Saturday, 23 January 2021


Mutakhirkan Data Hortikultura, Ini Komoditas yang Masuk SPH

15 Dec 2020, 14:51 WIBEditor : Yulianto

Komoditas hortikultura yang dicatat dalam SPH | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta - Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memutakhirkan data statistik hortikultura. Pembaruan data pertanian mengikuti Peraturan Presiden No.39 tahun 2019 tentang satu data  (single data) Indonesia.

Kepala Bagian Evaluasi dan Layanan Rekomendasi, Purnomo Nugroho mengatakan, saat ini ada beberapa  penyesuaian, termasuk usulan dari beberapa direktorat teknis. Ada beberapa komoditas dari direktorat yang berubah, seperti penambahan komoditas baru ataupun menghapus komoditas yang sudah ada sebelumnya.

“Ada beberapa yang dicabut komoditasnya, ada juga yang ditambah. Jadi ada pergeseran dari sisi komoditas,” katanya. Total komoditas yang dilakukan pendataan statistiknya yaitu sayuran 26 komoditas, buah-buahan 27 komoditas, tanaman obat 15 komoditas dan tanaman hias 19 komoditas.

Komoditas yang baru dimasukkan dalam SPH mulai 2021 adalah cabai keriting serta jamur merang, tiram, dan lainnya; buah naga, kelengkeng, jeruk lemon; jeruk nipis, serai. 

Untuk tanaman hias yang masuk dalam SPH yaitu bromelia, puring, bogenfil. Sedangkan komoditas yang dikeluarkan adalah: lobak, kacang merah dan blewah; markisa, dlingo dan kiji beling.  Sedangkan tanaman hias yang dikeluarkan adalah anyelir, gladiol, adenium, euforbia, monstera, difenbahia, anturium daun dan kaladium.

Dikatakan, mulai 2021 daftar pengisian SPH ada tiga rangkap. SPH putih untuk BPS tingkat kabupaten, hijau untuk petugas dinas pertanian tingkat kab/kota dan kuning pengumpul data di kecamatan. “Kita targetkan awal Januari 2021 sudah menggunakan formulir SPH terbaru,” katanya.

Pengumpulan data tersebut lanjut Purnomo, terbagi menjadi dua periode yaitu untuk bulanan yang dikumpulkan tiap akhir bulan dan data triwulan tiap kelipatan tiga bulan.

Namun diakui, salah satu kendala dalam pengisian data ini yakni petugas belum bisa menggunakan teknologi masa kini, sehingga dalam mengisi data, petugas masih menggunakan formulir kertas. Selain itu, jumlah petugas juga masih kurang, sehingga menyebabkan keterlambatan pengumpulan data. Lokasi yang jauh juga membutuhkan petugas lebih banyak untuk mengumpulkan data yang ada,” ujarnya.

Pengisian data awal triwulan, untuk komoditas baru melakukan laporan SBS  bulanan di awal Januari. SPH triwulan di awal triwulan. “Kondisinya sama dengan akhir tahun. Kalau SBS diakhir bulan 12,” kata Kepala Sub Bagian Data dan Informasi, Widhiyanti Nugraheni.

Data Berkualitas

Sekretaris Ditjen Hortikultura, Retno Sri Hartati menambahkan, tujuan pengumpulan data ini guna menghasilkan data berkualitas. Dengan demikian, dapat diperoleh data terkini dan dipertanggungjawabkan mulai dari propinsi, kabupaten dan kecamatan.

Kami juga berkerja sama dengan Pusat Data dan Informasi Pertanian selaku wali data Kementerian Pertanian dan  Biro Pusat Statistik (BPS) selaku pembina SPH ini. Kami di sini berposisi sebagai produsen data,” ujar Retno seraya menambahkan, kegiatan pembaruan data pertanian mengikuti Peraturan Presiden No.39 tahun 2019 tentang satu data  (single data) Indonesia.

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan, komoditas yang didata statistiknya harus disesuaikan dengan lingkungan strategis pemgembangan pertanian.  Sebaliknya komoditas yang kurang memiliki kontribusi ekonomi dapat dikeluarkan.

Hal ini sebagaimana arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang terus menggaungkan pentingnya big data pertanian yang berasal dari level terendah minimal tingkat kecamatan,” katanya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018