Sunday, 11 April 2021


Masalah Utama Pengembangan Agribisnis Jeruk

24 Feb 2021, 10:26 WIBEditor : Gesha

Permasalahan agribisnis jeruk | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Hingga kini belum ada satupun kawasan agribisnis jeruk dalam arti yang sebenarnya yang bisa dijumpai di Indonesia. Alasannya, karena kita tidak pernah serius dalam upaya membangun dan mengembangkan kawasan agribisnis jeruk yang sebenarnya. 

Sempat bertengger di 10 besar produsen jeruk dunia sebelum tahun 2010, kini perkembangan agribisnis jeruk di Indonesia terasa berjalan di tempat, sementara negara pesaing lainnya secara konsisten terus merangkak ke posisi lebih tinggi.  Produksi jeruk dunia yang meliputi jeruk manis (orange), keprok (mandarin, tangerine dan clementine), pamelo, grapefruit,  lemon dan nipis, pada tahun 2018 mencapai 152.5 juta ton dan lebih dari 43 persen dihasilkan oleh Brazil, China dan Amerika.  Indonesia menempati posisi 15 dengan produksi sebanyak  2,1 juta ton. 

Hingga sekarang, sentra produksi jeruk di Indonesia belum bisa disebut kawasan agribisnis jeruk karena orientasi kegiatan petani-petaninya masih fokus ke on farm  atau proses produksi dengan pemasaran yang belum terkoordinasi baik sehingga buah jeruk  yang dihasilkan antar petani relatif beragam baik performa buah maupun citarasanya.  

Pertanaman  jeruk di Indonesia juga belum berbentuk suatu hamparan tetapi merupakan kelompok kantong-kantong produksi kecil yang berdekatan tidak berbatas administrasi dan tersebar di satu wilayah beragroklimat relatif sama yang disebut daerah sentra produksi.  Kepemilikan pohon seorang petani relatif sempit dan  sangat bervariasi  bisa sekitar 50 pohon hingga ratusan atau ribuan pohon jeruk ( di luar Jawa lebih luas)  di mana 1 ha berisi 400-500 pohon jeruk.  Sentra produksi dengan luasan 500 ha bisa dimilki kurang lebih 300 – 500 petani dengan beragam latar belakang pendidikan, ketrampilan dan kondisi sosial ekonomi keluarga.  

Jika dirangkum, permasalahan yang dihadapi dalam membangun dan mengembangkan kawasan agribisnis jeruk di Indonesia adalah sebagai berikut. Pertama, walaupun 50 kabupaten dari 28 provinsi di Indonesia telah ditetapkan sebagai kawasan agribisnis Pilot project nya seyogyanya difokuskan hanya di lima zona agroklimat yang sekarang sudah ada yaitu dataran rendah kering, dataran rendah basah, dataran tinggi kering, dataran tinggi basah dan daerah pasang surut yang selanjutnya bisa menjadi percontohan pengembangan kawasan lainnya.

Kedua,  penguatan kelembagaan petani tidak didukung tenaga Pembina lapang yang mumpuni sehingga manfaat keberadaan Kelompok Tani/Gapoktan/Asosiasi  belum dirasakan sepenuhnya oleh petani anggota.   Ketiga, inovasi jeruk sudah tersedia tetapi proses adopsi teknologi anjuran berjalan lambat.  Keempat, pemasaran buah jeruk belum berpihak kepada petani produsen.  Kelima, permodalan masih membatasi gerak petani sedangkan pihak perbankan belum memberikan kemudahan pinjam yang benar benar sesuai dengan kondisi petani, Keenam, Dukungan pemda setempat tidak optimal.   Ketujuh, kebijakan pemerintah belum sepenuhnya mampu mendorong geliat bangkitnya kawasan agribisnis jeruk yang kompetitif di era global.

Sentra produksi baru bisa disebut kawasan agribisnis jeruk jika  empat  subsitem agribisnis yang terdiri dari subsistem sarana produksi, produksi, pengolahan hasil dan pemasaran serta subsistem pendukungnya yang meliputi permodalan/perbankan, pertanahan, koperasi,  instansi terkait dan aspek pendukung lainnya telah berfungsi optimal dalam satu managemen  kelembagaan petani atau asosiasi yang professional.

Pengelolaan agribisnis jeruk harus melibatkan semua petani  langsung atau tidak langsung  dalam pelaksanaan proses produksi dari hulu ke hilir. Ke depan agribisnis jeruk yang tangguh bisa melebarkan jaringannya untuk mesuplai bahan baku industri food supplement,  farmasi  dan kosmetika. 

Penguatan kelembagaan petani melalui peningkatan kapasitas managerial yang professional dan  menjadikan mandiri dalam akses teknologi, permodalan/ perbankan dan pemasaran merupakan solusinya, bahkan menjadi titik ungkit keberhasilan pembangunan agribisnis jeruk di Indonesia. Berikut ilustrasi yang menggambarkan kondisi ideal kawasan agribisnis jeruk berbasis small holders semestinya dibangun, dikembangkan dan dikelola oleh asosiasi jeruk di kawasan agribisnis target..

Reporter : Arry Supriyanto
Sumber : peneliti utama di Balai Penelitian Tanaman Je
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018