Sunday, 29 November 2020


Semangka Inul, Paket Hemat Saat Pandemi Covid-19

18 Jul 2020, 07:05 WIBEditor : Ahmad Soim

Semangka Inul | Sumber Foto:Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor - Ukuran buahnya yang kecil dan berbentuk lonjong menarik untuk dipegang dan dibawa. Apalagi setelah dibelah, warnanya merah menarik selera untuk menyantapnya.

Itulah semangka Inul atau semangka Pepaya hibrida. Dinamakan semangka papaya karena ukurannya sebesar pepaya. Semangka  oval dengan warna kulit hijau tua dan memiliki berat buah sekitar 2,5 kg hingga 3,5 kg ini penampilannya unik. 

Di Bogor buah ini dijual Rp 8 ribu per kg. “Hemat untuk ukuran kantong selama Pandemi Covid-19. Satu buah bahkan ada yang hanya 1 Kg. Uang Rp 10 ribu sudah dapat satu buah semangka,” kata Ifah, Ibu Rumah Tangga di Bogor.

 Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dalam pembudidayaan semangka inul dibanding papaya jenis lainnya.  Di antaranya,  mampu menghemat lahan karena ukuran panjang tanamannya lebih pendek dari semangka bulat.   Usia panen  1 minggu lebih cepat daripada semangka bulat. Perawatan  lebih mudah, peluang bakal buah yang positif jadi lebih besar. Satu tanaman bisa   membesarkan 2-3 buah sekaligus.

Semangka inul sudah bisa dipanen pada umur 50 hari. Buah yang matang ditandai dengan gagang buah yang mulai mengering. Tanamannya akan mati setelah melewati usia panen.

Produktivitasnya, rata-rata 8,35 ton/ha. Harga semangka inul di tingkat petani Rp 3.000/kg, sedangkan di tingkat konsumen Rp 5.000/kg. Rata-rata bobot per buah sekitar 2,3 – 3,5 kg.

Penentuan harga ditentukan besar kecilnya bobot buah. Jika bobot lebih dari 2 kg masuk grade A. Untuk ukuran 1.5-2 kg masuk grade B, dan Grade C di bawah 1 kg dan bentuk buah tidak beraturan.

Bila petani bisa menghasilkan papaya Inul 8 ton per ha, dengan harga Rp 5 ribu per kg, maka mereka mendapatkan hasil penjualan sebesar Rp 40 juta hanya dalam waktu 50 hari. 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018