan Sidorekso justru resah. Ditingkat petani, harga cabai hanya berada pada kisaran 10.000/kg dan ditingkat konsumen Rp12.000-15.000/kg.

Turunnya harga tersebut menurut pengakuan Muhlisin, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Rejo Mulyo Desa Sidorekso, karena sulitnya pengiriman cabai luar daerah. Padahal saat panen biasanya cabai dipasarkan ke beberapa kabupaten lainnya seperti Pemalang, Cirebon, Bandung dan Jakarta.

“Karena imbas Covid-19 ini membuat pengiriman terbatas hanya di daerah Kudus, padahal hasil panen berlimpah. Selama ini melonjaknya harga cabai tak lepas dari tingginya permintaan dari luar daerah,” ungkapnya.

Anjloknya harga cabai membuat petani sempat khawatir. Paslanya, harga tersebut hanya setara ongkos panen. Penghasilan yang diperolehnya pun tidak sepadan dengan biaya tanam dan perawatan yang telah dikeluarkan. ”Namun kami tetap optimis dan semangat dalam melakukan produksi dan panen,” tegas Turaikhan salah satu anggota Poktan Sumber Rejeki di Desa Gamong. 

Rasa semangat dan optimisme tersebut bangkit ketika ada kebijakan dari Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto memberikan arahan agar semua ASN yang ada di lingkungan SKPD untuk membeli produk sayuran, terutama cabai dari petani.

“Penyuluh di Kabupaten Kudus wajib mendukung dan mengawal petani dalam setiap olah, tanam dan panen, seperti yang tengah terjadi saat ini, bahwa penyuluh harus hadir mendampingi petani,” katanya.

Guna membantu mengatasi anjloknya harga cabai di tingkat petani, Alumni Mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang tergabung dalam Organisasi Mahasiswa Daerah (Omda) Keluarga Kudus Bogor- Menara Kota pun ikut turun tangan.

Omda langsung membeli cabai petani yang semula 10.000/kg dibeli dengan harga Rp 20 ribu/kg. Hasil penjualan sebanyak 140 kg sepenuhnya dipergunakan membantu masyarakat yang terkena dampak Covid 19 seperti buruh tani, peternak, buruh harian, tukang becak, dan pedagang kecil berupa paket sembako dan bibit tanaman (terong, cabai, pepaya dan kangkung).

Luasan panen cabai yang ada di desa tersebut secara berurutan yaitu Desa Blimbing Kidul 2 ha, Desa Gamong 3 ha dan Desa Sidorekso 3 ha dengan rata-rata produktivitasi 1,2 ton/ha. Petani di ketiga desa tersebut melakukan panen seminggu bisa dua kali.

Menteri Pertanian  Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu menegaskan masyarakat untuk tidak perlu khawatir soal pangan, sejumlah 11 komoditas bahan pokok yang salah satunya cabai akan terus dikawal secara intens. Sinergi antara petani dan pihak terkait untuk menjamin mata rantai bisnis di sektor pertanian, salah satunya komoditas hortikultura terus dijalin Kementan. 

Bahkan Sekretaris Jenderal Kementan Momon Rusmono, pihaknya menyiapkan tiga strategi dalam menjaga stok pangan. Strategi tersebut meliputi  jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. "Untuk jangka pendek, kalau ada masalah segera selesaikan. Amankan produksi dan ketersediaan kebutuhan pangan minimal sampai Mei-Agustus 2020,"  katanya.

Selaras dengan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa. Karenanya, petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen.

“Hal ini membuktikan pertanian tidak berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian maupun swadaya diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” papar Dedi.

Reporter : Ok Setyanto/Yeniarta (BBPP KETINDAN)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018