Saturday, 19 September 2020


Ini Alasan Petani Probolinggo Tanam Bawang Merah TSS

07 Aug 2020, 20:03 WIBEditor : Yulianto

Amar Maruf, petani bawang merah asal Probolinggo | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Probolinggo---Budidaya bawang merah dengan biji  (true shallot seed/TSS) kini menjadi pilihan bagi petani di Probolinggo, Jawa Timur. Ada beberapa alasan mengapa petani akhirnya menjatuhkan pilihan menanam bawang merah dengan cara itu.

Ketua Poktan Sedap Malam 3, Desa Mentor Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Amar Ma’ruf mengatakan, ada beberapa kelebihan budidaya bawang merah TSS. Pertama terbebas dari penyakit yang berasal dari seed born deaseas. Kedua, tidak adanya masa dormansi bibit yang biasanya terjadi pada umbi di awal pertanaman.

“Kalau budidaya bawang merah TSS setelah mencapai umur fisiologis di pembibitan langsung dilakukan kegiatan pindah tanam. Hal ini mengurangi resiko stres pada bibit bawang merah,” katanya.

Kelebihan ketiga menurut Amar, perawatan setelah pindah tanam lebih mudah. Selain itu,  jika dibandingkan bawang merah umbi, maka  biaya produksinya lebih ekonomis.

Namun diakui, budidaya bawang merah dengan benih TSS membutuhkan waktu lebih lama dari pada budidaya menggunakan bibit dari umbi bawang merah. Rata rata waktu yang dibutuhkan mulai pembibitan sampai panen mencapai 115 HSS (hari setelah semai). Dengan rincian kegiatan 35-40 hari pembibitan dan 75 hari penanaman hingga panen.

“Jika dilihat dari sisi produksi bawang merah jenis TSS lebih unggul baik produktivitas maupun fisiologis umbi lebih besar. Bahkan warna umbi lebih merah mengkilat dan aroma yang tajam,” tutur Amar.

Keberhasilan Amar membuat petani lainnya tertarik membudidayakan bawang merah TSS. Salah satu pertimbangan lain petani menanam bawang merah TSS adalah harga bibit bawang merah umbi kini lebih mahal dari pada bibit hasil pembibitan bawang merah TSS. Hal inilah yang menjadi dasar petani untuk lebih memilih membudidayakan bawang merah TSS,” katanya.

Karena makin banyaknya pesanan bibit bawang merah TSS dari petani, bahkan hingga di luar kecamatan membuat Amar Ma’ruf menambah luasan rumah bibit. Jika awalnya hanya membuat rumah bibit untuk pembibitan bawang merah TSS di lahan seluas 100 m2 (untuk pembibitan setengah kg benih), maka kini ia menambah luas rumah bibit bawang merah TSS menjadi 400 m2 ( untuk 2 kg benih). 

Amar berharap agar petani bawang merah, khususnya di Kabupaten Probolinggo terus mengembangkan budidaya bawang merah. “Bagaimanapun caranya dengan biaya produksi minimal, tapi produktivitas bawang merah meningkat dan umbinya lebih besar, sehingga harga bawang merah tetap tinggi,” ungkapnya.

Sempat gagal

Amar Ma’ruf sebenarnya telah memulai budidaya bawang merah sejak tahun 2010. Tahun 2018 ia mencoba mengembangkan bawang merah dari benih TSS, tetapi terkendala tingginya harga benih tersebut.

Namun pada tahun 2019 sejalan dengan program peningkatan produksi padi jagung kedelai cabe dan bawang merah (Pajalebabe), Amar mendapatkan bantuan benih bawang merah TSS dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo untuk dikembangkan di wilayahnya.

Dari bantuan tersebut, Amar mencoba mengembangkan bawang merah TSS yang diawali dengan pembuatan rumah bibit. Namun karena kurang kokohnya bangunan rumah bibit, saat hujan cukup lebat rumah bibit tersebut roboh.

Sempat gagal diawal pembibitan, tidak menyurutkan semangat Amar untuk terus membudidayakan bawang merah TSS tersebut.  Selama kegiatan pembibitan ini, Poktan Sedap Malam 3 yang didampingi Andriani Ari Susanti, Penyuluh Pertanian BPP Sumberasih Kabupaten Probolinggo.

Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu sentra produksi bawang merah di Jawa Timur. Data statistik menunjukkan tahun 2018 produksi bawang merah kabupaten tersebut mencapai 50.632 ton dengan luas lahan pertanaman sebesar 7.416 ha.

Sementara tahun 2019 tercatat sebanyak 56.060 ton dengan luas lahan pertanaman sebesar 7.234 ha. Produktivitas bawang merah mengalami peningkatan signifikan dari 6,8 ton/ha pada tahun 2018 menjadi 7,75 ton/ha pada tahun 2019.

Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan selalu mengingatkan agar semua pihak memastikan ketersediaan pangan di seluruh tanah air, baik ketersediaan barang pangan maupun ketersediaan akses untuk mendapatkannya.

“Penyuluh wajib mendampingi petani untuk menggenjot produksi, sama-sama turun ke lapangan, sama-sama tanam, olah tanah, panen, mengolah hasil panen, mendistribusikan hasil panen, sehingga petani mendapat penghasilan yang layak,” tuturnya.

Selaras dengan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedy Nursyamsi mengatakan, pentingnya mengoptimalkan fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) melalui Kostratani.

BPP berfungsi sebagai pusat pembelajaran untuk penyuluh dan petani, pusat gerakan pembangunan pertanian, pusat konsultasi agribisnis dan pusat pengembangan jejaring kemitraan. Tentunya menjadi center of excelent semua aktivitas pertanian.

Reporter : Ari Susanti/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018