Friday, 16 April 2021


Prospek Mentereng, Pemda Jabar Sarankan Milenial Pilih Tanaman Hias

28 Mar 2021, 19:56 WIBEditor : Yulianto

Pemda Jawa Barat ajak milenial terjun ke pertanian | Sumber Foto:Setiaji

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---Pemerintah Jawa Barat saat ini tengah menggaet milenial untuk terjun ke dunia pertanian. Bagi yang ingin menekuni agribisnis, disarankan menanam komoditas disesuaikan kebutuhan pasar dan kondisi lahan. Hal itu bertujuan supaya komoditas hasil petani milenial dapat terserap pasar maupun masuk pasar global.

Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (Distanhor) Provinsi Jawa Barat (Jabar) merekomendasikan tanaman hias sebagai komoditas unggulan. Selain bernilai ekonomis tinggi dan tidak memerlukan lahan luas, tanaman hias diminati pasar internasional, seperti Amerika Serika, Jerman, Korea Selatan, dan Inggris. 

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar, Dadan Hidayat mengatakan, ada 12 jenis tanaman hias yang direkomendasikan. Mulai dari homalomena merah, homalomena hijau, homalomena Papua, piper Papua, sampai  raphidophora tenuis hijau. 

"Selain memiliki peluang pasar, tanaman hias juga cukup efisien secara modal juga luas lahan," katanya.

Dadan menghitung, dengan luas green house hanya 12 meter persegi, modal usaha yang diperlukan kurang lebih Rp50 juta. Jika setiap bulan bisa menghasilkan, maka keuntungan petani milenial sekitar Rp16 juta. 

Selain tanaman hias, Distanhor Jabar merekomendasikan komoditas ubi jabar. Menurut Dadan, ubi jalar memiliki peluang pasar ekspor, domestik, dan industri yang sama besarnya.  

"Kalau ubi jalar, per satu hektare berisi 1.000 polybag. Satu polybag itu terdiri dari 12 bibit. Jadi satu hektar itu, populasinya hampir 120 bibit. Ubi jalar menggunakan polybag karena produksinya dapat lebih tinggi," ucapnya.  

Menurutnya, komoditas ini memiliki peluang pasar ekspor 30 persen, pasar domestik 30 persen, dan pasar industri olahan 40 persen. Peluang ekspornya ke Hongkong, Abudabi dan Uni Emirat Arab.

Dadan menjelaskan, bibit tanaman hias dan ubi jalan akan dipasok langsung offtaker. Untuk tanaman hias, disiapkan sekitar 250 bibit pohon induk. Pemilihan bibit pun diserahkan kepada offtaker. 

"Karena offtaker yang akan membeli kembali, pasti offtaker-nya akan memberi bibit itu yang sesuai dengan spesifikasi. Jadi kalau masalah bibit dan benih yang menyiapkan adalah offtaker-nya," tuturnya.  

Dadan menegaskan, bibit tersebut akan digaransi dan disiapkan yang terbaik. Sebab, offtaker juga harus mengisi peluang pasarnya. "Kalau bicara pasar ekspor ada 3K yang harus dipertahankan yaitu kualitas, kuantitas, kontinuitas," tambahnya. 

Selain pemberian bibit, Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar dan offtaker akan memberikan pendampingan. Tujuannya untuk memastikan proses budidaya sesuai dengan ketentuan- untuk budidaya. "Contoh untuk ubi jalar, karena  menggunakan polybag jadi tanahnya harus yang subur," kata Dadan. 

Reporter : Setiaji/Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018