Monday, 19 October 2020


Kembangkan Pisang Bajo, Sukabumi Incar Pasar Negeri Jiran

02 Sep 2020, 11:43 WIBEditor : Yulianto

Pisang Barangan Jumbo potensial menembus pasra ekspor | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi ---Sebagai salah satu sentra utama penghasil pisang di Jawa Barat, Kabupaten Sukabumi berupaya mendorong pengembangan pisang yang memiliki daya saing di pasar ekspor. Salah satu jenisnya adalah pisang Barangan Jumbo (Bajo).

Karena itu berbagai upaya dilakukan Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi untuk meningkatkan daya saing baik melalui dana APBN/APBD. Misalnya, fasilitasi kegiatan ekstensifikasi, intensifikasi, bimbingan teknis, pemberdayaan kelembagaan, dan menjalin kemitraan antara kelompok tani dengan pelaku usaha.

Pisang Bajo, selain digemari dalam negeri juga punya prospek pasar ekspor cukup baik, khususnya ke Malaysia, sehinga perlu dikembangkan. Melihat potensi tersebut Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi tahun ini mencoba melaksanakan pengembangan barangan jumbo dalam tahap demplot dengan luasan 2 hektar (ha) di Desa Warung Kiara, Kecamatan Warung Kiara.

Pengembangan varietas tersebut bekerja sama dengan PT. Caraka Prima Sakti dalam memfasilitasi benih kultur jaringan. Sementara sarana produksi seperti pupuk dan lainnya difasilitasi APBN 2020. Pada 2020 Kabupaten Sukabumi mendapat alokasi kegiatan APBN pengembangan kawasan pisang seluas 30 ha, 28 ha pisang Raja Bulu dan 2 ha Barangan Jumbo (Bajo).

Pada acara Rembug Tani, Rabu (26/8), dilakukan penandatangan kerja sama antara Kelompok Tani penerima bantuan dengan PT. Caraka Prima Sakti. Acara juga diisi dengan serah terima benih pisang yang diikuti acara penyerahan kartu tani kepada petani. Sekretaris Daerah Sukabumi, Iyos Somantri menyampaikan pada 2021 akan memperbaiki saluran jaringan irigasi di Kecamatan Warung Kiara untuk megoptimalkan kebutuhan air pada saat kemarau.

Secara terpisah Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto sangat mengapresiasi kegiatan ini. "Kita harapkan ini akan terus berlanjut sehingga akan meningkatkan produksi pisang berskala ekspor. Sukabumi selama ini dikenal dengan pisang ambon, tanduk, raja dan lainnya, nantinya juga akan dikenal sebagai penghasil pisang bajo,"  ujar pria yang akrab dipanggil Anton ini.

Anton menjelaskan, di masa pandemi ini peluang ekspor produk hortikultura tetap terbuka lebar, terutama pisang karena diyakini dapat meningkatkan imun tubuh. Saat ini permintaan ekspor pisang sangat tinggi, namun ketersediaannya belum mencukupi, terlebih permintaan di dalam negeri terutama sebagai bahan diversifikasi pangan. “Diharapkan dengan adanya pengembangan kawasan pisang ini, dapat menjawab semua permintaan akan ketersediaan produksi pisang,” katanya.

Pada kesempatan tersebut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Sudrajat menyatakan, pihaknya akan terus mengawal dan mendampingi program pengembangan kawasan pisang Barangan Jumbo. Ia juga mengharapkan kerjasama kelompok tani dengan pengusaha akan terus berlanjut dan berkesinambungan  tidak hanya saat ada program pemerintah saja.

"Kesepakatan harga pisang yang diperoleh antara kelompok tani dan PT Caraka Prima Sakti yaitu Rp 4.500 per kg. Berat 1 sisir pisang barangan Bajo antara 2 - 3 kg. Harga yang disepakati tersebut tentunya sangat menggembirakan petani," ujar Sudrajat.

Pimpinan PT. Caraka Prima Sakti Hasanudin menyakatan siap mendukung program ini dan terutama dari segi pemasaran.  “Prospek pemasaran pisang Barangan Jumbo cukup baik, terutama untuk ekspor ke Malaysia. Ke depan kami akan terus menjalin kemitraan dengan kelompok tani sampai mencapai luasan 100 ha," ujarnya.

Sementara itu Direktur Buah dan Florikultura Liferdi Lukman menuturkan kebijakan Pemerintah untuk menjadikan pertanian maju, mandiri dan modern yang dituangkan dalam Gerakan Dorong Produksi Daya Saing dan Ramah Lingkungan atau Gedor Horti. Salah satunya adalah mewujudkan pengembangan kawasan pisang yang berorientasi ekspor.

“Pisang merupakan komoditas hortikultura yang kaya akan varietas, salah satunya pisang Barangan Jumbo. Pengembangan kawasan pisang kita harapkan juga dapat mendukung program GraTiEks yaitu peningkatan ekspor tiga kali lipat sekaligus program diversifikasi pangan," tambah Liferdi.

Saat ini, kata Liferdi, pisang merupakan komoditas ekspor nomor 3 terbesar setelah manggis dan nanas. Untuk itu Ditjen Hortikultuta akan terus mendorong pengembangan kawasan hortikultura terutama buah-buahan yang berskala ekspor.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengarahkan pentingnya untuk meningkatkan daya saing produk buah nasional termasuk mampu mengisi pasar internasional. Daya saing adalah kunci utama untuk meraih pasar ekspor.

Dengan demikian, perlu dilakukan kegiatan penambahan luas tanam melalui pengembangan kawasan (eksentifikasi), tata kelola  pertanaman yang sudah ada (intensifikasi), penerapan teknologi budidaya maju ramah lingkungan (GAP/SOP).  Di samping itu, juga  fasilitasi sarana pasca panen dan jenis atau varietas pisang yang dikembangkan  yang berbasis pada kebutuhan pasar domestik maupun  ekspor.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018