Saturday, 26 September 2020


Tangkal OPT Cabai dengan Tumpangsari Jagung

10 Jul 2020, 20:10 WIBEditor : Yulianto

Tumpang sari cabai-jagung bisa menangkal OPT | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Salah satu pekerjaan rumah (PR) petani saat membudidayakan cabai adalah serangan hama dan penyakit. Bahkan serangan organisme penganggu tumbuhan (OPT) terjadi tak mengenal waktu, baik musim hujan maupun kemarau.

Kebiasaan petani yang masih menanam cabai secara monokultur, cenderung kurang menguntungkan secara ekonomi karena harga cabai yang relatif tidak stabil. Selain itu juga rentan terhadap serangan OPT karena tersedianya inang yang cukup dan terus menerus.

Penggunaan pestisida untuk mengusir OPT juga bukan jawaban yang tepat. Kini ada jawaban terhadap PR petani itu. Tumpangsari cabai dengan tanaman lain terbukti dapat mengurangi risiko serangan hama dan penyakit. 

Salah satu contoh adalah tumpang sari cabai dengan jagung yang dapat bersifat repelen (penolak) terhadap hama kutu kebul sebagai vektor virus kuning. Penelitian yang dilakukan Retno Wikan, fungsional POPT Direktorat Perlindungan Hortikultura, tahun 2018 menunjukkan tanaman jagung dapat menghasilkan senyawa tertentu untuk menolak kutu kebul.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan produksi cabai rawit yaitu dengan penerapan budi daya tumpang sari cabai rawit-jagung. Keuntungannya, selain biaya produksi menjadi lebih rendah, juga meningkatkan ketahanan cabai terhadap penyakit.

“Petani pun tidak harus membeli pestisida kimia yang mahal harganya," ujarnya. Selain itu, kata Anton sapaannya akrab Prihasto, produk cabai yang dihasilkan juga lebih sehat dan lebih lama daya simpannya dan aman dikonsumsi.

Petani Rasakan Manfaatnya

Petani cabai rawit di Desa Karanggambas, Kecamatan  Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah telah meraskaan manfaat pola tumpangsari cabai dengan tanaman lainnya. Bahkan mereka menggunakan pola tanam padi-jagung-cabai.

Penanaman padi dilakukan terlebih dahulu. Jerami padi yang telah dipanen digunakan sebagai mulsa untuk budidaya tumpangsari jagung dan cabai rawit yang ditanam selanjutnya.

Jika jagung sudah dipanen, batangnya tetap dibiarkan berdiri dan digunakan sebagai ajir tanaman cabai, sehingga dapat bermanfaat, efisien dan berkelanjutan. Praktik tumpangsari tersebut telah lama dilakukan petani setempat. Selain bermanfaat mengurangi biaya produksi, ternyata juga dapat mengurangi serangan OPT cabai. 

Pola tanam cabai dengan jagung juga dilakukan di Desa Kibang, Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur. Kelompok tani Jaya Abadi yang diketuai Tukiran telah mencoba pola tanam tumpangsari cabai-jagung. "Tanaman jagung ditanam terlebih dahulu, kemudian setelah dua bulan baru ditanam cabai di sela-sela tanaman jagung," jelasnya.

Tukiran optimis setelah satu bulan kemudian jagung akan panen. Setelah jagung dipanen, batang jagung dibiarkan setinggi 1-1,5 meter yang nantinya difungsikan sebagai ajir tanaman cabai.

Kepala UPTD BPTPH Provinsi Jawa Tengah, Herawati Prarastyani menceritakan, dengan tumpangsari cabai-jagung, biaya pengolahan tanah dapat ditekan, karena sudah dilakukan diawal penanaman jagung dan masih dapat untuk pertanaman cabai.

Petani tidak perlu membeli mulsa plastik. Sebab, jerami dan daun serta sisa bagian tanaman jagung yang dipanen dapat digunakan sebagai mulsa dan pupuk untuk pertanaman cabai. Selain itu, biaya untuk pembelian ajir juga tidak ada, karena sudah memakai batang tanaman jagung,” ujar Hera.

Menurut Hera, petani umumnya lebih senang menggunakan varietas jagung dengan batang yang kuat. Lebih tahan kekeringan pada musim kemarau, sehingga mengurangi biaya pengairan.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf mengungkapkan dalam budidaya pengelolaan OPT harus dilakukan berdasarkan prinsip PHT. Sarana dan bahan pengendali yang digunakan juga harus ramah lingkungan.

"Harapannya, kita dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia sintetik. Pengalaman petani yang sudah sukses menerapkan tumpangsari cabai - jagung ini, harus disampaikan dan ditularkan ke kelompok tani lainnya,” katanya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018