
Tabulampot
TABLOIDSINARTANI.COM - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan kajian “Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Ekonomi Rumah Tangga Indonesia”. Kajian tersebut dilakukan secara daring (online) dengan melibatkan 2.258 rumah tangga responden di 32 provinsi pada 10-31 Juli 2020. 1.548 responden di antaranya memenuhi syarat untuk dianalisis sebagai sampel, perinciannya 79,7 persen berstatus rumah tangga pekerja dan 20,3% rumah tangga usaha.
Merujuk pada survei tersebut diketahui bahwa 87,3% rumah tangga usaha dan 64,8% rumah tangga pekerja mengalami kesulitan keuangan selama Pandemi Covid - 19 ini. Riset tersebut juga mendapati bahwa rumah tangga pekerja yang mengalami kesulitan finansial lebih terdampak dalam memenuhi kebutuhan konsumsi pangan daripada rumah tangga usaha dengan persentasenya, rumah tangga pekerja 52,9?n rumah tangga usaha 37,8%.
Sektor pertanian di tengah kesulitan finansial akibat pandemic covid-19, tumbuh dan menjadi “tulang punggung” perekonomian nasional. Pertumbuhan di sub sektor tanaman pangan sebesar 9,23%, subsektor hortikultura baru meningkat sebesar 0,86%, sub sektor perkebunan sebesar 0,17%, dan sub sektor peternakan menurun sebesar -1,83%.
Pertumbuhan subsektor hortikultura pada periode sebelumnya tergolong tinggi yaitu 6,06% pada kuartal II 2019 dan sebesar 2,25% di kuartal I 2020. Capaian tersebut masih bisa dioptimalkan mengingat hortikultura menjadi kebutuhan primer, seperti komoditas bumbu dapur untuk pelengkap pangan hingga buah-buahan dan empon-empon (biofarmaka) guna meningkatkan imunitas.
Menggeliatkan Hortikultura
Salah satu upaya untuk menggeliatkan subsektor hortikultura adalah mendorong penananam buah secara intensif di lahan lahan sempit, di antaranya dengan teknologi budidaya buah dalam dalam pot. Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Kemenerian Pertanian, Dr. Liferdi Lukman, membuat estimasi tabulampot yang dikembangkan di desa/kelurahan dengan 30.000 kepala keluarga (KK)–setiap KK menanam 20 pohon kelengkeng–dapat menghasilkan omset Rp 18 miliar pada panen di tahun pertama.
Kemudian, mensosialisasikan pentingnya konsumsi buah dan sayur untuk peningkatan gizi dan kekebalan tubuh, mengingat nilai konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia masih jauh di bawah Jepang. Hal ini yang menggambarkan preferensi perilaku konsumsi buah dan sayur oleh penduduk Jepang jauh lebih besar dibandingkan nasi, hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia.
Berikutnya adalah memotong rantai distribusi dan memberikan bantuan tepat guna komoditas strategis kepada petani agar harga sayur dan buah terjangkau. Pangkalnya, rendahnya pendapatan per kapita menjadi salah satu faktor kecilnya tingkat konsumsi buah dan sayur di tanah Air.
Selain itu, fokus dalam mengembangkan komoditas strategis dan meningkatkan kualitasnya melalui budidaya ramah lingkungan. Sehingga, arah pembangunan terorientasi secara struktur dan masif. Dengan demikian, energi dan sumber daya yang “dipertaruhkan” tidak begitu besar, tetapi hasil yang diperoleh maksimal.
Berdasarkan data BPS 2019, Indonesia memproduksi 24.394.107 ton buah, dimana pisang sebesar 30%, mangga sebesar 12%, jeruk sebesar 10%, nanas sebesar 9%, durian sebesar 5%, pepaya sebesar 4%, dan buah-buahan lainnya sebesar 30%.
Sedangkan sayur-mayur, Indonesia telah memproduksi 12.772.982 ton. Perinciannya, bawang merah sebesar 12%, cabai rawit dan kubis masing-masing sebesar 11%, cabai besar dan kentang masing-masing sebesar 10%, tomat sebesar 8%, serta komoditas lain sebesar 38%.
Untuk produksi komoditas biofarmaka sebesar 619.561.674 kg, terdiri dari kunyit sebesar 31%, jahe sebesar 28%, kapulaga sebesar 12%, kencur dan temulawak masing-masing sebesar 5%, serta lain-lain sebesar 19%. Adapun komoditas florikultura telah diproduksi sebesar 898.895.815 tangkai, mencakup krisan sebesar 52%, mawar sebesar 24%, sedap malam sebesar 14%, gerbera sebesar 3%, dan lain-lain sebesar7%.
Riset dan Penyuluhan
Dukungan riset dan inovasi sektor pertanian diperlukan untuk melahirkan varietas unggul, peningkatan produktivitas dan perbaikan kualitas produk serta keberlanjutan ketersediaan. Ini perlu menjadi perhatian mengingat alokasi anggaran untuk riset dan pengembangan di Tanah Air masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, termasuk di sektor pertanian.
Pendampingan dan penyuluhan kepada para petani akan menjadi strategi katalisator. Upaya ini memiliki peran vital karena petani merupakan motor penggerak utama sektor pertanian.
Tanaman hias (florikultura) pun berpeluang menjadi penjaga daya tahan ekonomi lantaran sebagian masyarakat masih bertahan beraktivitas di dalam rumah saat pelonggaran diizinkan pemerintah pada masa adaptasi kebiasaan baru (new normal).
Menurut Psikolog Ratih Zulhaqqi, berkebun dapat menimbulkan efek kepuasan tersendiri dan memberikan kebahagiaan. Manfaat lainnya, menjadi alternatif kegiatan Bersama dengan anggota keluarga dibandingkan bermain gawai.
Tanpa mengecilkan dampak pandemi Covid-19 terhadap tatanan kehidupan masyarakat, tetapi jika seluruh strategi yang terukur, terencana, dan sistematis dilakukan dengan baik dan optimal niscaya mampu kembali mengangkat wibawa sektor pertanian dan khususnya sub sektor hortikultura Indonesia di kancah global.