Monday, 21 September 2020


Pengendalian Hama Ramah Lingkungan Dongkrak Ekspor Mangga

06 Jul 2020, 07:59 WIBEditor : Yulianto

Pengendalihan hama pada buah mangga secara ramah lingkungan | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) lalat buah skala luas dapat menekan keberadaan hama yang bisa mengganjal ekspor mangga Indonesia. Komitmen dan sinergi semua pihak sangat dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan upaya tersebut.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengekspor mangga. Permintaan di pasar global pun tinggi.

Namun, saat ini pangsa (share) Indonesia masih sangat kecil. Setiap tahun pasar mangga internasional mencapai 2 juta ton. Sementara ekspor mangga Indonesia saat ini baru sekitar 3.000 ton. “Salah satu masalahnya adalah hama lalat buah,” jelas pria yg akrab disapa Anton saat Virtual Literacy (Viral) Seri Perlindungan  Hortikultura, Kamis (2/7).

Menurut Anton, khusus untuk pasar Jepang, ada kebutuhan sekitar 20.000-30.000 ton mangga per tahun. Saat ini, Indonesia masih dalam proses pemenuhan persyaratan teknis untuk ekspor mangga ke Jepang. Mangga Indonesia yang diminati oleh pasar Jepang adalah Gedong Gincu.

Anton menyatakan, negara tujuan ekspor mangga seperti Jepang, Australia dan Republik Korea sangat takut dengan lalat buah dari Indonesia, karena ada jenis lalat buah di Indonesia yang tidak terdapat di negara tersebut. Lalat buah itu menjadi Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK) bagi mereka. 

Karena itu, Anton meminta agar semua pihak bersinergi dalam mengendalikan hama lalat buah. Di samping itu, dia berharap sanitasi kebun  mangga dapat ditingkatkan. Selain itu, upaya pengelolaan hama lalat buah harus tetap ramah lingkungan.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf menjelaskan, berdasarkan Undang-undang (UU) No 13 tahun 2010 tentang Hortikultura dan UU No 22 tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan, pengelolaan hama harus dilakukan secara ramah lingkungan sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Penerapan PHT lalat buah skala luas adalah sebuah gerakan yang harus mendapat dukungan semua pihak, baik dari petani, pemerintah, maupun masyarakat umum di kawasan tersebut.  Selain itu, juga harus dilakukan serentak dan berkesinambungan.

“Karena lalat buah ini terbang-terbang. Jadi tidak bisa hanya dilakukan hanya 10 hektar, dia nanti terbang ke tetangganya,” ujar wanita yang biasa disapa Yanti ini.

Yanti menyatakan, PHT tidak bisa mengandalkan pestisida atau bahan kimia. Pasar ekspor sangat ketat dengan Batasan Maksimum Residu (BMR) pestisida.  Jika melewati BMR, maka komoditas tersebut dipastikan tidak bisa diterima negara tujuan.

Perangkap hama

Pakar hama dari UGM, Dr Suputa menyatakan, PHT lalat buah skala luas pada mangga dapat dilakukan menggunakan perangkap beratraktan (zat penarik) berbahan aktif Metil Eugenol. Penggunaan perangkap ini dapat menurunkan intensitas serangan lalat buah hingga 60%.

Saat ini, PHT lalat buah skala luas dengan menggunakan perangkap beratraktan sedang diaplikasikan di areal pertanaman mangga Gedong Gincu seluas 400 ha. Lokasinya di Kabupaten Cirebon, Indramayu, Sumedang, Majalengka dan Kuningan.

Ketua Asosiasi Petani Mangga Kabupaten Sumedang, Inta Suminta, menyatakan sejak PHT lalat buah skala luas diberlakukan dan memanfaatkan perangkap beratraktan, serangan lalat buah terus menurun.  “Biasanya dulu dalam 1 perangkap bisa ada 190 ekor lalat buah per hari. Kini hanya ada 2,1 ekor per perangkap per hari,” katanya.

Berkat itu, kualitas buah menjadi lebih baik. Petani dapat menikmati harga yang lebih baik pula. “Petani antusias karena  ingin mendapat harga yang lebih baik. Petani juga bangga kalau mangga yang dihasilkan bisa diekspor ke luar negeri,” katanya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018