Wednesday, 21 October 2026


Petani Kulonprogo Rintis Budidaya Bawang Merah Ramah Lingkungan

05 Aug 2020, 15:31 WIBEditor : Yulianto

Bawang merah Kulonprogo

TABLOIDSINARTANI.COM, Kulonprogo--- Pemerintah saat ini mendorong produk pertanian ramah lingkungan, termasuk juga komoditas bawang merah. Salah satu daerah yang kini mengembangkan budidaya bawang merah ramah lingkungan adalah Kulonprogo.

Kabupaten Kulonprogo merupakan salah satu kabupaten sentra bawang merah di Provinsi DI Yogyakarta. Beberapa kecamatan sentra bawang merah yaitu Kecamatan Sentolo, Panjatan, Lendah, Wates dan Galur. 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulonprogo, Aris Nugrohi menyampaikan, bahwa Tahun 2020 Kabupaten Kulonprogo menargetkan lahan bawang merah seluas 700 hektar.

“Sampai Juni, luas tanam bawang merah sudah mencapai 308 hektar. Pada tahun 2019 produksi bawang merah di Kabupaten Kulon Progo mencapai 6.135 ton dengan luas areal tanam seluas 616 hektar,” kata Aris. 

Lebih lanjut Aris mengatakan, untuk mendukung program tersebut, selain perluasan, pihaknya juga akan mengintensifkan pembinaan dan pengawasan terhadap proses penanaman bawang merah, termasuk penerapan budidaya bawang merah ramah lingkungan.

PPL Kecamatan Lendah Kabupaten Kulonprogo, Sri Hartati menyampaikan, petani bawang merah di Kecamatan Lendah baru mulai merintis budidaya ramah lingkungan di tahun 2020 ini. Total luas lahan bawang merah di Kecamatan Lendah ada 20 ha dan sekitar 20 persen atau 4 hektar mulai merintis budidaya ramah lingkungan di Desa Bumirejo Kecamatan Lendah Kabupaten Kulonprogo.

“Kelompok tani bawang merah yang baru merintis penerapan budidaya ramah lingkungan adalah Kelompok Tani Setyo Tuhu di Dusun Bonosoro Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta," kata Sri. 

Senada dengan pernyataan Sri, Ngadiran Petugas Pengendali OPT (POPT) Kabupaten Kulonprogo menjelaskan, penerapan budidaya bawang merah ramah lingkungan baru dirintis dengan memasang likat kuning dan feromon sex. Untuk monitoring dan menekan populasi hama ulat bawang dipasang perangkap feromon sex sebanyak 20 buah per ha. 

"Termasuk mengaplikasikan pupuk organik pada pemupukan dasar dan menanam tanaman refugia di sekitar lahan untuk meningkatkan jumlah musuh alami, terutama parasitoid dan predator pada pertanaman," jelas dia. 

Produktivitas bawang merah Kelompok Tani Setyo Tuhu dapat mencapai 15 ton per ha. Saat ini, harga bawang merah basah di tingkat petani sekitar Rp 15.000 per kg. Dengan bermodalkan biaya produksi sekitar Rp 100 juta per ha, petani dapat mengantongi keuntungan sekitar Rp 125 juta per ha.

“Sampai saat ini OPT yang menyerang tanaman bawang merah hanya ulat bawang (Spodoptera exigua) dengan tingkat serangan yang masih ringan dan masih dapat dikendalikan dengan pengendalian “cap jempol” atau pengendalian secara mekanik yang dilakukan dengan cara mengumpulkan kelompok telur dan larva S. exigua (pembutitan) lalu memusnahkannya yang dilakukan pada umur 7 - 35 hari setelah tanam," jelas Ngadiran.

Sementara itu Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto dalam keterangannya, Rabu (5/8) menyatakan dukungannya terhadap upaya produksi bawang merah ramah lingkungan. 

“Pasar global menuntut produk hortikultura yang berkualitas dan aman konsumsi. Preferensi konsumen sudah mulai mempertimbangkan bagaimana proses produk dihasilkan. Karena itu budidaya ramah lingkungan menjadi suatu keharusan, " ujar Anton, sapaan akrab Dirjen Hortikultura.

Menurut Anton, ini sebagaimana arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang menuntut sektor pertanian tetap berproduktif di tengah pandemi Covid-19. Hal itu juga berlaku bagi petani bawang merah. 

“Walau dalam kondisi pandemi Covid-19, pertanian harus maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan," tegasnya

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf mengatakan, pihaknya merekomendasikan kepada seluruh petani untuk mengaplikasikan agens pengendali hayati, pestisida nabati, likat kuning, feromon dan penanaman refugia dalam pengendalian OPT, serta selalu melakukan monitoring pada pertanaman bawang merah. Dengan demikian serangan OPT dapat dikendalikan dan tidak sampai mengganggu produksi dan mutu produk bawang merah.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018