Thursday, 06 August 2020


Permintaan Ekspor Tinggi, Ungkit Manisnya Agribisnis Pisang

24 Jul 2020, 17:57 WIBEditor : Yulianto

Potensi pasar ekspor pisang cukup besar. Siapa berminat | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pisang merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang kaya ragam varietas dan jenisnya di Indonesia. Potensi produksinya cukup besar dan dapat dikonsumsi sebagai karbohidrat pengganti nasi.

Pisang juga dikenal sebagai buah yang lezat dan berkhasiat bagi kesehatan, mudah didapat dan harganya terjangkau.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, peluang pasar ekspor untuk komoditas pisang terbuka lebar. Karena buah ini sangat diminati masyarakat dan diyakini mampu meningkatkan kekebalan tubuh.

Permintaan ekspor pisang saat ini masih banyak, namun diakui, ketersediaannya belum bisa tercukupi, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan produksi pisang. Bahkan untuk permintaan dalam negeri juga masih banyak, terutama sebagai bahan diversifikasi pangan.

Banyak negara di Amerika Latin menjadikan pisang sebagai teman makan steak. Kalau di Indoenesia sendiri, di Sulawesi Selatan, bukan hal yang aneh pisang menjadi menu pokok,” katanya.  

Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura, Liferdi Lukman mengatakan, ekspor pisang tahun 2019 menunjukkan nomor tiga terbesar setelah manggis dan nanas. Perkembangan ekspor terbesar pada 2017 yakni hingga 7 juta ton.

Liferdi mengatakan, untuk meningatkan produksi pisang, pihaknya mendorong pengembangan kawasan yang diharapkan juga berorientasi ekspor. “Sehingga semua elemen berkontribusi untuk meningkatkan produksi. Kawasan gedor horti pisang, berfungsi juga untuk diversifikasi pangan guna menurunkan ketergantungan terhadap konsumsi beras,” papar Liferdi.

Inovasi teknologi

Kepala Balai Penelitian Buah Tropika, Ellina Mansyah mengatakan, pisang memiliki potensi dan daya saing yang tinggi dalam mengisi pasar domestik dan ekspor. Inovasi teknologi berperan dalam peningkatan produksi pisang.

Pada 2018 produksi pisang termasuk terbesar diantara tujuh jenis komoditas buah lainnya. Dalam hal konsumsi per kapita, Indonesia menduduki tempat tertinggi yakni 10 kg/kapita per tahun setelah papaya dan jeruk.  Dalam nilai ekspor, pisang juga menempati posisi nomor dua setelah nanas.

Ellina menambahkan, selain program peningkatan konsumsi per kapita, Kementan juga memiliki  program lain yaitu peningkatan ekspor tiga kali lipat (GraTiEks). Harapan peningkatan ekspor juga tak hanya untuk pisang segar, namun juga untuk produk olahan pisang.

Diakui, masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan yakni terkait kualitas, kuantitas, kontinuitas dan ketelusuran atau disebut 4K. Karena itu, arah perkembangan dan strategi perkembangan pisang ini perlu didukung perluasan area, teknologi perbenihan atau jumlah benih yang cukup.

Ellina juga mengingatkan pentingnya dukungan teknologi budidaya, pengendalian OPT, penanganan pasca panen dan packing house serta penerapan GAP untuk menjamin ketelusuran. Sebab untuk mendukung ekspor perlu ada kepastian kualitas, kontinuitas, kualitas, ketelusuran dan peran GAP.

Produksi pisang bermutu dan berkualitas, tentu faktor utamanya adalah petani pisang. Di tangan petani, pisang yang layak dijual dan memiliki kontinuitas produksi perlu didukung berbagai pihak,” katanya.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018