Sunday, 29 November 2020


Kembangkan Bawang Merah di Lahan Berpasir, Bantul memang Mantul  

16 Nov 2020, 21:12 WIBEditor : Yulianto

Budidaya bawang merah di lahan berpasir | Sumber Foto:Faperta UGM

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bantul---Kabupaten Bantul menjadi salah satu wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengembangkan komoditas bawang merah. Lebih mantul (mantap betul)-nya, bawang merah dibudidayakan di lahan berpasir.

Umumnya memang budidaya bawang merah dilakukan di atas tanah, namun di lahan berpasir Kabupaten Bantul cocok untuk ditanami bawang merah. Adapun kecamatan Kretek dan Sanden, menjadi  kecamatan yang banyak membudidayakan bawang merah.

Varietas bawang merah yang umumnya dikembangkan dan banyak diminati petani yakni varietas crok kuning dan tajuk.  Varietas crok kuning merupakan varietas lokal Bantul  dengan daya adaptasi yang cukup baik pada dataran rendah. Varietas ini mempunyai produktifitas tinggi dan umbi berukuran besar.

Sementara varietas tajuk merupakan varietas yang dapat beradaptasi dengan baik pada musim kemarau, memiliki aroma yang cukup kuat dengan bentuk umbi yang bulat.

Salah satu kelompok tani yang menanam varietas crok kuning dan tajuk adalah Kelompok Tani Ngudi Makmur, di Dusun Samiran, Kretek, Bantul. Beranggotakan kurang lebih 90 orang secara konsisten melakukan pertemuan dan pendampingan kepada anggotanya. 

“Produksi benih bawang merah yang diusahakan kelompok tani ini yakni varietas tajuk dan crok kuning. Dua varietas tersebut yang paling banyak diminati petani karena produktifitasnya tinggi,” ujar Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur, Sujito.

Dalam setahun, petani menanam dua kali. Pada musim tanam 1 (MT 1) menghasilkan panen umbi basah sebanyak 12- 14 ton untuk varietas crok kuning dan tajuk.  Sedangkan di musim kemarau menghasilkan panen sebanyak 20 -22 ton umbi basah. Saat ini harga benih bawang merah di Kabupaten Bantul berada pada kisaran Rp 40 – 45 ribu per kg, dengan posisi benih siap tanam (patah dorman),” katanya.

Pembina Kelompok Tani Ngudi Makmur, Kadiso mengatakan, meski varietas crok kuning dan tajuk banyak digemari petani, petani terkadang masih kesulitan mendapatkan benih, karena penanaman bawang merah tidak bisa off-season. Benih harus didatangkan dari luar daerah seperti Nganjuk (untuk varietas Tajuk). 

“Kami berharap ke depan, petani mengembangkan sendiri benihnya untuk dapat disisakan sebagai bahan tanam di musim tanam selanjutnya,” ujarnya.

Direktur Perbenihan Hortikultura, Ditjen Hortikultura, Sukarman mengungkapkan, pemerintah terus mendorong pertumbuhan produsen benih hortikultura di berbagai wilayah di Indonesia. Diantaranya pembinaan petani produsen secara kontinu, bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan BPSB setempat.

Dengan demikian kami harapkan akan tumbuh produsen-produsen benih baru yang dapat menopang kebutuhan benih di wilayah setempat,” katanya.

Sementara itu Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan Kementan akan terus mendorong kegiatan pengembangan bawang merah di berbagai wilayah untuk menjaga stabilitas pasokan.

“Tentunya kami tetap mengawal  pasokan agar aman sepanjang tahun. Adapun untuk sisi perbenihan kita dorong terus untuk menggunakan benih unggul. Kami juga kenalkan dengan penggunaan benih bawang merah dari biji  botani (TSS),” tuturnya.

 

 

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018