Thursday, 22 October 2026


Hasilkan Santri Tani Milenial, Al-Ittifaq Contoh Pesantren Berbasis Korporasi

17 Mar 2021, 16:58 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Hortikultura saat mengunjungo Pesantren Al Intifaq, Ciwiday

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---Untuk meningkatkan minat generasi milenial terjun ke dunia pertanian, salah satu yang Kementerian Pertanian sasar adalah pondok pesantren. Dengan potensi yang ada, pesantren dapat dikembangkan menjadi basis usaha pertanian atau agribisnis modern berbasis korporasi.

Pemerintah berharap ke depan petani Indonesia diisi generasi milenial yang berahklak mulia, yang dapat membawa pertanian lebih maju dan terdepan. Salah satu contohnya adalah Pesantren Modern Al-Ittifaq, di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat.  

Di pesantren ini, santri tidak hanya diajarkan menghafal dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, tetapi juga diajarkan bagaimana menjadi pengusaha di bidang pertanian dengan penggunaan teknologi pertanian paling mutakhir.

Saat ini, Pesantren Al-Ittifaq menjadi tempat magang atau pelatihan agribisnis dari santri, mahasiswa, dan petani yang berasal dari berbagai daerah. Tercatat hasil pertanian Pesantren Al-Ittifaq mampu menjadi pemasok di pasar lokal hingga pasar modern untuk area Bandung dan sekitarnya.

Produk yang dihasilkan dari kegiatan agribisnis mempunyai nilai keunggulan kompetitif dan komparatif, sehingga Pesantren Al-Ittifaq menjadi laboratorium dalam menumbuhkembangkan jiwa mandiri dan wirausaha santri. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan oleh Pesantren Al-Ittifaq, yaitu mencetak santri yang berakhlak mulia, mandiri dan berjiwa wirausaha.

Bahkan kegiatan agribisnis yang dilakukan pesantren ini juga mempunyai efek ganda terhadap kelangsungan proses pendidikan di Pesantren Al-Ittifaq. Hasil dari kegiatan agribisnis dapat digunakan sebagai sarana untuk pemenuhan kebutuhan warga pesantren, sehingga dapat menekan biaya produksi.

Untuk mendukung pengembangan santri milenial, Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto menyerahkan hibah bantuan berupa benih sayuran dan mobil box berpendingin roda 4. Harapannya untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing hortikultura.

"Kementan memberikan bantuan kepada Pesantren Al-Ittifaq karena pesantren ini dinilai telah berhasil mendidik para santri menjadi orang-orang yang sholeh dan sholeha, serta menciptakan santri tani yang modern dan unggul di bidang pertanian," papar Anton sapaan akrab Dirjen Hortikultura, Selasa (16/3).

Anton juga mengapresiasi santri tani yang antusias untuk bertani. Terlebih saat ini anak-anak muda justru lebih banyak yang menghabiskan waktunya bermain game. “Santri-santri di sini sangat luar biasa. Mereka bisa mengkombinasikan antara ilmu agama dan ekonomi. Lahan 1 meter persegi bisa menghasilkan Rp 750 ribu per 30 hari. Kalau punya 10 meter persegi berarti rata-rata penghasilan santri mencapai Rp 7,5 juta per 10 meter perseginya,” tuturnya.

Pimpinan Pesantren Al-Ittifaq, KH. Fuad Affandi mengucapkan terima kasih kepada Kementan yang telah memilih pesantren sebagai tempat kaderisasi petani milenial. Ulama besar Ciwidey ini memang menjadikan pesantren sebagai basis pertanian karena menyakini tanah di negeri ini sangat mudah ditumbuhi sayur dan buah-buahan segar.

"Malam kita berdzikir dan pagi kita bertani. Setiap tanah di negeri kita ini sangatlah subur. Tanam apa saja bisa tumbuh dan menghasilkan dengan cepat," ujarnya.

--

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018