Saturday, 23 January 2021


Efisienkan Nutrisi Tingkatkan Hasil, Hidroponik Tumpang Sari?Kenapa Tidak!

04 Jan 2021, 09:45 WIBEditor : Gesha

Pertanaman tumpang sari hidroponik kangkung-tomat | Sumber Foto:ANI

TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta -- Mungkin bagi sebagian orang, hidroponik itu hanya dilakukan monokultur. Tapi tahukah Anda hidroponik bisa dilakukan secara tumpang sari?

Uji coba hortikultura tumpang sari ini dilakukan sendiri oleh Hortikulturis spesialis hidroponik asal Yogyakarta, Dr. Ani Andayani di lahan hidroponik sistem deep flowing culture ( DFT) di rooftop/dak atas rumah miliknya.

Ani mengaku iseng dan penasaran dengan hasilnya. Sebab, hidroponik itu budidaya monokultur baik skala mini, skala kecil, skala midi, skala besar atau bahkan skala bisnis, semua secara monokultur.

Pertanaman Tumpang Sari Hidroponik Kangkung-Cabai

"Padahal, logikanya setiap tanaman membutuhkan hara nutrisi sendiri-sendiri, respon nutrisi pun pasti tidak sama, fase tumbuh kembang pun berbeda," bebernya kepada tabloidsinartani.com, Senin (4/1).

Lantas dirinya berpikir untuk mulai mencoba tumpang sari antara kangkung atau sawi yang hanya membutuhkan waktu panen 2-3 minggu, tumpang sari dengan tomat atau cabai atau melon yang bisa sampai 2-3 bulan.

Setelah menimbang dan mempelajari fisiologis tanaman tersebut, pilihan tumpang sari jatuh kepada kangkung-cabai rawit dan kangkung-tomat. Dirinya berpikir, di awal pertumbuhan tomat atau cabai, masih pendek pertanamannya dan pastinya tidak akan berebut sinar matahari untuk kebutuhan asimilasinya.

"Sedangkan nutrisinya kan sudah dialirkan satu bedengan dengan jarak tomat atau cabai sekitar 45-60 cm antar tanamannya. Makanya saya buat styrofoam nya dengan lubang tanam 15 cm masing-masing sehingga bisa untuk sawi atau kangkung yang cukup 15 cm, sedangkan tomat atau cabai 3 atau 4 kalinya," bebernya.

Ide liarnya pun berkembang dengan pertanaman zig-zag untuk cabai rawit dan tomat. "Bila cabai ditanam zigzag 45 cm dan tomat juga zigzag 60 cm maka diantaranya bisa untuk kangkung berjarak 15 cm," tuturnya 

Hasil modifikasi DFT Tumpang sari inilah yang kemudian dipraktekkan oleh Ani. Dan terus diamati pertumbuhannya hingga panen.

Hasil Panen

Kendala pertumbuhan sistem hidroponik tumpang sari ini pun diakui Ani. Mulai dari kangkung yang menguning di pucuknya dan akhirnya bisa sembuh dengan treatment plus nutrisi mikro tertentu untuk pertumbuhan vegetative tanaman tersebut.

Beberapa minggu kemudian, kangkung yang ditanam dengan cabai, maupun kangkung dengan tomat terlihat pertumbuhan yang saling berlomba. Bahkan, kangkungnya berdaun lebar-lebar lebih lebar daripada kangkung yang ditanam monokultur.

Setelah 18 hari sejak ditanam, kangkung sudah layak panen karena konon rasa dan kesegarannya paling enak antara umur panen 17 - 20 hari. "Disaat bersamaan, cabai mulai melalui tahap pembungaan (flowering), begitu juga tomat. Karenanya, saya panen secara hati-hati agar tidak mengganggu pertanaman cabai maupun tomat," tuturnya.

Beberapa hari kemudian, setelah panen kangkung Ani melihat kondisi cabai rawit dan tomat. Bahkan sudah ada cabai yang muncul buahnya, ketika itu," tambahnya.

Sehingga dari ujicoba hidroponik tumpang sari itu, Ani menyimpulkan ketika sudah dipanen kangkungnya, pertanaman cabai rawit dan tomat melanjutkan kembali fase generatifnya dan sehat.

"Jadi, cara hidroponik tumpang sari antara kangkung-cabai, maupun kangkung-tomat bisa memanfaatkan waktu, space, nutrisi dan efisiensi dalam bertanam sayuran untuk ketahanan pangan keluarga meskipun di area yang terbatas," pesannya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018