Tuesday, 27 October 2020


Gairah Buah Nusantara di Tengah Pandemi

22 Sep 2020, 12:13 WIBEditor : Yulianto

Permintaan buah nusantara terus meningkat saat pandemi Covid-19 | Sumber Foto:julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pandemi Covid-19 mendorong masyarakat utnuk menjaga imun tubuh dengan makanan bergizi dan seimbang agar tidak terserang virus. Salah satunya mengonsumsi buah-buahan. Buah yang sangat diminati adalah yang rasanya asam dan mengandung banyak vitamin C seperti jeruk, manggis, mangga, jambu, nanas dan lainnya.

Banyaknya minat masyarakat membuat buah-buahan kini menjadi bahan pangan yang paling dicari saat ini. Bahkan di tengah persaingan dengan buah impor, buah dalam negeri mampu bertahan. Apalagi kini pasokan buah impor kian kurang akibat terganggunya distribusi yang berdampak pada lonjakan harga di dalam negeri.

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai toko buah di Jakarta, penjualan buah impor menurun drastis, khususnya buah asal Tiongkok. Sejak Januari hingga Februari saja, omset penjualan buah impor seperti jeruk santang, jeruk sunkis dan apel washington mengalami penurunan hingga 45-60 persen.

Berdasarkan data BPS, impor buah-buahan pada Februari pada tahun 2020 sebanyak 14,5 ribu ton. Turun 45 persen dibandingkan impor bulan sebelumnya. Jika dibandingkan bulan yang sama tahun 2019, impor buah turun hingga 54 persen.

Berkurangnya pasokan buah impor yang diikuti dengan lonjakan harga menjadi peluang buah nusantara untuk mengisi pasar. Ini mengakibatkan masyarakat beralih konsumsi buah dalam negeri apalagi buah yang sifatnya musiman kini terus ada sepanjang tahun.

Saat ini buah-buahan yang mengalami lonjakan permintaan diantaranya jambu biji, jeruk lemon, mangga, belimbing, dan alpukat. Hal karena buah-buahan tersebut kaya serat, vitamin C ,E dan antioksidan. Kandungan tersebut sangat baik untuk daya tahan tubuh yang disinyalir mampu menangkal virus korona.

Di tengah pandemi Covid-19, pemangku kepentingan di Kementerian Pertanian, terutama Ditjen Hortikultura terus berusaha mempromosikan ketersediaan buah lokal. Sejak tahun 2006, Kementerian Pertanian telah fokus melakukan pengembangan buah-buahan unggulan di Indonesia.

Kegiatannya meliputi pengembangan kawasan, pendampingan penerapan budidaya sesuai dengan kaidah GAP/SOP, fasilitasi sarana pascapanen hingga pengolahan.  Berdasarkan data BPS, tren produksi buah-buahan lokal pada kurun waktu 4 tahun terakhir terkonfirmasi mengalami peningkatan.

Pada 2019 produksi buah-buahan lokal mencapai 22,5 juta ton atau naik 4,8 persen dibanding 2018. Jadi, hampir semua jenis buah lokal meningkat produksinya. Tahun ini malah diikuti dengan peningkatan permintaan pasar.

Terbatas pasokan

Meskipun permintaan pasar international terhadap produk hortikultura saat ini sudah tinggi dan sudah memberikan sumbangan ekspor, namun hingga kini Indonesia belum bisa memenuhi permintaan karena keterbatasan pasokan. Minimnya persediaan produk hortikultura yang dapat diekspor karena beberapa kendala, baik dari hulu maupun hilir yang masih harus di benahi.

Fakta di lapangan, petani atau pelaku usaha belum bisa memenuhi kouta untuk ekspor dan masih sebatas kebutuhan dalam negeri. Melihat kondisi ini, pemerintah sudah harus memulai mengidentifikasi apa saja yang menjadi penyebab Indonesia belum bisa mendongkrak ekspor produk hortikultura.

Misalkan, komoditas produk hortikultura dijadikan sebagai prioritas yang paling utama. Apalagi melihat keunggulan daya saing produk hortikultura yang punya nilai tambah sangat tinggi dibandingkan dengan produk lain. Sehingga di tengah persaingan global, produk holtikulura bisa menjadi unggulan ekspor.

Bila serapan permintaan dalam negeri bagus dan diterima, baru go global. Artinya, peningkatan produksi tersebut harus diimbangi dengan penguatan sistem pemasarannya, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik, maupun untuk memperluas ceruk pasar ekspor.

Semoga dengan adanya kebangkitan buah nusantara dan adanya kesadaran masyarakat untuk mencintai dan mengkonsumsi produk buah lokal dapat membawa berkah buat petani buah di seluruh Indonesia, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

 

 

Reporter : Hendy Fitriandoyo (Fungsional Perencana)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018