Tuesday, 20 October 2020


Surprised ! Bawang Bombai Bisa Tumbuh di Dalam Negeri

14 Oct 2020, 16:54 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto saat panen bawang bombay | Sumber Foto:Humas Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Majalengka---Kabar gembira bagi dunia pertanian Indonesia datang dari petani Kulonprogo dan Majalengka. Di kedua daerah tersebut, tanaman bawang bombai yang selama ini diklaim hanya cocok ditanam di daerah subtropis, ternyata bisa tumbuh subur bahkan menghasilkan panenan yang bagus.

Meski masih sebatas ujicoba di lahan terbatas, hasil panen bawang bombai tersebut setidaknya memberikan secercah harapan untuk pengembangan di dalam negeri. "Ini surprised, ternyata bawang bombai bisa dikembangkan di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto saat panen bawang bombai di lahan ujicoba PT Agrosid Manunggal Sentosa, Desa Argalingga Kecamatan Argapura, Majalengka, beberapa waktu lalu (11/10).

Hasil panen petani di Kulonprogo dan Majalengka jika dikonversi mampu mencapai 40 ton/ha. Ukuran umbinya juga tidak kalah dengan bombai impor, bahkan harganya cukup kompetitif. Kita akan terus dorong dan sempurnakan pedoman budidaya dan pascapanennya supaya lebih komprehensif," ujarnya.

Anton sapaan Dirjen Hortikultura mengatakan, kebutuhan bawang bombai di dalam negeri cenderung meningkat setiap tahunnya. Penggunaan bawang bombai semakin meluas tak hanya untuk industri, hotel, restoran dan katering, namun juga banyak dikonsumsi rumah tangga.

Bahkan nilai impornya mencapai lebih dari Rp 1 triliun/tahun atau setara volume lebih dari 120 ribu ton/tahun. Impor terbanyak dari Belanda, New Zealand, India, China dan USA. Jika bawang bombai bisa dikembangkan di dalam negeri setidaknya bisa menghemat devisa dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat,” katanya.

Anton mengakui memang tidak mudah mengembangkan produk baru seperti bawang bombai mulai dari aspek budidaya hingga pemasarannya. Sebagai langkah awal Direktorat Jenderal Hortikultura mendorong produsen benih untuk mengurus proses pendaftaran varietas karena benih biji bawang bombai tersebut masih diimpor dari Belanda.

Tahun 2021, Ditjen Hortikultura berencana uji coba pengembangan bawang bombai seluas 20 ha di beberapa daerah yang memiliki kesesuaian agroklimat dan tersedia air yang cukup. Pemerintah Daerah kita ajak untuk sama-sama membantu petani mulai budidaya hingga promosi pemasarannya di daerah masing-masing,” ujarnya.

Direktur Utama PT Agrosid Manunggal Sentosa, Ayub Darmanto mengatakan, timnya telah melakukan ujicoba penanaman bawang bombai di berbagi daerah. Diantaranya, Kuansing-Riau, Majalengka, Ciamis, Lumajang hingga Kupang NTT.

Ide pengembangan bawang bombai ini menurut Ayub, sebenarnya sudah cukup lama. Beberapa tahun terakhir, pihaknya terus mencoba tanam di berbagai daerah menggunakan benih biji ON-5 dan ON-6, sampai menemukan SOP budidaya bawang bombai meski belum sempurna. Hasil panennya ternyata sangat menjanjikan. Kami optimis Indonesia bisa memproduksi sendiri bawang bombai di dalam negeri, katanya.

Sementara itu, petani bawang bombai asal Desa Donomulyo Nanggulan Kulonprogo, Sumiran mengaku senang bisa membudidayakan bawang bombai. Dirinya bersama peneliti dari BPTP Jawa Tengah sudah coba tanam bombai kuning dan bombai merah di lahan berketinggian kurang dari 100 mdpl. Penyemaian butuh 30-40 hari dan panen pada umur 90-110 hari sesudah pindah tanam.

Hasilnya ternyata bagus, bisa keluar 7 kilogram per meter persegi. Perawatannya pun relatif gampang," tuturnya. Bahkan harganya sangat menguntungkan. "Saya jual Rp 10 ribu sekilo saja sudah untung," ungkapnya senang.

Karena itu Sumiran sangat mendukung rencana pengembangan bawang bombai di dalam negeri. "Sebagai petani kami senang bisa tanam bawang bombai apalagi jika jualnya gampang dan harganya bisa dijamin stabil menguntungkan petani," tutupnya

Reporter : Humas Kementan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018