Kamis, 18 Juli 2024


Gebrakan Milenial Cilacap Tekan Margin Harga Cabai  

03 Mar 2021, 16:08 WIBEditor : Yulianto

petani cabai | Sumber Foto:Yulianto

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap--- Petani selama ini menjadi pihak yang kerap dirugikan, terutama saat memasarkan hasil panen. Begitu juga dialami petani cabai di Cilacap, Jawa Tengah yang terpaksa harus menjual kepada tengkulak.

Kabupaten Cilacap merupakan salah satu kabupaten yang masuk dalam 10 besar penyumbang produksi cabai tertinggi untuk Jawa Tengah. Potensi lahan yang subur dan cocok untuk pengembangan cabai membuat banyak petani membudidayakan cabai.

Namun selama ini, sebagian besar petani cabai Cilacap bergantung pada tengkulak.  Mereka memberikan modal usaha kepada petani cabai dengan perjanjian pertani harus menjual hasil panennya kepada tengkulak.

Penjualan melalui tengkulak dirasa tidak transparan dari sisi harga. Selisih harga yang diterima petani dengan harga di pasar mencapai Rp 15.000/kg. Rantai tata niaga yang panjang, dari petani ke tengkulak, kemudian ke pedagang-pedagang besar, dilanjutkan ke bandar dan baru ke pasar.

Untuk memutus mata rantai tersebut, petani muda yang tergabung dalam kelompok milenial  membuat gebrakan baru dalam pemasaran cabai di Cilacap. Berdasarkan latar belakang tersebut, Kelompok Tani Milenial "Karya Muda" yang merupakan bentukan dan binaan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap bersama-sama dengan PPL menginisiasi memotong rantai tata niaga cabai dari petani hingga pasar.

Mereka melakukan jual-beli cabai secara transparan dan bisa menekan margin harga. Dengan pola pemasaran dari Kelompok Tani Milenial "Karya Muda", petani mulai banyak yang mengusahakan cabainya dengan modal sendiri dan mengurangi pinjaman modal dari tengkulak.

Saat ini sudah 10 persen dari 70 petani cabai di Desa Palugon, Kec. Wanareja yang menanam cabai dengan modal sendiri dan menjual hasil panennya melalui Kelompok Tani Milenial.

Rasam, salah satu petani cabai asal Desa Palugon, Kecamatan Wanareja, Cilacap saat ditemui di lahannya mengatakan, sangat senang dengan adanya Kelompok Tani Milenial. "Saya sangat senang dengan adanya Pak Nasihin (Ketua Kelompok Milenial,red) itu,” katanya.

Menurut Rasam, jika sebelumnya menjual cabai lewat tengkulak, perbedaan harganya yang petani terima dan harga di pasar sampai Rp 15.000/kg. Setelah lewat Kelompok Tani, sebelum cabainya diangkut, petani kami sudah diberitahu harganya.

Perbedaan harganya juga hanya Rp 5.000/kg. Terkadang pembayarannya juga langsung kita terima pada waktu cabainya diambil. Kami jadi semangat tanam dengan modal sendiri," kata Rasam.

Senada dengan pernyataan Rasam, PPL Kecamatan Wanareja, Jejen membenarkan hal tersebut. Jejen menjelaskan, dengan pemasaran cabai melalui Kelompok Tani Milenial, semakin banyak petani yang menanam dengan modal sendiri.

Margin harga yang diambil Kelompok Tani Milenial hanya Rp 5.000/kg. Namun menurut Jejen, margin itu tidak sepenuhnya menjadi keuntungan Kelompok Tani, melainkan sudah termasuk ongkos angkut dan disisihkan untuk kas kelompok.

Tidak hanya itu, Jejen mengungkapkan, Kelompok Tani Milenial juga mulai mengembangkan agrowisata. Saat ini, sudah tanam cabai seluas 3 hektara. Ke depan akan mengembangkan tabulampot.

Kami juga menggandeng KWT untuk pengolahan cabai. Tidak hanya cabai segar, tapi cabai hasil sortiran dari yang dipasarkan Pak Nasihin pun dikeringkan. Jadi, tidak ada cabai yang terbuang," ujar Jejen.

Pengembangan cabai di Cilacap mendapatkan dukungan baik dari Dinas Pertanian, Ditjen Hortikultura, dan Kementerian Pertanian. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto mengungkapkan, pihaknya telah menginisiasi program "Lapak Petani".

Konsep Lapak Petani ini adalah mendekatkan konsumen akhir dengan petani, sehingga dapat turut memotong margin harga di tingkat petani dan konsumen. Lapak Petani memberikan ruang kepada petani untuk berjualan langsung ke konsumen akhir dengan sasaran pasar adalah pegawai pemda dan juga masyarakat setempat.

Lapak Petani sangat membantu petani, terlebih saat harga sedang jatuh. Program Lapak Petani ini sejalan dengan program-program yang dijalankan Kementan. Di bawah Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL),  Kementan selalu berusaha merancang program yang berpihak kepada petani. Di mulai dari sisi hulu, pendampingan budidaya hingga pascapanen.

Dessi Rahmaniar, Koordinator Kelompok Aneka Cabai Ditjen Hortikultura menyampaikan, dengan segala potensi, baik alam dan SDM yang dimiliki Kabupaten Cilacap, sangat prospektif untuk pengembangan kawasan cabai. Dukungan Ditjen Hortikultura terus mengalir guna mendukung pengembangan cabai di wilayah ini.

Saat kunjungan lapangan, Dessi juga melihat calon lokasi kampung cabai yang akan dijadikan salah satu kampung sayuran pada program Kampung Hortikultura tahun 2021. Pada 2020, Ditjen Hortikultura telah mengalokasikan bantuan fasilitasi kawasan cabai seluas 30 ha.

Sementara itu, pada 2021 bantuan fasilitasi juga dialokasikan untuk kawasan seluas 30 hektare dengan konsep pengembangan Kampung Cabai, yang mana luasannya minimal 5 hektare per kampung.

Fasilitasi lain dari Ditjen Hortikultura adalah berupa bantuan benih dari Direktorat Perbenihan Hortikultura dan sarana pascapanen, seperti dome untuk pengering cabai dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura.

"Harapan kami, bantuan tersebut bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Khususnya untuk bantuan fasilitasi kawasan atau kampung cabai agar dapat dimanfaatkan di bulan-bulan off season guna menstabilkan harga di bulan-bulan yang biasa bergejolak yakni Desember-Januari," tutur Dessi. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018